Dialog Damai AS-Iran Tekan Harga Minyak Brent 0,7 Persen dalam Sepekan
LONDON - Nilai jual minyak mengalami penguatan minor pada akhir pekan yang membuatnya berfluktuasi landai dalam pekan ini lantaran para pelaku pasar masih menaruh ekspektasi pada keberhasilan langkah diplomasi demi mengamankan perdamaian antara AS dan Iran.
Pada Jumat (3/7/2026), harga minyak mentah tipe Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 berakhir naik 32 sen atau 0,44% ke posisi US$ 72,12 per barel.
Di sisi lain, harga minyak mentah tipe West Texas Intermediate (WTI) tidak membukukan posisi penutupan karena aktivitas perdagangan di Amerika Serikat (AS) tengah diliburkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan yang jatuh pada 4 Juli 2026. Melalui posisi tersebut, harga Brent mencatatkan penurunan tipis 0,7% dalam kurun waktu satu minggu.
Pada hari Kamis (2/7/2026), kedua indikator harga minyak tersebut sempat menyentuh level paling rendah semenjak sebelum berkecamuknya konflik bersenjata AS-Israel melawan Iran yang bermula pada akhir Februari.
Optimisme para penanam modal terhadap pemulihan operasional pelayaran secara menyeluruh di Selat Hormuz disokong oleh bergulirnya dialog damai antara pihak AS dan Iran, ungkap analis dari Commerzbank.
"Proses pembuatan kesepakatan AS-Iran tetap rapuh tetapi berlanjut untuk saat ini, karena pertanyaan tentang tarif dan administrasi Selat Hormuz tetap kontroversial," tulis analis Citi pada hari Jumat.
"Kami memperkirakan MoU (nota kesepahaman) akan tetap berlaku, bukan karena kepercayaan tiba-tiba muncul, tetapi karena insentif untuk membatalkannya sangat rendah bagi kedua belah pihak," kata analis Citi.
Sejumlah aktivitas pengapalan dilaporkan telah berjalan kembali melewati Selat Hormuz, sebagaimana yang tertuang dalam poin kesepakatan mula-mula antara AS-Iran akan tetapi faktor risiko ketidakpastian dinilai masih tinggi pasca kedua belah pihak terlibat aksi saling serang akhir pekan lalu akibat buntut dari gempuran Iran terhadap armada kapal kargo.
Dibayangi oleh prospek kelancaran distribusi volume minyak yang lebih besar, para produsen di kawasan Teluk bergerak memacu level produksi mereka.
Berdasarkan hasil riset survei Reuters, volume produksi OPEC pada periode bulan Juni mengalami peningkatan sebesar 3,3 juta barel per hari dalam basis bulanan.
Total produksi minyak dari Kuwait meroket tajam hingga menyentuh angka 1,65 juta barel per hari pada Juni, dari yang sebelumnya berada di level 580.000 barel per hari pada Mei, menurut keterangan dari sumber yang memahami persoalan tersebut kepada Reuters pada hari Kamis.
Minimal ada lima armada kapal tanker raksasa yang memuat total 10 juta barel minyak milik Arab Saudi dilaporkan telah berlayar keluar dari Selat Hormuz.
Selain itu, korporasi Saudi Aramco terpantau mengalihkan sistem transaksi menuju penetapan harga spot dari yang sebelumnya berbasis kontrak jangka panjang demi mengonversi penjualan secara kilat di pasar Asia, mengacu pada data pengiriman dan keterangan sumber perdagangan.
"Secara keseluruhan, pemulihan pasokan di Timur Tengah melampaui ekspektasi awal kami sementara permintaan impor yang tertekan oleh Tiongkok tetap lemah," kata Rory Johnston, pendiri buletin Commodity Context.
Selaras dengan kian melimpahnya ketersediaan suplai di pasar, struktur pada perdagangan minyak telah bergeser dari kondisi backwardation menjadi contango, yang merefleksikan melandainya kekhawatiran pelaku pasar atas risiko kelangkaan stok di masa depan.
Minyak mentah jenis Brent untuk opsi pengiriman langsung ditransaksikan pada pekan ini di bawah nilai kontrak untuk pengiriman hingga periode enam bulan ke depan.
Situasi ini menjadi indikasi teranyar bahwa akselerasi pengapalan melewati Selat Hormuz telah memicu terjadinya surplus pasokan dalam jangka pendek.