Kimia Farma Genjot BBO Lokal Demi Tekan Impor Obat Hingga 95 Persen

Produk Kimia Farma. (kimiafarma.co.id)
Penulis: Ibtihal
Senin, 29 Juni 2026 | 12:09:52 WIB

JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) secara berkesinambungan memperkuat upayanya dalam mendukung kedaulatan kesehatan di level nasional. 

Langkah strategis ini diterapkan melalui percepatan pengembangan bahan baku obat (BBO) di dalam negeri, pengoptimalan kapasitas operasional pabrik, serta peluncuran beragam produk berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bernilai tinggi. 

Program tersebut dinilai semakin vital di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok industri farmasi, memicu fluktuasi nilai tukar mata uang, hingga mengancam ketersediaan pasokan bahan baku obat.

Komitmen nyata dari korporasi ini ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam kunjungan kerjanya ke fasilitas manufaktur Kimia Farma Plant Banjaran di Bandung pada Selasa (23/6/2026). 

Kegiatan peninjauan ini dilakukan guna memantau sejauh mana tingkat kesiapan sektor farmasi domestik dalam menjaga ketersediaan obat-obatan beserta bahan bakunya.

Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma Hadi Kardoko memaparkan bahwa industri farmasi nasional saat ini masih menghadapi tantangan besar karena lebih dari 95% kebutuhan terhadap bahan baku obat harus dipenuhi lewat mekanisme impor.

"Gejolak geopolitik seperti konflik di kawasan Iran dan Timur Tengah terbukti memberikan dampak domino yang nyata, mulai dari disrupsi rantai pasok global, lonjakan biaya logistik dan energi, hingga ancaman kelangkaan bahan baku serta produk jadi di pasar domestik," ujar Hadi dalam keterangan resminya, Jumat (26/6/2026).

Menurut penjelasan Hadi, proses perwujudan ketahanan kesehatan secara nasional tidak dapat dipikul oleh pelaku industri sendirian. Langkah strategis ini memerlukan dukungan menyeluruh dari regulator, yang meliputi Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Adapun bentuk instrumen dukungan yang diperlukan mencakup penerapan regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta kebijakan Larangan dan/atau Pembatasan (Lartas) untuk komoditas obat yang dinilai telah mampu diproduksi secara mandiri di dalam negeri. 

Pola regulasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor manufaktur BBO lokal sekaligus menciptakan ekosistem yang kondusif bagi kemandirian industri farmasi tanah air.

Sampai dengan saat ini, Kimia Farma telah memproduksi BBO untuk beberapa kategori terapi utama, di antaranya obat kardiovaskular, antibiotik, hingga antiretroviral (ARV) untuk program penanggulangan HIV. 

Melalui anak usahanya, Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), emiten ini tercatat telah memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM untuk 19 varian bahan baku obat. 

Selain itu, sebanyak 18 produk di antaranya juga telah teruji lewat sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Fasilitas Plant Banjaran sendiri beroperasi sebagai kompleks manufaktur paling masif yang dimiliki oleh Kimia Farma Group dengan total luas area mencapai hampir 51.000 meter persegi. 

Pabrik tersebut memproduksi beraneka ragam bentuk sediaan obat, baik yang berbasis bahan kimia maupun obat herbal berbahan alami yang disajikan dalam rupa tablet, kapsul, cairan, hingga serbuk oral. 

Fasilitas produksi ini juga dipastikan telah mengantongi sertifikasi CPOB, Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), beserta Sistem Jaminan Halal.

Di sela-sela agenda peninjauan tersebut, Faisol Riza mengungkapkan rasa optimisme yang tinggi bahwa Indonesia dinilai mampu untuk membangun industri farmasi yang jauh lebih mandiri.

"Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan industri, kami optimistis dapat mewujudkan industri farmasi Indonesia yang semakin mandiri, berdaya saing global, dan berkelanjutan demi mendukung ketahanan kesehatan nasional," ujarnya.

Beralih pada aspek portofolio produk, Kimia Farma terus melakukan penetrasi pasar dengan memperluas lini produknya lewat peluncuran rangkaian obat baru sepanjang tahun 2025. 

Terdapat empat varian produk baru yang diperkenalkan kepada masyarakat, meliputi Fentakaf (Fentanyl Injeksi) untuk kebutuhan sektor anestesi, Sildenafil, Pantokaf (Pantoprazole) untuk terapi gangguan lambung, serta Moxifloxacin yang digunakan dalam mendukung program nasional penuntasan tuberkulosis (TB).

Perusahaan farmasi ini juga aktif mengembangkan deretan produk dengan pemanfaatan komponen lokal yang tinggi. Beberapa contoh di antaranya adalah obat antiretroviral TLE 300 mg dan TLE 600 mg yang mengantongi rasio TKDN mencapai 52,78%, serta Rosuvastatin untuk terapi gangguan kardiovaskular dengan nilai TKDN di kisaran 59%. 

Berdasarkan data dari manajemen korporasi, pencapaian angka TKDN yang berada di atas level 50% ini memberikan nilai tambah yang kompetitif dalam sistem pengadaan obat nasional sekaligus memperkuat peta jalan menuju kemandirian sektor farmasi.

Jika ditinjau dari sisi kinerja bisnis, Kimia Farma membukukan pertumbuhan volume penjualan BBO baik untuk serapan pasar domestik maupun kebutuhan ekspor yang melonjak hingga 124% sepanjang periode tahun 2025. 

Perusahaan juga agresif menjalankan transformasi bisnis dengan menggeser fokus penjualan, dari yang sebelumnya berbasis komoditas berbiaya tinggi menjadi produk inovatif yang menawarkan margin keuntungan lebih besar. 

Tidak hanya itu, KAEF secara konsisten mengupayakan pemulihan fundamental pada lini operasional melalui implementasi sistem pengadaan terpusat (centralized procurement) serta percepatan transformasi digital di seluruh ekosistem Kimia Farma Group.

Reporter: Ibtihal