Harga Emas Dunia Menurun Tiga Hari Beruntun Imbas Konflik AS-Iran
NEW YORK – Nilai emas dunia kembali terdepresiasi pada perdagangan Rabu (8/7/2026), melanjutkan tren penurunan menjadi tiga hari berturut-turut dan sempat terperosok ke level terendah dalam sepekan.
Kondisi pasar memburuk pasca Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan, kesepakatan sementara untuk menyudahi konflik dengan Iran sudah berakhir.
Ucapan tersebut memicu lonjakan harga minyak serta memperbesar kecemasan inflasi.
Nilai emas spot ditutup merosot 0,69% menjadi US$ 4.077,52 per ons troi, setelah sempat menyentuh titik terendah sejak 1 Juli. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus berakhir anjlok 1,7% ke posisi US$ 4.086,55 per ons troi.
Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger, mengemukakan penyusutan emas disebabkan oleh membubungnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Faktor utama pergerakan hari ini adalah eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Dengan potensi gencatan senjata yang berakhir, berbagai aset berisiko diperdagangkan lebih rendah, termasuk emas," ujar Meger sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Situasi memanas setelah Iran mengklaim membidik fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait selaku jawaban atas agresi Washington terhadap target-target Iran, menyusul insiden gempuran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Kondisi itu memicu harga minyak mentah melonjak di atas 5%.
Peningkatan harga energi berisiko menyulut inflasi yang lebih tinggi dan memacu bank sentral, termasuk The Fed, untuk kembali mengerek suku bunga demi meredam tekanan harga.
Keadaan ini menjadi sentimen negatif bagi emas lantaran logam mulia tersebut tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset) sehingga kurang memikat dalam iklim suku bunga tinggi.
Risalah The Fed
Di sudut lain, catatan rapat The Fed pada 16-17 Juni mengindikasikan para petinggi bank sentral kian cemas terhadap inflasi yang masih tinggi serta meluas.
Bahkan, sejumlah partisipan rapat memandang ada landasan kuat untuk selekasnya menaikkan suku bunga.
Merujuk CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga AS pada September menyentuh 69%, merangkak naik dari 62% pada hari sebelumnya.
Sementara itu, Bank of America (BofA) memotong estimasi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi US$ 4.360 per ons troi akibat sikap The Fed yang lebih agresif (hawkish).
Walau begitu, bank tersebut masih melihat adanya potensi harga emas menyentuh US$ 5.000 per ons troi pasca siklus pengetatan moneter usai.
Adapun komoditas logam mulia lainnya turut bergerak jatuh. Harga perak spot jatuh 2,78% menjadi US$ 58,29 per ons, platinum ambles 3,47% ke US$ 1.586,65 per ons, serta paladium anjlok 3,78% menjadi US$ 1.219 per ons.