Harga Batu Bara Anjlok Usai Sentuh 150USD, Warning Bagi Eksportir RI

Ilustrasi Batu Bara. (Foto: net)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 10 Juni 2026 | 10:26:00 WIB

JAKARTA - Nilai jual komoditas batu bara dilaporkan anjlok setelah sebelumnya sempat melonjak hingga menembus angka US$ 150 per ton. 

Bersandarkan pada data Refinitiv, grafik harga batu bara pada sesi perdagangan Senin (8/6/2026) disudahi pada level US$146,95 per ton atau mengalami kemerosotan sebanyak 2,26%.

Penyusutan ini berbanding terbalik dengan lonjakan performa yang terjadi pada hari Senin, di mana nilai jual batu bara sempat melesat ke angka US$ 150,35 per ton. 

Kedudukan tersebut menjadi torehan paling tinggi semenjak Oktober 2024 atau dalam kurun waktu 20 bulan alias nyaris dua tahun.

Melorotnya nilai jual batu bara ini berjalan selaras dengan koreksi harga minyak mentah mengingat kedua komoditas tersebut bertindak sebagai barang substitusi.

Pada sesi perdagangan hari Selasa kemarin, produk kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat menyusut 3,4% dan disudahi di angka US$88,20 per barel.

Di waktu yang sama, komoditas minyak jenis brent ikut merosot 2,98% menuju level US$ 91,45 per barel. 

Angka penutupan perdagangan kemarin menjadi yang paling rendah semenjak 20 April 2026 atau dalam jangka waktu tujuh pekan terakhir.

Kendati secara global menunjukkan tren melemah, nilai jual batu bara termal pada area dermaga utama di China bagian utara terdeteksi masih bertahan solid walaupun tingkat penyerapan pasar belum sepenuhnya pulih.

Melonjaknya nilai jual batu bara di area pertambangan bertindak sebagai penyokong utama pasar usai beberapa korporasi produsen di wilayah pemasok utama China mulai mengerek harga jual mereka, di tengah membaiknya tingkat permintaan dari para pelaku dagang serta sektor non-kelistrikan, ditambah masih ketatnya regulasi pengawasan keselamatan tambang.

Akan tetapi, ruang bagi kelanjutan kenaikan harga diprediksi bakal terbatas. Hal tersebut dikarenakan tingkat konsumsi dari sektor hilir masih terbilang sepi, sementara jumlah persediaan batu bara di dermaga utama wilayah Bohai terpantau tetap menggunung. 

Akumulasi stok gabungan pada pelabuhan Qinhuangdao, Caofeidian, Jingtang, dan Huanghua terdata menyentuh kisaran 28,8 juta ton pada awal Juni.

Di sisi lain, sektor pasar batu bara impor tengah didera tekanan. Produk batu bara asal Indonesia dengan kadar kalori rendah (low-CV) untuk pengapalan cepat mencatatkan penurunan harga sebagai imbas dari melimpahnya total pasokan serta tingginya angka persediaan di dermaga China bagian selatan. 

Situasi tersebut memaksa sejumlah korporasi penjual menyodorkan potongan harga guna memikat atensi para pembeli.

Bahkan, terdapat beberapa pemasok yang mengambil opsi untuk melepas kargo muatan dengan nilai lebih murah ketika armada kapal sudah merapat ke pelabuhan tujuan, demi mengantisipasi membengkaknya ongkos demurrage atau biaya tunggu kapal. 

Walaupun pasar spot masih lesu, nilai untuk kontrak forward relatif sanggup bertahan lantaran para pelaku pasar memproyeksikan pasokan berpotensi lebih ketat pada semester II-2026.

Bagi pihak Indonesia, situasi ini menjadi alarm peringatan bahwa prospek jangka pendek untuk komoditas batu bara berkalori rendah masih dibayangi tekanan. 

Tingginya angka persediaan di negara China, limpahan pasokan, serta lemahnya aktivitas transaksi beli spot berpotensi menahan laju kenaikan harga ekspor. Kendati demikian, sokongan dari meningkatnya ongkos produksi batu bara domestik China diprediksi dapat membendung kejatuhan harga secara lebih dalam.

Sementara itu, sektor pasar kokas metalurgi di China memperlihatkan pergerakan yang berbeda. Nilai jual kokas pada pasar fisik terdata masih cukup kokoh akibat ditopang oleh mahalnya harga batu bara kokas (coking coal) serta keterbatasan pasokan. 

Namun, produk kontrak berjangka (futures) kokas justru didera tekanan lantaran para investor mulai mencemaskan prospek penyerapan baja di masa mendatang serta maraknya aktivitas ambil untung (profit taking).

Disparitas arah antara sektor pasar fisik dan pasar berjangka tersebut mengindikasikan bahwa para pelaku pasar masih melihat adanya sokongan biaya dalam jangka pendek, namun mulai mengantisipasi potensi penyusutan permintaan yang dapat menekan nilai jual kokas dalam beberapa bulan ke depan.

Reporter: Ibtihal