JAKARTA - Kinerja perusahaan operator jalan tol terbesar di Indonesia diperkirakan akan memasuki fase perbaikan dalam beberapa waktu ke depan.
Setelah menghadapi tekanan laba sepanjang tahun lalu, prospek pemulihan mulai terlihat pada 2026, terutama seiring upaya efisiensi serta meningkatnya aktivitas mobilitas masyarakat. Kondisi ini juga memberi harapan baru bagi kinerja saham perusahaan di pasar modal.
Perusahaan pelat merah pengelola jalan tol, PT Jasa Marga (Persero) Tbk dengan kode saham JSMR, diproyeksikan memasuki periode pemulihan pada tahun buku 2026. Optimisme tersebut muncul setelah perseroan melewati fase tekanan kinerja akibat tingginya beban keuangan selama 2025.
Baca JugaJadwal Bus DAMRI Bandara YIA 6 Maret 2026 dari Jogja Sleman Lengkap
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Jasa Marga mencatatkan pendapatan sebesar Rp29,89 triliun sepanjang 2025. Nilai tersebut mengalami koreksi sebesar 5,88% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Penurunan pendapatan secara konsolidasi terutama dipicu oleh turunnya pendapatan konstruksi yang terkontraksi menjadi Rp10,07 triliun. Meski demikian, pendapatan dari sektor utama yakni tol tetap menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,41% secara tahunan hingga mencapai Rp18,15 triliun. Selain itu, pendapatan usaha lainnya tercatat sebesar Rp1,65 triliun.
Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A. Purwantono, menegaskan bahwa di tengah fluktuasi pendapatan konstruksi, fundamental bisnis perusahaan tetap berada dalam kondisi yang kuat.
“Core profit dan kinerja perseroan sepanjang 2025 terjaga stabil, didukung pertumbuhan pendapatan usaha dan EBITDA, serta penurunan beban keuangan secara konsolidasi sebagai dampak positif dari aksi korporasi equity financing di PT Jasamarga Transjawa Tol [JTT] pada kuartal IV/2024,” ujar Rivan.
Kinerja Operasional Tetap Tumbuh Stabil
Di tengah penurunan pendapatan secara konsolidasi, indikator kinerja operasional Jasa Marga masih menunjukkan tren yang cukup solid. Hal ini tercermin dari capaian EBITDA perusahaan yang mencapai Rp13,3 triliun dengan margin sebesar 67%.
Selain itu, laba inti atau core profit perseroan tercatat sebesar Rp3,7 triliun. Stabilitas laba inti ini tidak terlepas dari keberhasilan perusahaan menurunkan beban keuangan secara konsolidasi hingga 10,5% secara tahunan.
Langkah tersebut merupakan dampak dari aksi korporasi yang dilakukan perusahaan pada akhir 2024. Strategi tersebut berhasil memperbaiki sejumlah rasio keuangan perusahaan, termasuk rasio solvabilitas.
Interest Coverage Ratio (ICR) perusahaan meningkat menjadi 3,7 kali, sedangkan rasio utang terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER) tetap terjaga pada level sehat sebesar 1,2 kali.
Meski sejumlah indikator operasional menunjukkan kinerja yang stabil, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami penurunan. Laba bersih tercatat turun sebesar 19,27% menjadi Rp3,65 triliun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai Rp4,53 triliun.
Saat ini Jasa Marga masih mengukuhkan diri sebagai pemimpin pasar di sektor jalan tol nasional. Perseroan mengelola total 1.294 kilometer jalan tol yang telah beroperasi, atau sekitar 42% dari keseluruhan jaringan jalan tol di Indonesia.
Volume transaksi kendaraan juga terus meningkat. Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 1,3 miliar kendaraan melintas di ruas tol yang dikelola oleh Jasa Marga.
Optimisme Pemulihan Kinerja Pada Tahun Mendatang
Sejumlah analis pasar modal menilai bahwa tekanan kinerja yang dialami perusahaan pada tahun lalu merupakan bagian dari siklus ekspansi yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, periode 2026 diprediksi akan menjadi fase pemulihan bagi perusahaan.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa penurunan laba bersih sebesar 19,27% pada 2025 terutama dipicu oleh ekspansi infrastruktur yang cukup agresif.
"Tahun 2026 berpotensi menjadi fase pemulihan. Profitabilitas akan terdorong melalui optimalisasi ruas tol yang telah beroperasi penuh serta adanya perbaikan margin dan efisiensi pada beban pokok," ujar Wafi.
Dari sisi operasional, ia juga memproyeksikan bahwa tren trafik kendaraan pada tahun depan akan tetap tumbuh stabil. Peningkatan mobilitas masyarakat serta aktivitas logistik nasional yang terus meningkat menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut.
Selain itu, penyesuaian tarif tol secara berkala pada sejumlah ruas utama diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi kinerja perusahaan. Kebijakan ini dapat meningkatkan pendapatan secara organik tanpa membutuhkan tambahan belanja modal yang besar.
"Penyesuaian tarif akan langsung mendorong margin dan pendapatan. Ini merupakan katalis utama yang menjaga pertumbuhan laba tanpa membebani struktur modal perseroan lebih dalam," pungkas Wafi.
Prospek Saham Dan Tantangan Ke Depan
Dari sisi valuasi pasar, saham Jasa Marga dinilai masih berada pada posisi undervalued. Kondisi ini terjadi karena pasar sebelumnya telah memperhitungkan risiko tingginya liabilitas perusahaan yang sempat menjadi perhatian investor.
Namun demikian, fundamental perusahaan masih dinilai kuat, terutama dari sisi arus kas operasional yang stabil. Strategi asset recycling atau divestasi yang dijalankan perusahaan juga diyakini dapat membantu memperbaiki struktur keuangan.
Sementara itu, analis dari Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, memperkirakan pendapatan perusahaan pada 2026 berpotensi tumbuh sekitar 8% secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi pertumbuhan pada 2025 yang berada di kisaran 6%.
“Kami memperkirakan pada tahun 2026 akan terjadi peningkatan pendapatan seiring dengan penerapan tarif yang tertunda. Dampaknya akan lebih terimplikasi pada tahun depan, ditambah rencana penyesuaian tarif rutin dua tahunan di beberapa ruas lainnya,” ujar Aqil.
Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Beberapa proyek jalan tol baru mengalami keterlambatan jadwal operasional hingga akhir 2026, seperti ruas Prambanan–Purwomartani, Yogyakarta–Bawen, serta Probolinggo–Besuki.
Selain itu, perusahaan juga menghadapi persaingan dari moda transportasi umum modern seperti kereta cepat, MRT, dan LRT yang berpotensi memengaruhi volume lalu lintas jalan tol dalam jangka panjang.
Meski terdapat berbagai tantangan tersebut, mayoritas analis tetap memberikan rekomendasi positif terhadap saham perusahaan. Berdasarkan konsensus Bloomberg Terminal, sebanyak 15 dari 18 analis memberikan rekomendasi beli terhadap saham JSMR.
Target harga rata-rata dalam 12 bulan ke depan diperkirakan mencapai Rp4.772,22 per saham. Sementara itu, di lantai Bursa Efek Indonesia, saham JSMR berada di level Rp3.340 per saham hingga penutupan perdagangan Kamis, atau melemah sekitar 2,05% sejak awal tahun.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Menko Polkam Pastikan SRMA Daerah Miliki Fasilitas Sekolah dan Guru Berkualitas
- Jumat, 06 Maret 2026
Daftar Mobil Listrik Murah 2026 di Indonesia Beserta Spesifikasi Terbaru
- Jumat, 06 Maret 2026
Update Terbaru Sembako Jatim Harga Bawang Cabai Dan Elpiji 6 Maret 2026
- Jumat, 06 Maret 2026
Akulaku Finance Optimis Capai Target Penyaluran Pembiayaan Rp8,2 Triliun 2026
- Jumat, 06 Maret 2026
Berita Lainnya
Update Jadwal Lengkap KA Bandara YIA ke Stasiun Tugu Yogyakarta Hari Ini
- Jumat, 06 Maret 2026
Pelni Siapkan Dua Belas Kapal Layani Arus Mudik Lebaran 2026 dari Ambon
- Jumat, 06 Maret 2026
Jadwal Lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo Jumat 6 Maret 2026 Hari Ini Terbaru
- Jumat, 06 Maret 2026








.jpg)



