Rupiah Melemah ke Rp17.859 Per Dolar AS Saat Indeks Dolar Naik

Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 24 Juni 2026 | 09:52:13 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berakhir turun sebesar 0,09% atau terpangkas 16 poin menuju posisi Rp17.859 per dolar AS pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026). Di waktu yang bersamaan, indeks dolar AS terpantau menguat 0,11% ke posisi 101,13. 

Senior Currency Analyst MUFG, Lloyd Chan berpandangan bahwa langkah Bank Indonesia (BI) mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh 5,75% pada RDG Juni 2026 bakal menyokong perlambatan laju penurunan nilai rupiah dalam jangka pendek. 

Sebagaimana dipahami, sebelum otoritas moneter mengambil tindakan untuk menaikkan BI Rate bulan ini, nilai rupiah sempat terperosok hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS.

"Namun, meningkatnya ketidakpastian global kemungkinan akan membatasi pemulihan rupiah yang berkelanjutan. Likuiditas dolar AS di dalam negeri tetap ketat, menunjukkan adanya permintaan dasar yang masih kuat terhadap dolar. Tekanan eksternal tetap ada, termasuk tingginya yield AS dan harga minyak yang tinggi," ujarnya dalam riset, dikutip Selasa (23/6/2026).

Melihat indikator pada sektor riil, angka surplus perdagangan menyusut drastis ke posisi US$89 juta pada April 2026, dari raihan sebelumnya sebesar US$3,3 miliar pada Maret 2026. 

Di sisi lain, jumlah cadangan devisa merosot menuju angka US$144,9 miar dari posisi US$156,5 miliar pada Desember 2025. 

Bersamaan dengan itu, lonjakan inflasi sektor pangan sebesar 6,2% yoy dinilai mempertegas risiko penyebaran inflasi yang lebih meluas.

Di tengah situasi rupiah yang masih dibayangi oleh tekanan, Lloyd memproyeksikan bakal ada katrolan tambahan pada BI Rate sebesar 25 bps pada triwulan III/2026, yang berpeluang terlaksana paling cepat pada bulan Juli 2026. 

Ia menggarisbawahi bahwa kemudi kebijakan BI saat ini telah kentara beralih ke arah pengetatan yang merefleksikan kecemasan atas stabilitas kurs mata uang serta meningkatnya ancaman inflasi.

Lloyd memprediksi untuk jangka pendek pergerakan rupiah bakal bergulir dalam rentang Rp17.500 sampai Rp17.800 per dolar AS. Kenaikan jangka pendek tersebut dinilai akan sangat bertumpu pada deeskalasi konflik geopolitik.

"Namun, dengan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah, risiko cenderung mengarah ke atas. Risikonya adalah konflik berlanjut hingga kuartal III, dengan rupiah bergerak sedikit lebih tinggi kembali menuju Rp18.200. Dalam kondisi ini, lonjakan kenaikan secara episodik masih mungkin terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global," tandasnya.

Reporter: Ibtihal