Rabu, 28 Januari 2026

Harga Batu Bara Terus Tertekan Empat Hari Beruntun, Pasar Global Masih Lesu

Harga Batu Bara Terus Tertekan Empat Hari Beruntun, Pasar Global Masih Lesu
Harga Batu Bara Terus Tertekan Empat Hari Beruntun, Pasar Global Masih Lesu

JAKARTA - Tekanan di pasar komoditas energi kembali menjadi sorotan setelah harga batu bara mencatat pelemahan beruntun dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menambah daftar tantangan bagi pelaku industri yang berharap adanya pemulihan harga di awal tahun.

Harga batu bara masih anjlok dalam empat hari terakhir. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026 ditutup di posisi US$ 109 per ton atau melemah 0,95%.

Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara yang sudah ambruk 3,53% dalam empat hari beruntun. Tren ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Baca Juga

BPH Migas Sesuaikan Kuota BBM Subsidi 2026 Demi Penyaluran Tepat Sasaran

Pelaku pasar mencermati pergerakan ini sebagai sinyal lemahnya keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Situasi tersebut membuat optimisme terhadap pemulihan harga dalam jangka pendek semakin menipis.

Penurunan harga batu bara bukan sekadar koreksi teknis, melainkan mencerminkan kondisi fundamental yang masih rapuh. Baik di pasar domestik maupun global, tekanan yang sama-sama kuat terus membebani pergerakan harga.

Investor dan pelaku industri kini mulai berhitung ulang terhadap strategi bisnis mereka. Harga yang terus melemah mendorong produsen untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan produksi dan distribusi.

Tekanan pasar ini juga tidak hanya dirasakan di satu wilayah saja. China sebagai salah satu konsumen utama batu bara dunia turut mengalami penurunan harga di pasar domestiknya.

Harga batu bara termal di pasar domestik China turun secara mingguan karena fundamental pasar yang longgar. Selama satu pekan terakhir, harga batu bara termal di China bergerak turun, karena penjual baik produsen dan pedagang di pelabuhan menurunkan harga.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar di China cenderung lebih agresif dalam menyesuaikan harga. Langkah ini dilakukan untuk merespons kondisi permintaan yang belum pulih sepenuhnya.

Situasi ini sekaligus memberi tekanan tambahan bagi harga global. Pasar internasional kerap menjadikan China sebagai barometer utama pergerakan komoditas energi, termasuk batu bara.

Dengan kondisi seperti ini, harapan pemulihan harga dalam waktu singkat menjadi semakin sulit diwujudkan. Para analis melihat bahwa tekanan ini berpotensi berlangsung lebih lama jika fundamental tidak berubah.

Fundamental Pasar Dinilai Longgar

Pelemahan harga didorong oleh fundamental pasar yang "longgar" yakni oversupply pasokan dan permintaan yang lemah. Kondisi ini membuat pasar berada dalam posisi tidak seimbang antara suplai dan konsumsi.

Dari sisi supply, pasokan relatif stabil dan melimpah sehingga tidak ada tekanan pasokan yang bisa menopang harga. Produksi yang terus berjalan membuat stok tetap tinggi di berbagai titik distribusi.

Sementara itu, permintaan lesu dari pembangkit listrik dan industri utama sebabkan penjualan turun dan persediaan tetap tinggi. Kondisi ini membuat pembeli enggan memborong pada harga saat ini.

Permintaan yang belum pulih secara signifikan membuat pelaku pasar cenderung menunggu momentum yang lebih baik. Akibatnya, transaksi di pasar fisik bergerak lambat dan harga terus tertekan.

Penurunan harga ini mencerminkan tekanan berkelanjutan di pasar batu bara domestik, dan bukan semata fluktuasi sesaat. Para analis melihat bahwa pelemahan ini memiliki akar yang cukup dalam.

Produsen dan pedagang berupaya menyesuaikan harga untuk merespons lemahnya permintaan tetapi kelebihan stok tetap menjadi kendala utama. Upaya tersebut belum mampu mendorong perbaikan harga yang berarti.

Kondisi ini menciptakan dilema bagi produsen, karena menurunkan harga berpotensi menggerus margin keuntungan. Namun, mempertahankan harga justru berisiko menumpuk stok lebih lama.

Di sisi lain, pembeli cenderung memanfaatkan situasi ini untuk menunda pembelian dalam jumlah besar. Mereka berharap harga akan turun lebih jauh seiring berlanjutnya tekanan pasar.

Situasi pasar yang longgar juga mencerminkan lemahnya aktivitas industri secara keseluruhan. Permintaan energi dari sektor-sektor utama belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Jika kondisi ini berlanjut, tekanan terhadap harga batu bara dikhawatirkan akan semakin dalam. Pelaku industri pun perlu menyiapkan strategi mitigasi agar tetap mampu bertahan di tengah volatilitas pasar.

Tekanan Juga Terjadi di Pasar Impor China

Harga batu bara kokas impor dari Mongolia ke China juga bergerak turun di beberapa titik perbatasan utama setelah permintaan dari industri baja melemah. Pelemahan ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada batu bara termal, tetapi juga pada jenis batu bara lainnya.

Pelemahan sentimen ini membuat penawaran harga kehilangan kekuatan di pasar impor, seiring trader dan pembeli berhati-hati memasuki minggu perdagangan terakhir. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see dari pelaku pasar.

Permintaan domestik China dari pabrik baja lebih lemah dari ekspektasi, sehingga kebutuhan impor kokas berkurang. Hal ini berdampak langsung terhadap pergerakan harga di jalur perdagangan lintas negara.

Penurunan kebutuhan impor tersebut turut memengaruhi harga batu bara di kawasan pemasok. Negara-negara yang selama ini menjadi sumber utama ekspor ke China merasakan dampak perlambatan ini.

Banyak pembeli di China yang kurang agresif dalam pembelian, sebagian karena pasar sedang melemah dan futures untuk batu bara kokas tidak begitu kuat. Situasi ini membuat transaksi di pasar fisik bergerak lebih lambat.

Ini mencerminkan perlambatan aktivitas pembelian menjelang musim stok musim dingin berikutnya. Biasanya, periode ini menjadi momentum penguatan permintaan, namun kali ini belum terlihat tanda-tanda tersebut.

Sentimen pasar yang lemah membuat trader cenderung bersikap defensif. Mereka lebih memilih menjaga posisi ketimbang mengambil risiko membeli dalam volume besar.

Di tengah kondisi ini, tekanan harga batu bara semakin sulit dihindari. Pelaku pasar harus berhadapan dengan kombinasi antara permintaan lemah dan pasokan yang melimpah.

Tekanan yang merata di berbagai segmen batu bara memperlihatkan bahwa masalah yang dihadapi bersifat struktural. Pemulihan harga memerlukan perubahan signifikan pada sisi permintaan maupun kebijakan energi.

Selama belum ada katalis kuat yang mampu mengangkat sentimen pasar, harga batu bara diperkirakan masih akan bergerak dalam tren melemah. Hal ini menjadi tantangan besar bagi produsen dan eksportir di berbagai negara.

Prospek Harga Batu Bara Masih Tertekan

Pelemahan harga batu bara yang terjadi dalam empat hari terakhir menjadi sinyal bahwa pasar masih berada dalam fase tekanan. Investor dan pelaku industri kini mulai menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap pergerakan harga ke depan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026 ditutup di posisi US$ 109 per ton atau melemah 0,95%. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Pelemahan 3,53% dalam empat hari beruntun mencerminkan tren yang cukup kuat. Kondisi ini menambah kekhawatiran bahwa harga bisa turun lebih jauh jika fundamental tidak berubah.

Pasokan yang stabil dan permintaan yang lemah menjadi faktor utama yang menahan pemulihan harga. Selama dua faktor ini belum seimbang, pasar akan tetap berada dalam tekanan.

Di pasar China, penurunan harga batu bara termal dan kokas semakin memperkuat sinyal pelemahan global. Sebagai konsumen terbesar dunia, dinamika permintaan China memiliki dampak signifikan terhadap pasar internasional.

Pelaku pasar kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan transaksi. Banyak pihak memilih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum kembali masuk ke pasar dalam skala besar.

Produsen di sisi lain menghadapi dilema antara menjaga produksi atau melakukan penyesuaian output. Penurunan produksi berpotensi membantu menyeimbangkan pasar, tetapi membutuhkan koordinasi dan waktu.

Sementara itu, trader berusaha mengelola risiko dengan mengurangi eksposur terhadap fluktuasi harga. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah volatilitas pasar.

Tekanan yang berkelanjutan ini menegaskan bahwa pelemahan harga batu bara bukan sekadar fenomena jangka pendek. Pasar saat ini berada dalam fase penyesuaian yang dipengaruhi oleh perubahan struktural di sektor energi.

Jika permintaan dari sektor pembangkit listrik dan industri belum menunjukkan pemulihan, harga kemungkinan masih akan bergerak terbatas. Hal ini menempatkan pelaku industri pada posisi yang menantang dalam merancang strategi jangka menengah.

Dengan kondisi pasar yang masih rapuh, prospek harga batu bara ke depan tetap dibayangi ketidakpastian. Pelaku pasar diharapkan terus mencermati perkembangan fundamental global yang dapat menjadi katalis perubahan tren.

Zahra

Zahra

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Insentif Pajak Berlanjut 2026, Pemerintah Perkuat Daya Beli dan UMKM Nasional

Insentif Pajak Berlanjut 2026, Pemerintah Perkuat Daya Beli dan UMKM Nasional

Prospek Saham Emiten Logistik Batu Bara Dinilai Berpotensi Cuan Besar

Prospek Saham Emiten Logistik Batu Bara Dinilai Berpotensi Cuan Besar

Sumsel Maksimalkan Produksi Batu Bara dengan Ratusan IUP Baru

Sumsel Maksimalkan Produksi Batu Bara dengan Ratusan IUP Baru

KKP Fokus Pada Pemulihan Tambak Garam Aceh Pasca-Banjir Sumatra

KKP Fokus Pada Pemulihan Tambak Garam Aceh Pasca-Banjir Sumatra

Anggaran PSO MRT Jakarta 2026 Naik, Menghadirkan Layanan Lebih Baik

Anggaran PSO MRT Jakarta 2026 Naik, Menghadirkan Layanan Lebih Baik