Rabu, 28 Januari 2026

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam 28 Januari 2026, Bensin Domestik Justru Bergerak Berbeda

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam 28 Januari 2026, Bensin Domestik Justru Bergerak Berbeda
Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam 28 Januari 2026, Bensin Domestik Justru Bergerak Berbeda

JAKARTA - Dinamika pasar energi global kembali menjadi sorotan pada Rabu, 28 Januari 2026, setelah harga minyak dunia melonjak tajam akibat gangguan cuaca ekstrem di Amerika Serikat. Di sisi lain, pasar domestik justru mencatat pergerakan harga yang berbeda, dengan bensin turun tipis sementara produk minyak lainnya mengalami penyesuaian naik.

Hari ini, 28 Januari, harga bensin dan minyak mengalami fluktuasi signifikan di pasar internasional karena kondisi cuaca ekstrem di AS memberikan tekanan pada pasokan global. Pada sesi perdagangan terakhir, harga minyak dunia naik lebih dari 3%, mencerminkan kekhawatiran investor tentang pengetatan pasar dalam jangka pendek.

Sebaliknya, pasar domestik mengalami perbedaan, dengan harga bensin terus turun sedikit, sementara harga berbagai jenis minyak disesuaikan naik. Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan respons antara pasar global dan kebijakan penetapan harga di dalam negeri.

Baca Juga

BPH Migas Sesuaikan Kuota BBM Subsidi 2026 Demi Penyaluran Tepat Sasaran

Pergerakan harga energi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi biaya transportasi, logistik, dan industri. Investor dan konsumen pun mencermati apakah lonjakan harga minyak dunia akan berdampak lebih lanjut terhadap harga BBM domestik ke depan.

Lonjakan harga minyak di pasar internasional dipicu oleh gangguan pasokan yang tidak terduga. Cuaca ekstrem di kawasan produsen utama membuat pasar berspekulasi tentang risiko kekurangan pasokan dalam jangka pendek.

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Cuaca Ekstrem

Harga minyak dunia melonjak akibat badai salju bersejarah di AS. Pasar minyak internasional baru saja mengalami sesi perdagangan yang bergejolak dengan kenaikan yang mengesankan.

Alasan utama yang diidentifikasi adalah badai salju musim dingin yang parah yang melanda banyak negara bagian AS. Kondisi ini memaksa banyak fasilitas produksi untuk sementara menghentikan operasi dan mengganggu ekspor dari wilayah Pantai Teluk.

Gangguan produksi ini membuat pasar khawatir terhadap potensi kekurangan pasokan global. Investor merespons cepat dengan meningkatkan posisi beli pada kontrak minyak berjangka.

Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah Brent naik $1,98, atau 3,02%, menjadi $67,57 per barel. Demikian pula, harga minyak mentah WTI meningkat $1,76, atau 2,9%, menjadi $62,39 per barel.

Kenaikan tersebut mencerminkan sentimen pasar yang berubah drastis dalam waktu singkat. Lonjakan harga ini juga memperlihatkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gangguan cuaca ekstrem.

Para analis memperkirakan bahwa cuaca dingin telah menyebabkan penurunan produksi minyak AS sekitar 2 juta barel per hari. Jumlah tersebut setara dengan hampir 15% dari total produksi negara tersebut.

Fawad Razaqzada, seorang ahli di City Index, percaya bahwa kondisi cuaca buruk mendorong harga minyak berjangka lebih tinggi karena risiko kekurangan pasokan menjadi semakin jelas. Menurutnya, pasar cenderung bereaksi cepat terhadap potensi gangguan pasokan berskala besar.

Sementara itu, Tamas Varga dari PVM memperkirakan bahwa gelombang dingin yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan tajam persediaan minyak AS dalam beberapa minggu mendatang. Prediksi ini menambah kekhawatiran pasar akan terbatasnya pasokan di tengah permintaan yang relatif stabil.

Kombinasi antara gangguan produksi dan sentimen pasar yang sensitif mendorong volatilitas tinggi. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin waspada terhadap perkembangan cuaca di wilayah produsen utama.

Tekanan Pasokan Global dari Berbagai Arah

Pasokan global berada di bawah tekanan dari berbagai arah. Selain kondisi cuaca di AS, pasar juga terpengaruh oleh lambatnya pemulihan di Kazakhstan.

Ladang minyak Tengiz, yang terbesar di negara itu, saat ini beroperasi kurang dari setengah kapasitas setelah kebakaran dan pemadaman listrik. Kondisi tersebut menghambat upaya peningkatan pasokan dari kawasan Asia Tengah.

Pakar UBS, Giovanni Staunovo, menilai bahwa lambatnya kemajuan pemulihan di sana berkontribusi pada ketatnya pasar. Menurutnya, kombinasi antara gangguan cuaca dan kendala produksi membuat pasar global semakin rapuh.

Selain itu, faktor geopolitik juga berperan dalam mendukung harga energi. Ketegangan internasional kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan.

Pengerahan kapal induk AS ke Timur Tengah dan pernyataan keras Presiden Donald Trump mengenai Iran meningkatkan kekhawatiran tentang konflik. Situasi ini membuat investor mempertimbangkan risiko gangguan distribusi energi di kawasan strategis tersebut.

Pada saat yang sama, tiga sumber dari OPEC+ mengungkapkan bahwa kelompok tersebut kemungkinan akan terus menangguhkan rencana peningkatan produksinya pada bulan Maret. Keputusan ini semakin memperkuat sentimen positif terhadap harga minyak di pasar global.

Penundaan peningkatan produksi berarti pasokan tambahan belum akan masuk ke pasar dalam waktu dekat. Kondisi ini memperbesar peluang harga tetap berada di level tinggi jika permintaan tidak melemah.

Tekanan pasokan dari berbagai arah ini memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan pasar energi global. Perubahan kecil pada produksi atau distribusi dapat berdampak besar terhadap harga.

Investor pun semakin mencermati kebijakan produsen utama dan perkembangan geopolitik. Setiap sinyal gangguan pasokan baru berpotensi memicu lonjakan harga lanjutan.

Pergerakan Harga Bensin dan Solar di Pasar Domestik

Harga bensin dan solar domestik hari ini menunjukkan arah yang berbeda dibandingkan pasar internasional. Penyesuaian harga dilakukan berdasarkan kebijakan pemerintah yang berlaku.

Di pasar domestik, harga eceran produk minyak bumi hari ini, 28 Januari 2026, diterapkan sesuai dengan daftar harga Kementerian Gabungan Perindustrian dan Perdagangan - Keuangan dari periode penyesuaian 22 Januari. Dengan demikian, harga bensin mengalami sedikit penurunan, sementara produk minyak lainnya mengalami peningkatan yang signifikan.

Kondisi ini mencerminkan mekanisme penetapan harga yang tidak selalu mengikuti pergerakan pasar global secara langsung. Pemerintah mempertimbangkan stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat dalam menentukan kebijakan harga.

Berikut daftar harga terbaru BBM di pasar domestik yang berlaku hari ini. Data ini memberikan gambaran tentang perbedaan fluktuasi antarproduk energi.

Bensin E5 RON 92: 18.283 VND per liter, turun 93 VND. Penurunan ini membuat harga bensin jenis ini sedikit lebih murah dibandingkan periode sebelumnya.

Bensin RON 95-III: 18.631 VND per liter, turun 81 VND. Penyesuaian ini mencerminkan stabilitas harga bensin di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Bahan bakar diesel 0,05S: 17.700 VND per liter, naik 413 VND. Kenaikan ini menunjukkan tekanan biaya pada produk minyak olahan tertentu.

Minyak: 17.950 VND per liter, naik 253 VND. Produk ini mengalami penyesuaian harga seiring perubahan biaya distribusi dan pengolahan.

Bahan Bakar Minyak 180CST 3.5S: 13.872 VND per kg, naik 471 VND. Kenaikan ini menjadi yang paling signifikan di antara produk yang tercatat hari ini.

Selama periode penyesuaian harga ini, badan pengatur terus mempertahankan kebijakan untuk tidak mengalokasikan atau mencairkan dana dari Dana Stabilisasi Harga Bahan Bakar untuk semua produk. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga mekanisme pasar berjalan secara wajar tanpa intervensi tambahan.

Perbedaan antara harga bensin dan solar domestik secara akurat mencerminkan tren fluktuasi produk olahan di pasar Singapura selama periode terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pasar regional tetap menjadi acuan penting dalam penetapan harga di dalam negeri.

Kondisi pasar domestik yang relatif stabil di tengah gejolak global memberikan kepastian bagi konsumen. Namun, pelaku usaha tetap waspada terhadap potensi perubahan harga di masa mendatang.

Dengan lonjakan harga minyak dunia yang signifikan, pasar akan terus memantau apakah tekanan tersebut akan merembet ke harga domestik. Kebijakan pemerintah ke depan akan menjadi faktor penentu dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan keberlanjutan pasokan energi.

Zahra

Zahra

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Insentif Pajak Berlanjut 2026, Pemerintah Perkuat Daya Beli dan UMKM Nasional

Insentif Pajak Berlanjut 2026, Pemerintah Perkuat Daya Beli dan UMKM Nasional

Prospek Saham Emiten Logistik Batu Bara Dinilai Berpotensi Cuan Besar

Prospek Saham Emiten Logistik Batu Bara Dinilai Berpotensi Cuan Besar

Sumsel Maksimalkan Produksi Batu Bara dengan Ratusan IUP Baru

Sumsel Maksimalkan Produksi Batu Bara dengan Ratusan IUP Baru

KKP Fokus Pada Pemulihan Tambak Garam Aceh Pasca-Banjir Sumatra

KKP Fokus Pada Pemulihan Tambak Garam Aceh Pasca-Banjir Sumatra

Anggaran PSO MRT Jakarta 2026 Naik, Menghadirkan Layanan Lebih Baik

Anggaran PSO MRT Jakarta 2026 Naik, Menghadirkan Layanan Lebih Baik