Tips Hemat Ramadan 2026 Agar Pengeluaran Tetap Terkendali dan Stabil
- Rabu, 25 Februari 2026
JAKARTA - Memasuki bulan Ramadan, banyak orang justru merasakan pengeluaran yang meningkat dibanding bulan biasa.
Padahal, secara logika frekuensi makan berkurang karena umat Islam menjalankan ibadah puasa. Namun kenyataannya, biaya belanja kerap bertambah akibat keinginan menyajikan hidangan istimewa saat sahur dan berbuka. Belum lagi tradisi buka bersama serta godaan promo menjelang Lebaran yang membuat dompet cepat menipis.
Fenomena ini menjadi perhatian Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fatkur Huda. Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya tersebut membagikan sejumlah strategi agar masyarakat tetap tenang menjalani Ramadan tanpa tekanan finansial. Ia menegaskan pentingnya perencanaan dan pengendalian diri sejak awal bulan. Dengan langkah yang tepat, Ramadan bisa dijalani secara khusyuk tanpa beban pengeluaran berlebih.
Baca JugaRagam Tradisi Menyambut dan Mengisi Bulan Ramadan di Indonesia
Berikut rangkuman tips hemat selama Ramadan yang bisa diterapkan, seperti dilansir dari laman UM Surabaya!
Belanja Besar di Awal Ramadan
Pada awal Ramadan biasanya terjadi fluktuasi harga bahan pokok. Ada komoditas yang naik, tetapi tak sedikit pula toko atau pusat perbelanjaan yang memberikan promo khusus. Momentum ini bisa dimanfaatkan secara cermat agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi tanpa membebani anggaran. Perencanaan belanja menjadi kunci utama agar tidak tergoda membeli barang di luar kebutuhan.
Fatkur menyarankan agar masyarakat membuat daftar belanja dan membeli kebutuhan sekaligus dalam jumlah besar. “Seseorang perlu membuat daftar belanja dan berbelanja dalam jumlah besar sekaligus. Ini dimaksudkan untuk menghindari kenaikan harga yang tajam di tengah Ramadan atau menjelang Lebaran,” ujarnya. Strategi ini membantu mengunci harga lebih awal sebelum terjadi lonjakan signifikan.
Dengan berbelanja dalam jumlah besar di awal, frekuensi kunjungan ke toko bisa ditekan. Cara ini juga meminimalkan risiko belanja impulsif akibat promo dadakan. Ketika daftar kebutuhan sudah jelas, pengeluaran akan lebih terkendali. Konsumen pun tidak mudah tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
Tentukan Prioritas Buka Puasa di Luar Rumah
Ramadan identik dengan silaturahmi dan kebersamaan. Undangan buka bersama datang dari teman kantor, sahabat lama, hingga keluarga besar. Meski menyenangkan, terlalu sering berbuka di luar rumah tentu memerlukan anggaran lebih besar. Biaya makanan, minuman, hingga transportasi perlu diperhitungkan dengan matang.
Fatkur mengingatkan pentingnya memilih momen secara selektif. “Karena itu, perlu meminimalkan aktivitas iftar di luar rumah. Misalnya, perlu memilih momen prioritas untuk berbuka puasa di luar rumah, seperti berbuka dengan teman kantor, teman nongkrong, rekan kerja, dan keluarga,” tambahnya. Dengan menentukan prioritas, pengeluaran tetap bisa dijaga.
Menetapkan skala prioritas bukan berarti mengurangi makna kebersamaan. Justru dengan pengaturan yang bijak, relasi sosial tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas keuangan. Pilih momen yang benar-benar penting dan memiliki nilai silaturahmi yang kuat. Cara ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kondisi finansial.
Gabungkan Menu Berbuka dan Sahur
Selain berbuka, sahur juga memerlukan persiapan menu yang matang. Tanpa perencanaan, seseorang bisa saja berbelanja dua kali untuk kebutuhan berbeda. Hal ini tentu berpotensi meningkatkan pengeluaran harian selama Ramadan. Karena itu, efisiensi dalam menyusun menu sangat diperlukan.
Solusinya adalah menyusun menu yang bisa digunakan untuk dua waktu makan sekaligus. Misalnya, memasak lauk yang dapat dihangatkan kembali saat sahur. Strategi ini membantu menghemat biaya belanja karena bahan makanan dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, risiko pemborosan bahan makanan juga dapat ditekan.
Dengan satu kali belanja dan satu kali memasak, kebutuhan berbuka dan sahur bisa terpenuhi secara efisien. Waktu memasak pun menjadi lebih hemat sehingga energi dapat difokuskan pada ibadah. Perencanaan menu yang terintegrasi terbukti efektif menjaga pengeluaran tetap stabil. Kebiasaan ini juga melatih disiplin dalam mengatur konsumsi harian.
Pilah Kebutuhan, Jangan Tergoda Diskon
Menjelang Idulfitri, berbagai toko dan marketplace menawarkan diskon besar, gratis ongkir, hingga cashback. Promo ini sering kali memicu perilaku belanja berlebihan. Tanpa kontrol yang baik, pengeluaran justru membengkak akibat pembelian impulsif. Diskon memang menarik, tetapi tidak semua penawaran benar-benar dibutuhkan.
Fatkur mengingatkan agar masyarakat tetap selektif. “Kondisi ini tentu akan memicu kita untuk berburu kebutuhan tambahan. Jika ini terjadi, kita perlu selektif dalam memilih penawaran tersebut, mana yang benar-benar menjadi kebutuhan prioritas dan mana yang bisa ditunda pemenuhannya,” jelasnya. Sikap selektif menjadi benteng utama agar tidak terjebak konsumsi berlebihan.
Kuncinya adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jangan sampai potongan harga justru membuat pengeluaran lebih besar dari rencana awal. Evaluasi setiap barang sebelum checkout dan tanyakan apakah benar-benar diperlukan. Dengan cara ini, anggaran Ramadan tetap terkendali hingga akhir bulan.
Manfaatkan Cashback dan Poin Member
Jika memiliki poin belanja atau cashback yang terkumpul sebelum Ramadan, inilah saat yang tepat untuk memanfaatkannya. Program loyalitas dari berbagai toko dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi konsumen. Potongan harga tambahan dari poin atau cashback mampu menekan total pembayaran. Strategi ini efektif digunakan saat kebutuhan meningkat.
Menurut Fatkur, menjadi member toko tertentu sering kali memberikan fasilitas tambahan yang bisa digunakan selama Ramadan. “Hal ini akan mengurangi total biaya yang kita bayarkan, sehingga pada akhirnya akan menekan pengeluaran selama bulan Ramadan,” pungkas Fatkur. Pemanfaatan poin secara tepat dapat menjadi penghemat yang signifikan.
Cashback dan poin member bisa dianggap sebagai tabungan tersembunyi. Ketika digunakan pada waktu yang tepat, manfaatnya sangat terasa dalam pengelolaan anggaran. Ramadan pun dapat dijalani dengan lebih ringan secara finansial. Pengeluaran tetap terkendali tanpa mengurangi kualitas kebutuhan pokok.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk dalam hal mengatur keuangan agar tetap stabil sepanjang bulan suci. Dengan perencanaan matang, menentukan prioritas, serta bijak memanfaatkan promo, pengeluaran dapat ditekan secara efektif. Kebersamaan tetap terjaga, sementara kondisi finansial pun aman hingga Lebaran tiba.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Mendagri Tito Karnavian Instruksikan Percepatan Validasi Data Korban Bencana di Sumatra
- Rabu, 25 Februari 2026
Strategi Pemerintah Perkuat Tata Kelola Sampah Berkelanjutan di 30 Wilayah Strategis
- Rabu, 25 Februari 2026
Pemerataan Akses Makan Bergizi Gratis Bagi Anak Disabilitas Demi Indonesia Emas
- Rabu, 25 Februari 2026
Menko Pangan Jamin Hasil Ternak Lokal Terserap Maksimal Program Makan Bergizi
- Rabu, 25 Februari 2026
BSI Perluas Inklusi Keuangan Melalui Penambahan Jaringan Agen Hingga 127 Ribu Unit
- Rabu, 25 Februari 2026
Berita Lainnya
Jadwal Buka Puasa Medan 24 Februari 2026 Ramadhan 1447 Hijriah Hari Keenam
- Rabu, 25 Februari 2026
Strategi Real Madrid Bangun Kejayaan Baru Tanpa Belanja Instan Berlebihan
- Rabu, 25 Februari 2026
Barcelona Siapkan Plan B Penyerang Manchester City Bursa Transfer Musim Panas
- Rabu, 25 Februari 2026












