Efisiensi Superholding Danantara Dongkrak Kinerja Finansial BUMN

Wisma Danantara Indonesia. (Foto: Investor Daily)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 05 Juli 2026 | 12:48:23 WIB

JAKARTA – Genap satu tahun sejak Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mengonsolidasikan manajemen aset negara, indikasi pembenahan di internal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kian terlihat jelas. 

Di bawah payung struktur superholding, pelbagai perusahaan pelat merah berhasil mencatatkan kenaikan kinerja yang signifikan. 

Berbagai kebijakan strategis seperti efisiensi operasional, pemangkasan birokrasi usaha, hingga penataan ulang lini bisnis menjadi pilar utama yang dipercaya mendorong peningkatan keuntungan.

Berdasarkan keterangan resmi, seluruh BUMN di bawah koordinasi Danantara telah menyelesaikan Laporan Keuangan Tahun Buku 2025 per 30 Juni 2026.

Meski pembukuan keuangan konsolidasi pada tingkat induk usaha masih dalam proses audit, hasil capaian di masing-masing sektor sudah memberikan gambaran awal mengenai hasil positif dari pembenahan yang tengah berjalan saat ini.

Catatan performa sepanjang setahun lalu menunjukkan tren kenaikan laba yang merata di sejumlah BUMN vital. PT Pertamina (Persero), misalnya, berhasil membukukan pertumbuhan keuntungan hingga 80% ke angka Rp24,9 triliun. 

Di sisi lain, PT Pupuk Indonesia juga mencetak pertumbuhan laba bersih mencapai 202% menjadi Rp4,8 triliun setelah menerapkan penyesuaian model bisnis menjadi mark-to-market.

Pada industri logistik, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) sukses meraup laba Rp1,5 triliun, atau melonjak 169% jika dibandingkan dengan perolehan pada periode tahun sebelumnya. 

Selain itu, optimalisasi portofolio lewat Danantara Asset Management (DAM) ikut mendorong pemulihan kinerja sejumlah emiten yang sempat terbebani masalah keuangan. 

Contoh nyatanya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) berhasil membalikkan keadaan dari merugi menjadi mencetak laba Rp635 miliar seiring keberhasilan memangkas nilai utang menjadi US$1,1 miliar.

Menanggapi rapor positif tersebut, pihak Danantara menyatakan bahwa efisiensi ini bersumber dari langkah rasionalisasi bagan usaha yang sebelumnya dinilai terlalu gemuk.

Fokus utama pembenahan difokuskan pada pemotongan jalur transaksi bertingkat antara induk BUMN dengan anak usahanya, yang selama ini disinyalir menjadi pemicu utama inefisiensi.

COO Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa kenaikan margin keuntungan ini dipicu oleh eliminasi rantai transaksi yang berlapis antara entitas induk BUMN dan anak perusahaannya. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Dony menyebutkan, 

"Efisiensi yang paling besar sebetulnya datangnya dari layering transaction, karena umumnya anak perusahaan mengerjakan pekerjaan induknya,".

Berdasarkan kalkulasi internal Danantara, langkah penyederhanaan birokrasi ini berpotensi memangkas pengeluaran operasional hingga kisaran Rp30 triliun per tahun. 

Bukan hanya itu, kebijakan menutup anak-anak perusahaan yang terus-menerus merugi diperkirakan mampu memberikan penghematan tambahan sekitar Rp20 triliun setiap tahunnya.

CEO Danantara Rosan Roeslani menggarisbawahi bahwa penataan ulang fungsi perusahaan negara ini tidak boleh hanya ditinjau dari parameter pencapaian laba bersih semata. 

Menurut penjelasannya, visi penciptaan nilai jangka panjang wajib berjalan beriringan dengan kontribusi nyata yang dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat ekonomi. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Rosan menyampaikan, “BUMN semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat,”.

Tidak terbatas pada agenda restrukturisasi korporasi, Danantara juga telah mulai menyalurkan komitmen investasinya dengan memanfaatkan dana dividen BUMN tahun buku 2025. 

Dana tersebut didistribusikan untuk menyokong pengerjaan beberapa proyek strategis nasional, seperti pembangunan ekosistem layanan Haji dan Umrah di Makkah guna memperkuat pengaruh ekonomi global Indonesia, serta pengerjaan proyek waste-to-energy (WTE) yang masuk dalam program akselerasi transisi menuju ekonomi hijau.

Reporter: Ibtihal