JAKARTA - Setelah melewati satu tahun yang penuh tantangan, kinerja PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. kembali menjadi perhatian pelaku pasar.
Publikasi laporan keuangan 2025 menunjukkan bahwa BNI masih mampu mencetak laba bersih dalam jumlah besar, meskipun secara tahunan mengalami penurunan.
Kondisi ini memunculkan dua sisi cerita: di satu sisi, kekuatan bisnis inti bank tetap terjaga, sementara di sisi lain tekanan profitabilitas belum sepenuhnya mereda.
Baca JugaLonjakan Tajam Harga Emas Dan Perak Mendorong Penguatan Saham Tambang Global
Situasi tersebut membuat saham BBNI menarik untuk dicermati, terutama bagi investor yang mencari peluang pemulihan bertahap pada 2026.
Sepanjang 2025, BNI tetap agresif menjalankan fungsi intermediasi. Pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga menunjukkan aktivitas bisnis yang solid. Namun, meningkatnya biaya dana serta kebutuhan pencadangan di beberapa segmen menjadi faktor yang menahan laju laba bersih.
Dengan latar belakang ini, rekomendasi saham BBNI tidak bisa dilepaskan dari analisis menyeluruh atas kinerja fundamental dan strategi perseroan ke depan.
Kinerja Laba Bersih BNI Sepanjang Tahun
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20,11 triliun hingga Desember 2025. Angka tersebut turun 7,19% secara year on year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp21,66 triliun.
Penurunan laba ini mencerminkan tekanan yang dihadapi perbankan nasional di tengah dinamika ekonomi dan meningkatnya biaya pendanaan.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai bahwa kinerja BNI sepanjang 2025 bersifat campuran. Dari sisi bisnis inti, perseroan mencatat pertumbuhan kredit yang tinggi dan penghimpunan dana pihak ketiga yang kuat. Kondisi tersebut menunjukkan fungsi intermediasi berjalan agresif dan struktur pendanaan semakin solid.
Namun, di balik performa operasional tersebut, laba bersih yang menurun mengindikasikan adanya tekanan pada profitabilitas. Tekanan ini terutama berasal dari meningkatnya biaya dana, margin yang tergerus, serta kebutuhan pembentukan cadangan atau credit cost di segmen tertentu.
“Secara garis besar, operasionalnya kuat, tetapi bagian ‘bottom line’ masih tertekan,” kata Ekky.
Tekanan Profitabilitas Dan Tantangan Bisnis
Penurunan laba bersih BNI pada 2025 tidak lepas dari kondisi industri perbankan yang menghadapi kenaikan biaya dana. Persaingan dalam menghimpun dana pihak ketiga mendorong bank untuk menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif, sehingga berdampak pada margin bunga bersih. Selain itu, kebutuhan pencadangan untuk menjaga kualitas aset juga ikut menekan kinerja laba.
Meski demikian, Ekky menilai bahwa tekanan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan fundamental. Pertumbuhan kredit yang tinggi menunjukkan permintaan pembiayaan masih kuat, baik dari segmen korporasi maupun sektor lainnya. Hal ini menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga pertumbuhan bisnis ke depan.
Dalam konteks ini, penurunan laba lebih dipandang sebagai fase penyesuaian. Bank dinilai sedang berada pada tahap menyeimbangkan antara ekspansi bisnis dan pengelolaan risiko. Langkah ini diperlukan agar pertumbuhan yang dicapai tetap berkelanjutan dan tidak menimbulkan masalah kualitas aset di kemudian hari.
Strategi BNI Memasuki Tahun Mendatang
Memasuki 2026, Ekky memperkirakan BNI akan mengalihkan fokus pada pertumbuhan yang lebih sehat dan stabil. Target pertumbuhan kredit di kisaran 8%—10% dinilai realistis dan lebih konservatif dibandingkan capaian 2025. Pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian manajemen dalam menjaga kualitas aset sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.
Selain itu, target net interest income (NII) di kisaran 3,5%—3,8% serta credit cost sekitar 1,0%—1,2% menunjukkan upaya BNI dalam menjaga margin dan mengendalikan risiko kredit. Strategi ini diharapkan mampu memperbaiki profitabilitas secara bertahap, seiring dengan stabilisasi biaya dana dan perbaikan kondisi ekonomi.
Dengan strategi tersebut, BNI berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan dan ketahanan. Fokus pada kualitas aset dan efisiensi diharapkan dapat memberikan fondasi yang lebih kuat bagi pemulihan laba pada tahun-tahun berikutnya.
Rekomendasi Saham Dan Prospek Investor
Dari sisi pasar modal, prospek saham BBNI pada 2026 sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap pemulihan laba. Ekky menilai bahwa jika tren pencadangan membaik dan margin mulai stabil, ruang penguatan saham akan semakin terbuka. Saham BBNI dipandang menarik bagi investor yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang.
Namun, Ekky juga mengingatkan agar investor tetap mencermati sejumlah risiko. Volatilitas nilai tukar rupiah, potensi kenaikan biaya dana, serta dinamika kualitas aset masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi kinerja keuangan perseroan. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih selektif dan disiplin dalam membaca perkembangan fundamental sangat diperlukan.
“Jadi, BBNI menarik dicermati sebagai cerita pemulihan bertahap, bukan kenaikan yang lurus tanpa koreksi,” pungkasnya.
Dengan kata lain, saham BNI menawarkan potensi, tetapi tetap menuntut kewaspadaan. Bagi investor yang siap menghadapi fluktuasi jangka pendek, BBNI dapat menjadi bagian dari strategi investasi berbasis pemulihan kinerja perbankan nasional.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Jasa Marga Kejar Perbaikan Ratusan Titik Jalan Berlubang di Tol Jakarta-Cikampek
- Rabu, 04 Februari 2026
Perkuat Tulang Punggung Kelistrikan: PLN Sukses Energize GISTET & SUTET 500 kV Paiton
- Rabu, 04 Februari 2026
Menyambut Bulan Cinta dengan 5 Film Netflix Romantis Terbaik Tahun 2026
- Rabu, 04 Februari 2026
Eksplorasi Imajinasi: 10 Mahakarya Film Studio Ghibli yang Wajib Anda Selami
- Rabu, 04 Februari 2026
Berita Lainnya
Menteri Keuangan Purbaya Proyeksikan Penerimaan Pajak Januari 2026 Tumbuh 30 Persen
- Rabu, 04 Februari 2026
Menkeu Purbaya Sebut Mundurnya Bos BEI-OJK Pertanda Baik Bagi Integritas Pasar
- Rabu, 04 Februari 2026
Penerimaan Pajak Awal Tahun Menguat, Purbaya Optimistis Ekonomi 2026 Stabil
- Rabu, 04 Februari 2026




.jpg)








