Imbas Rupiah Jeblok ke Rp18.020, Ritel RANC dan MIDI Naikkan Harga

Pelanggan Memilih Belanjaan. (Foto: https://insight.kontan.co.id/)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 05 Juni 2026 | 12:32:01 WIB

JAKARTA – Beberapa pelaku usaha ritel mengabarkan bahwa mereka telah mengeksekusi penyesuaian terhadap kenaikan harga produk-produk yang mempunyai kandungan bahan baku impor di taraf konsumen. 

Langkah ini terpaksa diambil berbarengan dengan masih terus melajunya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data dari TradingView, nilai tukar rupiah terpantau melewati koreksi yang kian mendalam hingga melampaui level Rp18.020 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026).

Direktur Finance PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) Suantopo Po memaparkan bahwa komoditas ritel yang mengandalkan unsur impor layaknya susu, kacang hijau, hingga kedelai menjadi jenis produk yang paling rentan tersengat dampak negatif dari amblesnya nilai tukar rupiah tersebut. Menurut pemaparannya, andai terjadi lonjakan harga dari pihak produsen akibat depresiasi rupiah, maka pihak peritel pun mau tidak mau bakal menyesuaikan harga jualnya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Suantopo Po menyampaikan, “Contohnya seperti susu atau bahkan kacang hijau atau kedelai, impor pasti. 

Produk yang menggunakan bahan baku tersebut pasti akan mengalami [kenaikan biaya]. Pada prinsipnya apabila ada kenaikan harga, ya pasti otomatis kami akan menaikkan harga juga,” ujarnya pada Kamis (4/6/2026).

Kendati demikian, ia memberikan penegasan bahwa peritel pada dasarnya cuma berperan sebagai rantai distribusi yang mengekor pada regulasi harga yang dideklarasikan oleh pihak penyuplai.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia menambahkan, “Kami adalah retailer. Jadi mungkin ada atau tidak ada kenaikan harga kembali tergantung pada pabrikan,” ucapnya.

Di tengah atmosfer tekanan ekonomi tersebut, MIDI menyatakan tetap optimistis menatap prospek bisnis pada tahun ini. 

Pihak perseroan menilai bahwa sektor ritel yang bergerak di bidang kebutuhan primer harian masih mempunyai karakteristik defensif, sehingga relatif lebih kokoh dalam mengarungi berbagai macam guncangan ekonomi.

Di samping berfokus mengekspansi jaringan bisnisnya, Perseroan juga terus memperkokoh ekosistem digitalnya lewat pengembangan aplikasi belanja daring bernama Midi Kriing agar menjadi kian ramah pengguna (user-friendly).

Sampai dengan akhir tahun 2025, total jumlah anggota Alfamidi sudah menembus angka 7,02 juta pelanggan, yang menyumbang kontribusi mencapai 49,8% dari total keseluruhan penjualan Perseroan.

Dalam melewati situasi pasar yang kian kompetitif, Alfamidi pun mempraktikkan strategi optimalisasi jaringan gerai lewat analisis preferensi dari para pelanggan. 

Hal ini diaplikasikan demi menyelaraskan ketersediaan barang, menyuguhkan program promosi yang relevan, serta menghadirkan sebuah pengalaman berbelanja yang jauh lebih personal untuk para konsumen.

Penyesuaian Harga Ranch Market

Sikap yang seirama juga diutarakan oleh manajemen pengelola Ranch Market, yakni PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC). 

Pihak perseroan membenarkan bahwa langkah penyesuaian harga memang sudah mulai diimplementasikan pada sebagian besar produk yang disalurkan oleh vendor.

Direktur RANC Hady Purnama memaparkan bahwa lonjakan harga jual tersebut sejatinya bermula dari para pemasok yang sudah lebih dahulu mengesekusi penyesuaian harga akibat beban biaya operasional yang mereka tanggung.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia menjelaskan, “Sebagian besar sudah ada penyesuaian, because pihak vendornya sendiri sudah melakukan penyesuaian harga,” tuturnya.

Pihak perseroan pun memantapkan pilihan untuk lebih fokus dalam mengawal pertumbuhan penjualan dengan cara mendongkrak daya tarik gerai serta memperkuat skema promosi mereka. 

Strategi ini diaplikasikan di tengah situasi daya beli masyarakat yang masih lesu disertai nilai tukar rupiah yang terus-menerus tertekan.

Pihak manajemen memproyeksikan bahwa kesuksesan dalam menjaga stabilitas angka kunjungan pelanggan akan menjadi instrumen yang sangat krusial dalam mengejar target pendapatan di tahun ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia mengatakan, “Kami akan terus berusaha dengan kondisi daya beli masyarakat yang lemah dan nilai rupiah yang terus turun. Bagaimana caranya bisa memberikan penawaran produk yang menarik, promo yang tepat sasaran, kondisi toko yang menyenangkan, pengalaman berbelanja yang lebih dari sekadar belanja, sehingga bisa menarik trafik pelanggan ke toko kami,” ungkapnya.

Berdasarkan pandangannya, kualitas operasional toko adalah kunci utama guna mempertahankan loyalitas dari para pelanggan di tengah situasi kompetisi industri ritel yang kian ketat saat ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ia memungkasi, “Harapannya dengan proses operasional yang baik, customer kami tetap setia dan tetap berbelanja di kami, sehingga target pendapatan yang kami letakkan untuk tahun ini bisa dicapai,” pungkasnya.

Reporter: Ibtihal