Rekomendasi dan Prospek Saham PGAS Usai Harga LNG Industri Turun

Ilustrasi Kebijakan penurunan harga LNG industri menjadi US$ 13 per MMBTU mengancam margin PGAS. (Foto: PGN)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 03 Juli 2026 | 09:39:51 WIB

JAKARTA - Performa finansial dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) berpeluang menghadapi imbas akibat diterapkannya regulasi pemotongan harga gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) bagi sektor industri. 

Perusahaan ini pun dituntut untuk merumuskan langkah-langkah mitigasi guna memperkecil risiko dari pemberlakuan regulasi tersebut. 

Untuk diketahui, Kementerian ESDM merilis aturan baru berupa penurunan harga jual LNG non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menuju level US$ 13 per MMBTU, dari yang sebelumnya bertengger pada kisaran US$ 20 sampai US$ 23 per MMBTU. 

Kebijakan ini ditempuh demi menegaskan komitmen dalam menjaga daya saing sektor industri domestik secara berkelanjutan. 

Langkah penyesuaian tersebut ditempuh lewat optimalisasi pos pengeluaran serta memacu efisiensi pada seluruh lini rantai pasok LNG, meliputi harga gas di sektor hulu, ongkos pengolahan LNG, hingga aspek infrastruktur dan tata niaga. 

Melalui sistem ini, perubahan harga diterapkan secara berimbang di setiap tingkatan rantai pasok, dengan tujuan agar keuntungan dari kebijakan tersebut dapat langsung dirasakan oleh konsumen industri. 

Guna merealisasikan dukungan terhadap regulasi otoritas, PGAS menyatakan kesiapannya untuk menjalankan aturan tersebut dengan tetap menjaga kinerja profitabilitas pada sektor niaga gas maupun bisnis korporasi secara makro.

"Untuk memastikan implementasi berjalan efektif, perusahaan senantiasa melakukan koordinasi secara aktif dengan regulator dan stakeholder terkait serta menyelaraskan kebijakan komersial perusahaan dengan kebijakan pemerintah," ujar Corporate Secretary PGAS Fajriyah Usman dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/6/2026).

PGAS pun memiliki komitmen penuh dalam memelihara ketersediaan pasokan gas bumi agar selalu andal, aman, serta berkelanjutan demi menyokong kekuatan industri, memperkokoh ketahanan energi nasional, sekaligus memberikan dampak positif bagi jalannya roda perekonomian, masyarakat, serta seluruh pihak terafiliasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjabarkan, lini non-HGBT selama ini bertindak sebagai penopang laba bagi PGAS guna menutup tipisnya margin laba dari aktivitas distribusi gas lewat skema HGBT yang dipatok pada angka US$ 6,5 hingga US$ 7 per MMBTU. 

Tatkala nilai jual LNG non-HGBT dibatasi paling tinggi US$ 13 per MMBTU, otomatis celah bagi PGAS untuk mendulang keuntungan tinggi di pasar bebas menjadi kian menyempit. 

Di satu sisi, PGAS diwajibkan untuk mempertahankan nilai keekonomian dari interkoneksi infrastruktur sekaligus melunasi pembelian gas dari korporasi hulu. 

Namun di sisi lain, tarif jual menuju konsumen akhir justru dibatasi akibat adanya aturan baru tersebut.

"Jika biaya pengadaan LNG dari hulu termasuk biaya likuifaksi, transportasi, dan regasifikasi mengalami kenaikan, sementara harga jual dipatok, maka margin keuntungan bersih PGAS berpeluang besar mengalami tekanan," ujar Nafan, Kamis (2/7/2026).

Meski begitu, di sisi lain pemotongan tarif LNG non-HGBT sebenarnya berpotensi memicu lonjakan angka permintaan dari para pelanggan industri, yang pada periode sebelumnya sempat menahan laju produksi lantaran tingginya ongkos energi. 

Apabila ekspansi volume penyaluran LNG tersebut berjalan secara masif, maka dampak dari penurunan margin akibat pembatasan harga jual diproyeksikan bisa sedikit teredam.

Guna mengantisipasi ancaman tekanan pada lini bisnis distribusi gas ini, PGAS dituntut untuk memangkas ongkos operasional (operating expense/opex) melalui langkah audit ketat di sepanjang rantai pasok serta pos biaya distribusi dan transmisi, agar beban per satuan volume gas dapat ditekan seminimal mungkin. 

Selain itu, PGAS tidak dapat lagi sekadar bertumpu pada lini hilir atau distribusi gas semata. 

Peran dari entitas anak usaha di sektor hulu migas, seperti halnya Saka Energi, harus dipacu secara maksimal, khususnya tatkala pergerakan harga minyak mentah dunia atau komoditas energi internasional tengah berada di posisi yang menguntungkan. 

Bukan hanya itu, PGAS juga perlu mempercepat penyelesaian sejumlah proyek infrastruktur strategis, seperti pengerjaan jaringan pipa transmisi di bermacam wilayah.

"Peningkatan konektivitas ini akan menurunkan biaya pengangkutan serta menjangkau pasar-pasar baru yang belum terjamah," kata Nafan menambahkan.

Nafan memberikan penilaian bahwa saham PGAS untuk saat ini masih direkomendasikan wait and see

Kendati demikian, ditinjau dari rekam jejaknya sebagai korporasi yang royal dalam membagikan dividen, PGAS diyakini bakal tetap memikat para investor yang berorientasi pada keuntungan jangka panjang di tengah situasi pasar yang fluktuatif. 

Sementara untuk kebutuhan trading, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan rekomendasi buy on weakness untuk saham PGAS dengan area support bertengger di posisi Rp 1.275 per saham, lini resistance di level Rp 1.440 per saham, serta patokan target harga pada kisaran Rp 1.555 sampai Rp 1.635 per saham.

Reporter: Ibtihal