Pasar Wait and See Agenda BI dan Fed, Cermati Rekomendasi Saham Ini

Ilustrasi Memantau IHSG. (Foto: insight.kontan)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:23:04 WIB

JAKARTA  - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026) diestimasi akan berjalan dalam rentang terbatas, menyusul sikap mengamati keadaan (wait and see) dari para pemodal terhadap sederet agenda krusial dari dalam negeri maupun mancanegara. 

Dari aspek domestik, sorotan tertuju pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diproyeksikan bakal menetapkan arah naik atau tidaknya BI Rate. 

Di samping itu, para penanam modal juga mencermati jalannya MSCI Global Market Accessibility Review, rebalancing index FTSE, serta MSCI Annual Market Classification Review lantaran hasilnya berpotensi memengaruhi arus masuk keluar dana asing dan atmosfer terhadap pasar saham dalam negeri. IHSG diestimasikan masih akan melaju dalam kisaran terbatas.

Posisi 6.178-6.058 menjadi wilayah support, sedangkan rentang 6.287-6.516 merupakan wilayah resistance.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan bahwa para investor tidak sekadar menantikan putusan terkait Federal Funds Rate, namun juga memantau proyeksi ekonomi yang dipublikasikan oleh Federal Reserve (The Fed), termasuk pandangan mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga kondisi pasar tenaga kerja. 

Sebagai informasi, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate pada rentang 3,5-3,75 persen dalam pertemuan perdana yang dinakhodai oleh Ketua The Fed Kevin Warsh, Rabu (17/6/2026) waktu setempat. 

Di pasar domestik, fokus terarah pada ketetapan BI Rate yang bakal berdampak pada kondisi likuiditas, nilai tukar rupiah, serta masa depan pasar keuangan di tanah air.

“Fokus utama pelaku pasar tetap tertuju pada hasil FOMC (Federal Open Market Committee) The Fed terkait keputusan Fed Rate, serta FOMC Economic Projections, maupun RDG BI dalam rangka pengumuman BI Rate,” ujar Nafan, Rabu (17/6/2026).

Lebih jauh lagi, para pelaku pasar turut mengamati arah perkembangan geopolitik global, terutama yang berkaitan dengan potensi tercapainya pakta perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. 

Pemulihan hubungan kedua negara tersebut dinilai dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sehingga mampu menekan nilai minyak mentah dunia hingga ke bawah level 80 dollar AS per barrel.

Adapun, sejumlah analis membagikan beberapa saham yang dapat diperhatikan oleh investor ritel pada sesi perdagangan Kamis, berikut adalah daftarnya;

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai pergerakan saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) terpantau masih tertahan pada wilayah resistance 780-790. 

Walakin, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) terpantau masih mengindikasikan adanya penguatan tren. 

Kendati demikian, saham BJBR saat ini memiliki potensi untuk mengalami koreksi jangka pendek atau berayun melemah sebelum melanjutkan laju penguatannya. 

Audi menyarankan speculative buy untuk saham BJBR dengan batasan level support di Rp 750 serta resistance di Rp 830. Sementara itu, Analis BCA Sekuritas, Achmad Yaki, mengamati pergerakan dari saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). 

Menurut penilaiannya, saham AKRA membentuk pola inverted hammer dengan indikator stochastic yang memperlihatkan dead cross pada wilayah overbought. 

Walaupun begitu, indikator MACD terpantau masih berpotensi membentuk golden cross, di saat volume transaksi cenderung mengalami penurunan. 

Situasi tersebut membuka peluang untuk melakukan akumulasi jika harga sanggup bertahan pada rentang Rp 1.195-Rp 1.215 dan kembali mengalami kenaikan (rebound). Ia menyarankan speculative buy untuk saham AKRA dengan posisi support di Rp 1.150 dan resistance di Rp 1.310.

Di sudut lain, Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, berpandangan bahwa saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) masih memiliki peluang untuk membentuk lower low guna menguji wilayah support Fibonacci pada posisi Rp 358. 

Pergerakan harga saham ISSP dalam grafik harian tercatat masih berada di bawah garis MA20 sehingga tekanan dari aksi jual dinilai masih cukup dominan. 

Namun, potensi pembalikan arah atau trend reversal dapat terwujud jika batas support Rp 358 sanggup dipertahankan. Ivan menyarankan strategi buy on weakness pada kisaran harga Rp 360-Rp 370. Adapun level support ISSP berada pada posisi Rp 358, sedangkan tingkat resistance berada di Rp 400 dan Rp 414.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Reporter: Ibtihal