Segera Melantai di Bursa, JECX dan BACH Bersiap Gelar IPO

Saham BACH Siap Melantai di Bursa! Cek Rencana Usai IPO dan Bisnis Inti Perusahaan (Foto: sinarharapan.co)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:47:30 WIB

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia bakal segera menyambut kedatangan dua emiten anyar yang akan melantai di pasar modal. 

PT Nitrasanata Dharma, pengelola jaringan rumah sakit mata JEC Eye Hospitals & Clinics, dan PT Bach Multi Global yang beroperasi di sektor infrastruktur telekomunikasi, tengah bersiap menyelenggarakan penawaran umum perdana saham (IPO).

PT Nitrasanata Dharma dengan menggunakan kode saham JECX melepas maksimal sekitar 487,98 juta lembar saham atau setara dengan 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. 

Di samping itu, JECX turut menawarkan 162,88 juta saham divestasi kepunyaan Dr. Waldenius Girsang, Sp.M(K) yang setara dengan 2 persen dari total modal tersebut.

Saham gres beserta saham divestasi tersebut ditawarkan pada rentang harga kisaran Rp 1.200–Rp 1.400. Secara kumulatif, JECX berpeluang mengumpulkan dana hingga Rp 683,17 miliar, dengan rincian Rp 455,45 miliar didapat dari penerbitan saham baru dan Rp 227,72 miliar bersumber dari penjualan saham divestasi.

Di kutub berbeda, PT Bach Multi Global (BACH) menyodorkan maksimal 615 juta lembar saham baru atau setara dengan 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. BACH menetapkan koridor harga penawaran pada kisaran Rp 400–Rp 500 per saham.

Lewat langkah korporasi ini, BACH berpotensi memperoleh suntikan dana segar berkisar antara Rp 246 miliar hingga Rp 307,50 miliar. 

Menengok pada aspek alokasi dana, JECX menjatahkan Rp 40 miliar demi pelunasan pokok utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) serta Rp 100 miliar mengalir ke PT Bank HSBC Indonesia.

Sebanyak Rp 185 miliar dari perolehan dana IPO JECX bakal disuntikkan ke entitas anak usaha, yaitu PT Nitra Sanata Bali, PT Orbita, dan PT JEC Candi Sejahtera. 

Sementara itu, BACH memproyeksikan penggunaan dana sebesar Rp 91,02 miliar untuk penyelesaian utang ke PT Bank Permata Tbk dan sisa dana senilai Rp 213,48 miliar diposkan bagi modal kerja pengadaan genset.

Pihak manajemen JECX memaparkan performa operasional perusahaan memperlihatkan tren pertumbuhan positif dalam dua tahun terakhir, yang diindikasikan oleh naiknya angka kunjungan pasien serta aktivitas tindakan medis. 

"Peningkatan pendapatan tersebut mencerminkan pertumbuhan aktivitas layanan kesehatan mata yang dilakukan oleh grup perseroan selama periode tersebut," ujar Manajemen JECX dalam prospektusnya, Senin (22/6/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Perolehan pendapatan JECX untuk tahun buku 2025 tercatat menyentuh Rp 926,76 miliar, terkerek naik 7,59 persen dari posisi tahun 2024 yang bernilai Rp 887,71 miliar. Ekspansi ini disokong oleh penguatan taktik pemasaran, implementasi teknologi kedokteran, hingga pengembangan jaringan fasilitas kesehatan.

Sedangkan BACH mencatatkan pendapatan tahun 2025 senilai Rp 1,73 triliun, melonjak 39,66 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang bertengger di angka Rp 1,24 triliun. Lonjakan itu digerakkan oleh peningkatan performa pendapatan dari lini niaga dan penyewaan genset korporasi.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memaparkan bahwa para pemodal perlu mencermati anggaran belanja modal dari operator telekomunikasi serta fluktuasi harga komoditas guna memproyeksikan kinerja BACH ke depan. 

Mengenai JECX, poin utama yang krusial diperhatikan yaitu tingkat daya beli masyarakat segmen menengah ke atas serta dinamika regulasi pada industri kesehatan domestik.

Nafan memberikan saran bagi investor untuk menakar rasio penilaian pasar seperti P/E dan PBV terhadap rata-rata industri sejenis. Investor juga diharapkan menyoroti porsi dana perolehan IPO yang dimanfaatkan untuk ekspansi usaha apabila disandingkan dengan porsi penyelesaian utang.

“Perhatikan juga jika ada porsi saham divestasi dari pemegang saham lama yang dijual ke publik, seperti pada skema JECX, karena dana dari porsi divestasi tersebut mengalir ke pemegang saham penjual, bukan masuk ke kas perusahaan untuk ekspansi,” jelas Nafan kepada Kontan, Senin (22/6/2026), sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Nafan menambahkan, besaran porsi free float yang terhitung minim pada kedua korporasi tersebut berpotensi memicu pergerakan harga saham menjadi kurang likuid sesudah resmi melantai di bursa. 

Walau demikian, kondisi itu justru dapat memicu fluktuasi harga yang tergolong tinggi pada fase awal perdagangan.

Reporter: Ibtihal