Ekspor Batu Bara RI Anjlok ke India, Pasar Asia Lain Justru Melonjak

Ilustrasi Batubara. (Foto: reuters)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 07 Juli 2026 | 13:40:53 WIB

JAKARTA - Pengiriman batu bara Indonesia ke luar negeri mengalami penurunan sepanjang tahun ini, terutama ke pasar utama yaitu India. 

Harga komoditas batu bara global pun terus mengalami penurunan. Kontrak berjangka untuk thermal coal kini sudah merosot hingga di bawah US$130 per ton, sebuah level yang sebelumnya bertahan sebelum ketegangan di Timur Tengah meningkat.

Berdasarkan data Refinitiv, nilai batu bara bertengger di angka US$128,25 per ton pada 6 Juli 2026, menyusut dari hari sebelumnya. 

Selama satu bulan ke belakang, nilainya sudah terdepresiasi sebesar 15,11%. Walakin, angka tersebut masih 17,26% lebih tinggi jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Kondisi lesu ini terjadi pasca kelanjutan proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. 

Mengutip Trading Economics, sentimen positif terkait pembukaan secara penuh Selat Hormuz meredakan kekhawatiran atas terganggunya pasokan energi. 

Harga minyak mentah serta gas alam pun ikut merosot ke level sebelum konflik, sehingga urgensi pembangkit listrik untuk beralih ke batu bara menjadi berkurang.

Pasar global juga memperhatikan situasi di China. Negara tirai bambu tersebut masih konsisten dengan strategi pemanfaatan seluruh lini sumber energi dalam program lima tahunnya. 

Proyek PLTU batu bara tetap berjalan beriringan dengan akselerasi investasi pada sektor energi baru terbarukan. China bahkan tercatat sebagai kontributor terbesar dalam penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga uap dunia sepanjang 2025 lewat porsi mencapai 78%.

Di tengah tren penurunan harga di pasar global, performa ekspor batu bara Indonesia menunjukkan situasi yang bervariasi pada masing-masing negara tujuan.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa nilai dari ekspor batu bara (HS 2701) pada Mei 2026 menyentuh US2,17miliaratauberkisarRp39triliun(kursUS1=Rp 17.985).

Pencapaian ini tumbuh 4,11% bila disandingkan dengan Mei 2025 serta naik 5,14% dari April 2026.

Meski demikian, apabila dikalkulasikan secara kumulatif, total ekspor masih berada di bawah angka tahun lalu. 

Sepanjang periode Januari-Mei 2026, akumulasi nilai ekspor batu bara berada di angka US$9,75 miliar (Rp 175,35 triliun) atau terkoreksi 4,95% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Untuk volume penjualan batu bara Indonesia pada Mei 2026 berada di angka 29,03 juta ton, menyusut 13,61% secara year-on-year walaupun mengalami kenaikan 1,26% dari April 2026.

Secara kumulatif sepanjang Januari-Mei 2026, kuantitas ekspor menyentuh 143,56 juta ton, alias lebih rendah sebesar 8,19% dari periode yang sama pada tahun lalu.

India tetap bertahan sebagai negara tujuan utama bagi komoditas batu bara asal Indonesia, namun angka permintaannya melorot cukup dalam. 

Nilai penjualan ke negara itu terpangkas 18,88% secara tahunan menjadi US$411,81 miar pada Mei 2026. Bahkan, volume pengiriman anjlok hingga 37,75% menjadi tinggal 6,36 juta ton.

Sebaliknya, pasokan ke China justru melesat pada Mei. Nilai perdagangannya terangkat 19,79% dari tahun lalu menjadi US$349,88 juta, sementara kuantitasnya bertambah 5,19% menjadi 5,47 juta ton. 

Apabila disandingkan dengan bulan April, lonjakannya tercatat jauh lebih masif. Nilai ekspor melonjak 82,07%, sedangkan untuk volumenya naik sebesar 82,92%.

Sejumlah pasar di kawasan Asia lainnya juga menorehkan tren positif. Nilai perdagangan ke Jepang tumbuh 27,85% secara tahunan menjadi US209,44juta,sementarakeVietnamterkerek38229,88 juta. 

Bangladesh mencatatkan pertumbuhan sebesar 35,17%, Thailand naik 21,06%, dan Kamboja melesat hingga 61,98%.

Namun di sisi lain, daya beli dari Malaysia serta Taiwan terpantau masih lesu. Nilai ekspor ke Malaysia melemah 14,63% disandingkan dengan Mei tahun lalu, sementara Taiwan juga turun dengan persentase serupa. Kuantitas pengiriman ke dua wilayah tersebut juga ikut mengalami penyusutan.

Penurunan harga batu bara di pasar global rupanya tidak langsung berdampak pada penurunan nilai ekspor Indonesia di bulan Mei.

Melonjaknya pengiriman ke negara-negara seperti China, Jepang, Vietnam, serta beberapa negara Asia lainnya berhasil menjadi penyokong performa ekspor bulanan.

Meski begitu, total akumulasi ekspor sepanjang lima bulan pertama di tahun 2026 ini masih berada di bawah perolehan tahun lalu, baik ditinjau dari aspek nilai maupun volumenya. 

Pelaku pasar selanjutnya akan memantau apakah kelanjutan tren penurunan harga batu bara global ini akan mulai menggerus pendapatan ekspor Indonesia di paruh kedua tahun ini.

Reporter: Ibtihal