Harga CPO Melesat Naik Ditopang Ekspor dan Reli Minyak Dunia

Traktor memindahkan hasil panen buah kelapa sawit. (Foto: Bloomberg)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:06:45 WIB

JAKARTA  – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) meroket pada Rabu (8/7/2026), pasca mengalami penurunan pada sesi terdahulu. 

Lonjakan ini dipicu oleh depresiasi mata uang ringgit, peningkatan harga minyak nabati di China serta Amerika Serikat, ditambah dengan pulihnya performa ekspor.

Melalui acuan data BMD pada penutupan Rabu (8/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 bertambah 20 Ringgit Malaysia ke angka 4.503 Ringgit Malaysia per ton. 

Kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2026 melambung 56 Ringgit Malaysia ke angka 4.572 Ringgit Malaysia per ton.

Sedangkan untuk kontrak berjangka CPO September 2026 menanjak 62 Ringgit Malaysia ke angka 4.609 Ringgit Malaysia per ton. 

Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 melaju 64 Ringgit Malaysia ke angka 4.637 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO November 2026 membubung 67 Ringgit Malaysia ke angka 4.668 Ringgit Malaysia per ton. 

Sementara itu, kontrak berjangka CPO Desember 2026 terangkat 69 Ringgit Malaysia ke angka 4.694 Ringgit Malaysia per ton.

Berdasarkan laporan Tradingview, informasi dari badan survei kargo mengindikasikan distribusi minyak sawit Malaysia untuk masa rentang 1-5 Juli tumbuh berkisar 10,6% sampai 11,1% jika disandingkan dengan periode yang sama di bulan Juni.

Sentimen suportif juga bersumber dari reli harga minyak mentah global. Agresi udara Amerika Serikat terhadap Iran serta pengaktifan kembali sanksi atas ekspor minyak Iran memicu harga minyak meroket tajam, yang pada akhirnya mendongkrak daya pikat minyak sawit selaku bahan baku pembuatan biodiesel.

Kendati demikian, lonjakan harga CPO dibatasi oleh menyusutnya angka permintaan dari India, yang merupakan konsumen minyak sawit terbesar global. 

Kegiatan impor minyak sawit India pada bulan Juni dilaporkan anjlok ke titik terendah dalam kurun 14 bulan terakhir sebagai imbas dari lesunya serapan pasar dan kian tipisnya selisih harga terhadap minyak nabati kompetitor.

Di sudut lain, pelaku pasar turut mengamati estimasi Reuters yang memproyeksikan stok minyak sawit Malaysia berpotensi menyentuh rekor tertinggi di bulan Juni, menyusul angka produksi yang melaju lebih cepat ketimbang tingkat permintaan.

Para pelaku industri juga bersikap lebih waspada menjelang publikasi laporan bulanan milik Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pekan ini, yang diyakini bakal menyajikan proyeksi terkini seputar kapasitas produksi, volume ekspor, serta cadangan minyak sawit Malaysia.

Bukan hanya itu, para pemodal pun tengah menunggu rilis data inflasi konsumen (CPI) beserta inflasi produsen (PPI) China untuk periode Juni. 

Indikator dari salah satu negara tujuan utama minyak sawit ini bakal menjadi kompas baru terkait arah tren permintaan CPO ke depannya.

Reporter: Ibtihal