Harga Kopi Global di Bursa London dan New York Terjun Bebas

Ilustrasi Kopi. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 09 Juli 2026 | 13:49:32 WIB

LONDON  - Nilai jual kopi global terpantau berbalik arah dan merosot tajam di bursa London sekaligus New York pada Kamis (9/7/2026) usai sempat membukukan lonjakan yang masif pada hari kemarin. 

Penurunan tersebut menyeret harga kontrak berjangka di pasar internasional merosot ke bawah level psikologis yang terhitung cukup signifikan.

Pergerakan pasar yang bergerak fluktuatif ini mengejutkan para pelaku usaha serta eksportir komoditas lantaran berlangsung dalam durasi waktu yang teramat singkat. Koreksi dalam semalam tersebut menyapu bersih sebagian besar profit masif yang sempat dicatatkan oleh komoditas perkebunan itu pada sesi transaksi sebelumnya.

Banderol komoditas beserta nilai tukar dapat berubah secara fluktuatif sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijaksana dan senantiasa pantau rujukan informasi harga resmi dari pihak pemerintah.

Mengacu pada data perdagangan paling aktual, harga kopi robusta mengalami penyusutan berkisar $4,2 USD per ton di bursa London. 

Sementara itu, komoditas kopi arabika membukukan penurunan yang terhitung jauh lebih dalam dengan merosot berkisar 9 persen untuk seluruh periode pengiriman.

Merosotnya harga yang tajam pada arabika memotong nilai kontrak berjangka hingga melebihi $700 USD per ton hanya dalam kurun waktu semalam. Padahal pada hari sebelumnya, nilai jual arabika sempat melambung langka hingga menyentuh hampir 17 persen, sedangkan robusta menguat sebesar 9 persen.

Perpaduan penurunan di kedua bursa utama tersebut menyeret pasar kopi global terjatuh di bawah nominal $4.000 per ton. Para pengamat menilai pembalikan arah ini sebagai bentuk pendinginan pasar usai melewati fase transaksi yang terlampau panas.

Kondisi di wilayah negara-negara produsen utama ikut mengintervensi dinamika harga komoditas ini secara menyeluruh. Di Brasil, aktivitas pemanenan di area ladang perkebunan diinformasikan berjalan terhambat akibat imbas gangguan cuaca yang kurang bersahabat.

Curah hujan lebat yang tidak selaras dengan musim di Brasil menjadi pemicu utama di balik melambatnya jalannya proses pengumpulan hasil perkebunan. Sampai dengan tanggal 1 Juli, realisasi panen kopi di negara tersebut terpantau baru menyentuh angka 52 persen.

Angka capaian pemanenan ini terekam berkisar 8 persen lebih rendah jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun kemarin. Di samping itu, pencapaian tersebut juga bertengger 3 persen di bawah rata-rata pemanenan dalam beberapa tahun ke belakang.

Di sisi lain, Vietnam yang menempati posisi sebagai produsen robusta terbesar tengah dihadapkan pada penipisan cadangan di skala lokal. Ketersediaan stok kopi domestik di Vietnam saat ini dilaporkan teramat terbatas dan hanya tersisa berkisar 15 sampai 20 persen saja.

Kendati volume ekspor Vietnam pada paruh pertama tahun 2026 terangkat 9,7 persen dengan total menyentuh berkisar 1,1 juta ton, nilainya justru merosot 14,4 persen menjadi $4,78 miliar USD jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. 

Pada bulan Juni 2026 saja, Vietnam mengapalkan berkisar 150.000 ton kopi dengan perolehan keuntungan senilai $552,6 jutan USD.

Berikut merupakan rangkuman data komparasi performa perdagangan kopi internasional:

  • Indikator Pasar: Penurunan Harga Arabika Semalam — Nilai / Volume: > $700 USD/ton — Perubahan / Status: Turun 9%
  • Indikator Pasar: Penurunan Harga Robusta — Nilai / Volume: $4,2 USD/ton — Perubahan / Status: Koreksi Pasar
  • Indikator Pasar: Realisasi Panen Brasil (per 1 Juli) — Nilai / Volume: 52% — Perubahan / Status: Lambat akibat hujan
  • Indikator Pasar: Total Ekspor Vietnam Semester I — Nilai / Volume: 1,1 juta ton — Perubahan / Status: Naik 9,7%
  • Indikator Pasar: Sisa Pasokan Domestik Vietnam — Nilai / Volume: 15-20% — Perubahan / Status: Sangat Terbatas

Secara historis, harga ekspor rata-rata untuk komoditas kopi dari Vietnam pada paruh pertama tahun 2026 bertengger di kisaran $4.435 per ton. 

Nilai rata-rata tersebut merefleksikan penurunan sebesar 22 persen apabila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.

Situasi pasar untuk saat ini senantiasa dipantau oleh para pelaku industri manufaktur makanan serta minuman global demi mengantisipasi pergeseran harga bahan baku. 

Pergerakan teknis di bursa berjangka diestimasi masih akan menggantungkan diri pada perkembangan kondisi cuaca di kawasan Amerika Selatan dalam kurun beberapa pekan ke depan.

Reporter: Ibtihal