Aksi Jual Asing Berlanjut, Ini Sektor Paling Rentan Dampak MSCI

Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: ANTARA)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 25 Juni 2026 | 12:53:55 WIB

JAKARTA – Aksi lego oleh penanam modal asing di bursa saham domestik diproyeksikan masih belum akan mereda seluruhnya pasca Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis hasil MSCI Market Classification Review untuk edisi Juni 2026 pada Rabu (24/6/2026). 

Kalangan analis mengestimasi deretan saham papan atas, khususnya pada sektor keuangan, energi dan komoditas, serta pertelekomunikasian, punya potensi untuk dilepas oleh investor mancanegara.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan bahwa lini bisnis yang paling berisiko menghadapi tekanan jual asing merupakan sektor yang mendominasi porsi indeks MSCI sekaligus menjadi instrumen favorit bagi pemodal internasional. 

Sektor-sektor tersebut menjadi pilar utama penggerak likuiditas pasar, sehingga pergerakannya menjadi sangat sensitif atas perubahan sentimen investor dari luar negeri.

“Sektor yang paling rentan adalah yang memiliki bobot terbesar dalam indeks MSCI Indonesia dan menjadi favorit asing (pembawa likuiditas), yaitu perbankan, energy and commodity, maupun telekomunikasi,” ujar Nafan, sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Kendati demikian, aliran modal asing berpeluang untuk mengalir kembali masuk ke bursa saham tanah air sebelum pelaksanaan peninjauan indeks MSCI berikutnya pada November 2026.

Kembalinya likuiditas asing tersebut bakal sangat bergantung pada kombinasi indikator global maupun domestik, yang mana salah satunya ialah peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, lewat pemotongan suku bunga acuan. 

Kebijakan itu diharapkan mampu mengerek sentimen risk-on ke arah aset-aset di pasar negara berkembang (Emerging Markets), termasuk di Indonesia.

“Arus modal asing dapat kembali masuk jika dipicu oleh faktor-faktor krusial seperti pelonggaran kebijakan moneter (penurunan suku bunga) oleh The Fed yang dapat memicu risk-on sentiment ke Emerging Markets,” papar Nafan, sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Di samping indikator global, pelaku pasar luar negeri pun turut menaruh perhatian pada performa fundamental dalam negeri, seperti rilis laporan keuangan emiten yang impresif serta laju pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten terjaga di atas level 5 persen.

Nafan memberikan catatan tambahan bahwa pemberian stimulus serta kepastian hukum atas regulasi anyar dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelang evaluasi November 2026 berpeluang menjadi sentimen positif bagi pasar.

 Investor asing saat ini juga tengah menanti penyegaran yang bersifat fundamental, seperti penguatan transparansi tata kelola perusahaan (corporate governance), jaminan kepastian hukum, hingga penambahan likuiditas di pasar.

Pada sesi penutupan pasar hari Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sedalam 3,56 persen atau merosot sebanyak 217 poin menuju posisi 5.884. 

Berdasarkan catatan data Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa investor mancanegara mencatatkan aksi jual bersih (net sell) dengan total mencapai Rp 1,23 triliun yang menekan laju saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps).

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi instrumen yang paling masif dilego asing dengan nilai jual bersih menyentuh Rp 273 miiliar. 

Di sudut lain, di tengah bergulirnya tekanan jual tersebut, pemodal asing terpantau masih merealisasikan akumulasi beli pada saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan torehan nilai beli Rp 219 miliar.

Pelemahan pasar berlangsung secara menyeluruh yang ditandai dengan jatuhnya 611 saham, sedangkan 98 saham bergerak naik, dan 104 saham lainnya bergerak stagnan. 

Aktivitas transaksi di pasar modal terpantau padat dengan nilai transaksi harian menembus angka Rp 15,16 triliun, yang mengakibatkan jumlah kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut menuju level Rp 10.338,13 triliun.

Reporter: Ibtihal