Saham ANTM Anjlok 25 Persen, BUMN Tambang Ini Sebar Dividen Rp 5 Triliun

Ilustrasi Antam. (Foto: dok. MIND ID)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 11 Juni 2026 | 10:41:12 WIB

JAKARTA - Salah satu emiten milik badan usaha milik negara (BUMN) dijadwalkan bakal mendistribusikan dividen tunai dalam jumlah fantastis pada fase pertengahan tahun 2026 ini. 

Hal yang kian memikat, momentum pengalokasian dividen bernilai besar ini bergulir tepat pada saat grafik harga saham dari korporasi pelat merah tersebut tengah merosot dalam. 

Emiten BUMN yang baru saja memublikasikan agenda pembayaran dividen tunai bernilai jumbo ini ialah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Korporasi pertambangan komoditas emas serta nikel ini bakal menggelontorkan total dividen tunai menyentuh Rp 5,05 triliun untuk para investor untuk tahun buku 2025. 

Ketetapan strategis tersebut resmi disepakati lewat forum Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada hari Rabu (10/6/2026). 

Besaran nilai dividen ini setara dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) pada level 70% dari akumulasi keuntungan bersih tahun 2025. Rasio persentase ini tercatat lebih rendah jika dikomparasikan dengan DPR pada periode tahun sebelumnya yang mampu menyentuh level 100%.

Merujuk pada publikasi laporan Stockbit Sekuritas, estimasi nilai dividen ANTM diproyeksikan berada di kisaran Rp 210 untuk setiap lembar saham. 

Bersandarkan pada angka penutupan perdagangan saham ANTM yang bertengger di level Rp 2.750 per lembar pada Rabu (10/6), tingkat dividend yield yang ditawarkan berada pada kisaran 7,6%. 

Grafik saham ANTM sendiri terpantau terus merosot dalam kurun waktu belakangan dengan koreksi sebesar 130 poin atau melemah 4,51% secara harian pada hari Rabu kemarin. 

Sepanjang aktivitas transaksi 30 hari ke belakang, nilai pasar saham ANTM dilaporkan telah menyusut sedalam 950 poin atau jatuh berkisar 25,68%.

Kinerja Keuangan ANTM 2025 Tumbuh Signifikan

Pihak ANTM membukukan pencapaian laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di angka Rp 7,21 triliun sepanjang tahun buku 2025. 

Dari total profit tersebut, berkisar Rp 2,16 triliun diputuskan posisinya sebagai saldo laba ditahan guna membiayai agenda ekspansi usaha serta menyokong pemenuhan operasional internal perusahaan.

 Sepanjang perputaran tahun 2025, ANTM berhasil meraup omset pendapatan di level Rp 84,64 triliun, atau terkerek naik hingga 22% apabila disandingkan dengan raihan periode tahun sebelumnya yang bertengger di angka Rp 69,19 triliun. 

Mayoritas dari total pendapatan tersebut, yakni berkisar 96% atau setara Rp 81,10 triliun, didominasi oleh serapan pasar domestik. 

Akselerasi omset pendapatan ini turut memicu lonjakan laba tahun berjalan hingga mencapai 106% menjadi Rp 7,92 triliun dari posisi Rp 3,85 triliun pada periode 2024. 

Di samping itu, perolehan EBITDA terkerek naik sebesar 56% ke level Rp 10,51 triliun, sementara pos keuntungan usaha melesat tajam hingga 180% menuju angka Rp 8,40 triliun.

Direktur Utama ANTM Untung Budiharto menyatakan bahwa pencapaian tersebut semakin memperkuat posisi perusahaan sebagai perusahaan pertambangan mineral terintegrasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.

"Kinerja 2025 memperkuat posisi ANTM sebagai perusahaan pertambangan mineral terintegrasi yang mampu memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, dan pembangunan industri nasional," ujar Untung dalam keterbukaan informasi.

Neraca dan Arus Kas Semakin Solid

Ditinjau dari aspek fundamental, akumulasi total aset yang dimiliki ANTM merangkak naik sebesar 18% ke posisi Rp 52,53 triliun.

 Di koridor lain, sektor ekuitas tercatat tumbuh sebesar 14% menuju angka Rp 36,60 triliun. 

Aliran kas dari aktivitas operasional juga membukukan tren penguatan sebesar 53% hingga menyentuh level Rp 5,62 triliun. 

Sektor posisi kas beserta setara kas bahkan melonjak signifikan hingga 77% menuju angka Rp 8,43 triliun, yang mencerminkan tingkat likuiditas korporasi yang bertransformasi semakin prima.

Segmen Emas Masih Menjadi Motor Utama

Lini bisnis komoditas emas konsisten menjadi kontributor paling dominan bagi pendapatan ANTM lewat sumbangsih berkisar 79% dari akumulasi total volume penjualan.

 Angka omset dari lini usaha emas ini mampu mencapai posisi Rp 66,47 triliun, atau tumbuh positif sebesar 15% jika disandingkan dengan performa tahun sebelumnya. 

Capaian impresif tersebut ditopang oleh aktivitas penjualan emas dengan volume mencapai 37.365 kilogram, seiring tingginya animo pasar domestik terhadap instrumen investasi pelindung nilai (safe haven).

Lini bisnis komoditas nikel menyumbangkan angka pendapatan sebesar Rp 14,85 triliun atau mencakup berkisar 18% dari total omset perusahaan. 

Hasil pencapaian ini mencerminkan lonjakan sebesar 56% dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya. Volume produksi untuk komoditas bijih nikel tercatat menyentuh angka 16,11 juta wet metric ton (wmt), alias melesat naik hingga 62% secara tahunan (year-on-year). 

Sektor penjualan bijih nikel pun ikut melambung setinggi 75% menuju posisi 14,58 juta wmt. Hasil torehan tersebut bertransformasi menjadi level produksi sekaligus penjualan paling maksimal bagi ANTM dalam kurun waktu lebih dari satu dekade belakangan.

Bisnis Bauksit dan Alumina Tumbuh Pesat

Lini bisnis komoditas bauksit beserta alumina menorehkan angka pendapatan di level Rp 2,92 triliun, atau mengalami akselerasi sebesar 62% dibanding tahun sebelumnya. 

Volume produksi untuk bauksit melesat tajam hingga 112% menuju posisi 2,83 juta wmt, disusul oleh sektor penjualan yang terkerek naik sebesar 157% ke angka 1,89 juta wmt. 

Kedua pencapaian ini sukses memecahkan rekor paling tinggi sepanjang sejarah historis berdirinya korporasi. 

ANTM juga mengumumkan raihan volume produksi untuk chemical grade alumina (CGA) sebesar 181.690 ton dengan tingkat penjualan yang mampu menyentuh angka 179.828 ton. 

Nominal tersebut menjadi level paling maksimal semenjak infrastruktur pengolahan CGA resmi dioperasikan pertama kali.

Melalui tren akselerasi profit yang kokoh, struktur neraca keuangan yang kian mapan, serta pemecahan rekor volume produksi pada deretan komoditas andalan, ANTM memperlihatkan bahwa fondasi bisnis korporasi tetap berjalan prima sekaligus konsisten menghadirkan nilai tambah bagi para investornya melalui skema pembagian keuntungan yang atraktif.

Reporter: Ibtihal