JAKARTA - Ketika jalur tengah Jawa Tengah kian sesak oleh arus kendaraan, sebuah rencana besar mulai menemukan kepastian. Proyek pembangunan Jalan Tol Pejagan–Cilacap kini resmi masuk dalam rencana strategis nasional, membuka harapan baru bagi perbaikan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di kawasan barat Jawa Tengah. Kepastian ini menandai langkah maju setelah bertahun-tahun wacana, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
Proyek tol yang menghubungkan wilayah Brebes, Tegal, Banyumas hingga Cilacap tersebut dipastikan masuk dalam perencanaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan target realisasi pada 2029. Infrastruktur ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang atas kemacetan kronis di jalur tengah, yang selama ini menjadi hambatan utama mobilitas orang dan barang.
Kepastian tersebut disampaikan dalam pemaparan yang digelar di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Selasa 27 Januari 2026. Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono secara langsung menunjukkan dokumen rencana pembangunan tol kepada publik, menandai keseriusan pemerintah daerah dalam mengawal proyek strategis tersebut hingga terealisasi.
Baca JugaEminence Global Perkuat Peran Operator Hotel Bintang Lima Indonesia
Solusi Kemacetan Jalur Tengah
Selama bertahun-tahun, jalur tengah Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu titik rawan kepadatan lalu lintas. Salah satu titik krusial adalah perlintasan sebidang Bumiayu yang kerap menjadi simpul kemacetan, terutama pada musim libur dan arus logistik tinggi. Kehadiran Tol Pejagan–Cilacap diharapkan mampu mengalihkan sebagian besar arus kendaraan, sehingga beban jalan nasional dapat berkurang secara signifikan.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyebut pembangunan tol ini merupakan inisiatif Pemerintah Kabupaten Banyumas yang berangkat dari kebutuhan riil masyarakat dan dunia usaha. Menurutnya, tanpa terobosan infrastruktur baru, permasalahan kemacetan di jalur tengah akan terus berulang dan menghambat laju ekonomi daerah.
Langkah Proaktif Pemerintah Daerah
Dalam upaya mempercepat realisasi, Pemkab Banyumas tidak hanya menunggu kebijakan pusat, tetapi juga aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak strategis. Sadewo mengungkapkan bahwa proses pencarian mitra pembangunan telah menunjukkan kemajuan berarti, termasuk penjajakan kerja sama dengan investor asing.
“Kami sudah melakukan langkah proaktif, termasuk mencarikan investor dari Cina. Investor menyatakan kesanggupan membangun fisik, sementara pembebasan lahan akan ditangani Pemerintah Indonesia,” ujar Sadewo.
Pendekatan ini mencerminkan strategi pembiayaan kreatif yang diterapkan Pemkab Banyumas di bawah kepemimpinan Sadewo. Sepanjang 2025, Banyumas tercatat berhasil menghimpun pendanaan non-APBD hingga Rp294 miliar, sebuah capaian yang memperkuat posisi daerah dalam mendorong proyek-proyek strategis tanpa membebani anggaran daerah.
Nilai Ekonomi dan Kelayakan Proyek
Tol Pejagan–Cilacap tidak hanya dipandang sebagai proyek infrastruktur semata, tetapi juga sebagai investasi dengan nilai ekonomi tinggi. Berdasarkan hasil studi kelayakan, proyek ini mencatat ENPV (Economic Net Present Value) sebesar USD 1,09 miliar atau lebih dari Rp17 triliun. Angka tersebut menunjukkan manfaat ekonomi jangka panjang yang signifikan bagi wilayah yang dilalui tol.
Dari sisi kelayakan finansial, proyek ini memiliki FIRR (Financial Internal Rate of Return) sebesar 13,60% serta EIRR (Economic Internal Rate of Return) mencapai 19,54%. Indikator tersebut menegaskan bahwa pembangunan tol Pejagan–Cilacap dinilai layak secara ekonomi dan mampu memberikan pengembalian investasi yang kompetitif, baik bagi pemerintah maupun mitra swasta.
Efisiensi Logistik dan Distribusi Barang
Salah satu dampak paling strategis dari keberadaan tol ini adalah peningkatan efisiensi distribusi logistik. Selama ini, pengiriman barang dari Pelabuhan Cilacap menuju jalur ekspor di wilayah utara Jawa masih menghadapi kendala waktu tempuh dan biaya tinggi akibat kondisi jalan dan kepadatan lalu lintas.
Dengan tersambungnya jaringan tol, waktu tempuh distribusi diproyeksikan akan terpangkas signifikan. Efisiensi ini diharapkan mampu menurunkan biaya logistik nasional, yang selama ini menjadi salah satu faktor penghambat daya saing produk dalam negeri.
“Selama ini faktor geografis menjadi tantangan utama distribusi komoditas. Dengan tol ini, alur barang dan jasa akan jauh lebih efisien dan murah,” jelas Sadewo.
Dampak Multiplier bagi Industri dan Pariwisata
Selain sektor logistik, pembangunan Tol Pejagan–Cilacap juga diyakini membawa efek berganda bagi pertumbuhan industri dan pariwisata. Akses yang lebih cepat dan lancar akan membuka peluang investasi baru di kawasan Banyumas dan sekitarnya, sekaligus meningkatkan konektivitas destinasi wisata di wilayah selatan Jawa Tengah.
Kawasan industri yang selama ini kurang diminati karena kendala akses berpotensi berkembang lebih cepat. Sementara itu, sektor pariwisata di Cilacap dan Banyumas diharapkan mendapatkan dorongan signifikan melalui peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dengan masuknya proyek ini ke dalam agenda strategis nasional dan dukungan berbagai pihak, Tol Pejagan–Cilacap kini tidak lagi sekadar wacana. Target realisasi pada 2029 menjadi tonggak penting bagi transformasi infrastruktur, ekonomi, dan konektivitas kawasan barat Jawa Tengah menuju masa depan yang lebih kompetitif.
Fery
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Bupati Sambas Dorong Pusat Bangun Jalan Jembatan Percepat Pembangunan Daerah
- Rabu, 28 Januari 2026
Bupati Takalar Koordinasi Menteri PUPR Percepat Jalan Jembatan Strategis
- Rabu, 28 Januari 2026
Legislator Jatim Dukung SRRL Perkuat Transportasi Publik Surabaya Terintegrasi
- Rabu, 28 Januari 2026













