JAKARTA - Nilai jual batu bara terpantau masih mengalami kejatuhan di tengah terjadinya tarik menarik sentimen pasar di wilayah Asia.
Merujuk data Refinitiv, harga batu bara pada sesi perdagangan Kamis (15/6/2026) ditutup pada level US$ 128,5 per ton. Nilai tersebut mengalami kelemahan sebesar 0,43%.
Melalui catatan tersebut, harganya tercatat telah melorot sebesar 2,3% dalam kurun waktu dua hari belakangan. Angka penutupan pada hari kemarin pun menjadi yang paling rendah semenjak tanggal 22 April 2026 atau telah berjalan dua bulan lebih.
Harga komoditas batu bara bergerak melemah di tengah situasi tarik menarik sentimen.
Volume impor batu bara termal lewat jalur perairan (seaborne thermal coal) di kawasan Asia kembali merangkak naik lantaran pihak China memperbesar volume belanja guna menutupi penurunan produksi dalam negeri, sedangkan pihak Jepang dan Korea Selatan tengah memperkokoh ketahanan energi mereka di tengah imbas perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.
Jumlah impor batu bara termal di wilayah Asia diproyeksikan bakal menembus 77,37 juta metrik ton pada Juni 2026, yang menjadi rekor tertinggi dalam periode enam bulan terakhir.
Angka itu tercatat melesat dari torehan 68,39 juta ton pada Mei, merujuk data dari lembaga analisis komoditas Kpler.
Bila dikomparasikan dengan periode yang serupa pada tahun lalu yang menyentuh angka 63,24 juta ton, catatan impor pada bulan Juni ini melompat kurang lebih sekitar 22,3%.
Tren kenaikan itu utamanya dipicu oleh pergerakan Jepang dan Korea Selatan, dua negara maju yang terbilang fleksibel untuk beralih antara penggunaan batu bara dan gas alam cair (LNG) selaku sumber energi mereka.
Harga instrumen LNG pada pasar spot melonjak secara tajam pasca-AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada tanggal 28 Februari. Selepas serangan tersebut, pihak Teheran secara efektif memblokade jalur Selat Hormuz, rute pelayaran yang dilewati kurang lebih 20% pasokan LNG global hasil produksi Qatar.
Harga LNG spot untuk rute pengiriman menuju Asia Utara melesat hingga 143%, dari posisi US$10,40 per juta British thermal units (mmBtu) pada minggu yang berakhir 27 Februari menjadi US$25,30/mmBtu pada tanggal 20 Maret.
Walau selanjutnya sempat melorot ke angka US$15,30/mmBtu pada pekan yang berakhir 19 Juni, nilainya terpantau masih 47% lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi sebelum perang pecah.
Harga batu bara dengan spek kualitas tinggi asal Australia di area Pelabuhan Newcastle melonjak kurang lebih sekitar 30%, dari level US$115,96 per ton ketika konflik dimulai menjadi US$150,25 per ton pada pertengahan Juni.
Pada hari Rabu, harga batu bara Newcastle bertengger di posisi US$134,09 per ton, atau kurang lebih sekitar 15,7% lebih tinggi bila dibandingkan saat sebelum terjadinya perang.
Walau demikian, secara relatif komoditas batu bara dinilai masih lebih murah jika dibandingkan dengan LNG semenjak perang Iran meletus. Selisih harga inilah yang memicu perusahaan utilitas listrik di kawasan Jepang dan Korea Selatan mendongkrak volume konsumsi batu bara mereka.
Jepang, selaku negara importir batu bara terbesar nomor tiga di dunia, diproyeksikan mengimpor sebanyak 7,82 juta ton batu bara termal pada bulan Juni.
Angka ini menandai pertumbuhan bulanan selama tiga kali berturut-turut serta melonjak 33% jika disandingkan dengan perolehan 5,89 juta ton pada Juni tahun lalu.
Di lain sisi, volume impor Korea Selatan diestimasikan menyentuh 7,30 juta ton, yang menjadi angka tertinggi semenjak Januari sekaligus menanjak 41% dibanding catatan 5,16 juta ton pada Juni 2025.
China yang berstatus selaku importir batu bara paling besar di dunia turut mendongkrak aktivitas pembelian mereka.
Pihak Kpler mengestimasikan volume impor batu bara termal China lewat rute laut akan menyentuh 27,65 juta ton pada Juni, merupakan yang tertinggi dalam kurun enam bulan belakangan serta melompat 48% dibanding angka 18,62 juta ton pada Juni 2025.
Berbeda halnya dengan Jepang dan Korea Selatan, lonjakan volume impor dari China bukan disebabkan oleh dampak konflik Iran, melainkan akibat dari dinamika pasaran domestik mereka sendiri.
Tingkat permintaan daya listrik berbasis pembangkit termal terpantau naik, sementara di sisi lain volume produksi batu bara dalam negeri justru mengalami kelesuan.
Data resmi memperlihatkan aktivitas pembangkitan listrik termal di China naik 2,1% pada bulan Mei, sehingga di sepanjang periode Januari-Mei mencatatkan pertumbuhan 3,4%.
Di sudut lain, performa produksi batu bara merosot 1,7% secara tahunan menuju angka 397,22 juta ton pada bulan Mei.
Selama rentang lima bulan pertama di tahun ini, jalannya produksi batu bara negara China juga menyusut sebesar 0,3% ke angka 1,98 miliar ton.
Salah satu faktor pemicunya yakni adanya peristiwa insiden kecelakaan tambang yang merenggut nyawa 82 pekerja, sehingga pihak pemerintah memperketat jalannya inspeksi keselamatan di seluruh area pertambangan.
Penerapan kebijakan tersebut mengakibatkan angka produksi menurun dan harga batu bara domestik mengalami peningkatan.
Harga batu bara termal di wilayah Qinhuangdao, merujuk data konsultan SteelHome, merangkak naik menuju angka 860 yuan (kurang lebih sekitar US$126,28) per ton, yang menjadi rekor tertinggi sejak Oktober 2024.
Pada tingkat harga tersebut, komoditas batu bara asal Indonesia dengan kualitas rendah maupun batu bara asal Australia dengan kualitas menengah dinilai menjadi lebih kompetitif bila dibandingkan dengan batu bara domestik milik China, sehingga memicu korporasi listrik China mendongkrak aktivitas impor lewat rute laut.
Berbanding terbalik dengan kondisi negara Asia lainnya, pihak India terpantau belum menaikkan volume impor batu bara mereka.
Impor batu bara termal melalui rute jalur laut diestimasikan berada di angka 12,32 juta ton pada Juni, relatif konstan bila disandingkan dengan torehan 12,27 juta ton pada Mei, namun tercatat menyusut dari angka 14,14 juta ton pada Juni tahun lalu.
Adanya kenaikan harga batu bara diproyeksikan memicu korporasi pembangkit listrik di India menahan aktivitas pembelian, meskipun performa produksi domestik mereka belum memperlihatkan kenaikan yang masif.
Sebagai gantinya, pihak India mengoptimalkan pemanfaatan dari persediaan batu bara yang masih tersedia sekaligus mengakselerasi penerapan energi terbarukan.
Produksi daya listrik dari lini energi terbarukan India melompat sebesar 29,3% pada Mei bila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, sehingga menyumbangkan rekor sebesar 17,9% dari kumulatif pembangkitan listrik nasional.