Harga Minyak Naik Tipis, Fokus Pasar Beralih ke Pasokan Global

Ilustrasi Produksi minyak dan gas bumi PT Pertamina Hulu Energi (PHE). (Dok. PHE)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 03 Juli 2026 | 09:39:51 WIB

HOUSTON – Nilai jual minyak dunia berakhir menguat pada sesi perdagangan Kamis (2/7/2026), yang dipicu oleh aktivitas short covering menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Independence Day). 

Para pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus mereka pada proyeksi ketersediaan pasokan minyak global seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Melansir dari Reuters, nilai minyak mentah Brent bertambah 23 sen (0,32%) hingga menetap di posisi US$ 71,80 per barel. Di sisi lain, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkerek naik 11 sen (0,16%) menjadi US$ 68,69 per barel.

Kendati berhasil menyudahi perdagangan di zona hijau, kedua kontrak tersebut sempat terperosok ke tingkat paling rendah sejak sebelum perselisihan antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran meletus pada akhir Februari lalu. 

Dalam akumulasi mingguan, Brent tercatat masih melemah 0,60%, sedangkan WTI mengalami penurunan 0,78%.

Mitra Again Capital John Kilduff menyatakan bahwa apresiasi harga ini cenderung didorong oleh aksi beli demi menutup posisi jual (short covering). 

"Kami melihat aksi short covering. Fokus pasar kini bergeser dari berapa banyak pasokan yang akan hilang menjadi seberapa besar pasokan yang akan masuk ke pasar," ujar Kilduff.

Kondisi pasar juga ikut dipengaruhi oleh perkembangan proses negosiasi antara AS dan Iran dengan Qatar sebagai mediatornya. 

Otoritas Qatar mengungkapkan bahwa kedua belah pihak menorehkan kemajuan dalam diskusi menuju kesepakatan damai permanen guna menyudahi konflik yang telah berjalan selama empat bulan, yang mana sempat mengganggu jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.

Walau begitu, tanda-tanda tercapainya kesepakatan final masih belum terlihat. Agenda perundingan berikutnya diproyeksikan baru akan berjalan setelah upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang digelar melewati tanggal 9 Juli.

Chief Commodities Analyst SEB Bjarne Schieldrop berpendapat bahwa saat ini pasar menilai ketersediaan minyak global dalam posisi yang cukup aman. 

"Minyak tetap mengalir melalui Selat Hormuz. Selain itu, pelepasan cadangan strategis masih berlangsung, sementara permintaan minyak dari China juga belum pulih sepenuhnya. Kondisi ini membuat harga masih berpotensi tertekan sebelum kembali pulih," tuturnya.

Catatan aktivitas pelayaran memperlihatkan sekurangnya ada lima kapal tanker raksasa yang memuat sekitar 10 juta barel minyak dari Arab Saudi telah melewati Selat Hormuz. 

Di saat bersamaan, Saudi Aramco turut memacu penjualan komoditas minyak mereka menuju Asia lewat mekanisme harga spot.

Dari kawasan Amerika Serikat (AS), Energy Information Administration (EIA) memberikan laporan bahwa stok minyak mentah lokal telah menyusut ke titik terendah sejak tahun 2018 pada pekan lalu. 

Penurunan stok ini diakibatkan oleh melonjaknya operasional kilang, sementara persediaan bahan bakar bensin terpantau ikut menipis.

Di sudut lain, UBS memilih untuk menurunkan prediksi harga minyak Brent setelah melihat laju distribusi minyak yang melewati Selat Hormuz kembali merangkak naik.

Lembaga perbankan investasi itu mengoreksi prediksi harga Brent untuk kuartal III sebesar US$ 25 menjadi US$ 80 per barel, dan memangkas proyeksi kuartal IV sebesar US$ 10 menjadi US$ 80 per barel. 

Prediksi harga untuk periode 2027 pun ikut disesuaikan menjadi US$ 75 per barel dari estimasi awal senilai US$ 85 per barel.

Sementara itu, pihak analis dari HSBC memberikan estimasi bahwa pasar bakal sanggup menyerap limpahan pasokan minyak baru dari kawasan Timur Tengah, sejalan dengan tuntasnya program pelepasan cadangan strategis oleh International Energy Agency (IEA) pada Juli ini.

Mengutip analisis HSBC, begitu surplus pasokan jangka pendek tersebut mulai terurai, harga Brent punya peluang untuk kembali merangkak ke level US$ 80 per barel atau bahkan bisa lebih tinggi dari itu.

Namun di sisi lain, tensi geopolitik tetap membayangi pergerakan pasar pasca angkatan militer Ukraina melayangkan klaim telah menggempur fasilitas kilang minyak milik Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez di area Nizhny Novgorod, Rusia, sebuah insiden yang berpeluang kembali memengaruhi peta pasokan energi dunia.

Reporter: Ibtihal