Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Foto: suara.com)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 04 Juni 2026 | 09:01:44 WIB

NEW YORK – Nilai minyak global ditutup meroket cukup signifikan pada sesi perdagangan Rabu (3/6/2026), melanjutkan tren penguatan dari hari sebelumnya. 

Pelaku pasar merespons eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah serta mandeknya progres dalam proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Menyadur laporan Reuters, minyak mentah berjenis Brent terkerek naik US$ 1,81 (1,89%) hingga bertengger di level US$ 97,81 per barel. 

Pada saat yang sama, komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut melesat US$ 2,26 (2,41%) menuju posisi US$ 96,02 per barel.

Suhu geopolitik kembali mendidih pasca Iran melesatkan rudal balistik menuju wilayah Kuwait dan Bahrain. 

Pihak berwenang Kuwait mengonfirmasi adanya satu korban jiwa serta puluhan warga luka-luka akibat hantaman rudal tersebut. Pada momen yang bersamaan, angkatan bersenjata AS meluncurkan serangan balasan ke wilayah Pulau Qeshm yang berada di bawah kedaulatan Iran.

Direktur Energy Futures Mizuho Bob Yawger mengatakan, peluang tercapainya gencatan senjata justru semakin mengecil. 

“Peluang gencatan senjata tampaknya terus memburuk. Ini bukan arah yang diharapkan pasar,” ujar Yawger.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengonfirmasi bahwa jembatan komunikasi dengan pihak Washington masih terjalin, akan tetapi belum membuahkan hasil yang signifikan dalam meja perundingan. 

Menurut dia, kedua belah pihak saat ini masih mendalami beberapa berkas dokumen yang telah saling dikirimkan.

Sementara itu, media semi-pemerintah Tasnim mengabarkan bahwa Iran belum memberikan jawaban balik kepada pihak AS dalam kurun waktu beberapa hari terakhir. 

Proses saling kirim pesan lewat pihak penengah juga dikabarkan disetop untuk sementara waktu sampai sejumlah syarat dari Iran mengenai konflik di Lebanon diakomodasi.

Di wilayah tersebut, pihak Israel dilaporkan tengah menggelar operasi militer paling dalam ke teritori Lebanon dalam kurun waktu 25 tahun belakangan. 

Situasi terus memanas semenjak faksi Hizbullah melakukan gempuran pada awal Maret lalu sebagai wujud sokongan mereka terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara podcast mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir dan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei terlibat dalam proses negosiasi.

Pasokan Global Terancam

Para pelaku pasar juga mengkhawatirkan potensi hambatan logistik energi global menyusul pemblokiran Selat Hormuz yang hingga kini masih berlangsung. Koridor laut yang krusial tersebut merupakan salah satu urat nadi utama bagi lalu lintas pengiriman minyak di tingkat dunia.

Head of Business Development XS.com Simon-Peter Massabni menilai, konflik yang semakin intens antara AS dan Iran telah mengalahkan upaya diplomasi yang berjalan lambat. 

“Harga minyak terus bergerak naik karena eskalasi konflik berlangsung lebih cepat dibandingkan perkembangan diplomatik,” katanya.

Di samping isu geopolitik, dorongan positif bagi harga juga dipicu oleh peringatan dari International Energy Agency (IEA) yang menyatakan bahwa stok minyak bumi global berpotensi menyentuh titik kritis menjelang puncak tingginya konsumsi di musim panas jika tren penurunan cadangan terus berlanjut.

Analis minyak LSEG Emril Jamil mengatakan, mandeknya negosiasi AS-Iran dan kekhawatiran terhadap rendahnya stok minyak global telah meningkatkan premi risiko pada harga minyak acuan dunia.

Melihat dari sudut pandang fundamental, laporan dari Energy Information Administration (EIA) memperlihatkan stok minyak mentah domestik AS menyusut hingga 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 29 Mei. 

Penyusutan ini jauh melampaui prediksi para analis yang memperkirakan penurunan hanya di kisaran 4 juta barel.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, penurunan tajam persediaan minyak AS terjadi seiring kuatnya permintaan ekspor dan aktivitas kilang, serta berkurangnya cadangan minyak komersial maupun strategis.

Perpaduan antara memanasnya kondisi geopolitik, risiko hambatan suplai, serta menyusutnya cadangan minyak dunia menjadi stimulus utama yang terus menyokong tren kenaikan harga komoditas minyak global.

Reporter: Ibtihal