Tekanan Impor dan Kontraksi Manufaktur Jadi Tantangan Sektor Baja
JAKARTA – Sektor industri baja domestik diperkirakan bakal memasuki fase pemulihan pada paruh kedua tahun 2026 usai melewati masa yang kurang menggeliat di sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Kendati demikian, tren kenaikan volume permintaan diprediksi masih berjalan secara bertahap sejalan dengan melandainya aktivitas manufaktur serta derasnya pasokan produk baja impor.
Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Harry Warganegara, mengutarakan bahwa dinamika masa depan industri baja pada semester kedua tahun ini bakal sangat ditentukan oleh percepatan aktivitas perekonomian, realisasi pelbagai proyek konstruksi serta infrastruktur, hingga optimalisasi performa bidang manufaktur selaku elemen utama penyerap baja.
Walau begitu, kondisi pasar saat ini dinilai belum sepenuhnya pulih ke posisi normal.
Kondisi tersebut tecermin dari data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mengalami penurunan ke posisi 46,9 pada periode Juni 2026, yang menandakan lini manufaktur masih berada dalam zona kontraksi.
"Di sisi lain, industri baja nasional menghadapi persaingan yang makin ketat akibat meningkatnya tekanan baja impor," ujar Harry, Jumat (3/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Asosiasi IISIA memandang prospek di semester II 2026 dengan sikap optimis yang tetap proporsional. Harry mengimbuhkan bahwa proses kebangkitan sektor ini membutuhkan stimulus kebijakan yang mampu mendorong gairah industri pengguna produk baja sekaligus menciptakan atmosfer persaingan usaha yang lebih sehat.
Pangsa pasar domestik diperkirakan tetap menjadi tumpuan utama dalam menyokong laju pertumbuhan industri, khususnya yang bersumber dari bidang konstruksi, sarana infrastruktur, manufaktur, industri otomotif, serta pelbagai kegiatan investasi.
Di sudut lain, peluang perdagangan ekspor dinilai masih terbuka bagi produk-produk baja yang memiliki daya saing tinggi di pasar kawasan regional dan negara-negara berkembang, walaupun masih terhambat oleh lesunya permintaan global, fenomena kelebihan kapasitas produksi, serta meluasnya aturan proteksi perdagangan di sejumlah negara.
Seirama dengan proyeksi itu, manajemen PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) ikut mengutarakan analisisnya.
Chief Strategy and Business Development Officer sekaligus Corporate Secretary & Investor Relations ISSP, Johanes W. Edward, mengestimasikan konstelasi pasar baja di paruh kedua ini akan memperlihatkan kinerja yang lebih baik ketimbang paruh pertama tahun ini.
Berdasarkan pandangannya, percepatan pengerjaan infrastruktur, kelanjutan dari pelbagai proyek sektor swasta, serta realisasi belanja pada sektor manufaktur bakal menjadi elemen krusial yang mendongkrak tingkat penyerapan baja hingga pengujung tahun nanti.