Permintaan Turun, Harga Referensi CPO Juni 2026 Melorot 1,91 Persen
JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan adanya penurunan pada harga referensi (HR) minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) untuk periode Juni 2026.
Penurunan HR CPO yang terkoreksi ini disebabkan oleh menyusutnya angka permintaan. Untuk periode ini, Kemendag mematok HR CPO pada angka US$ 1.029,51 per metrik ton (MT).
Nominal tersebut merosot US$ 20,07 atau setara 1,91% dari HR CPO periode Mei 2026 yang berada di angka US$ 1.049,58 per MT.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana menuturkan, bersandarkan pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang berlaku, pemerintah menetapkan bea keluar (BK) CPO senilai US$ 148 per MT dan PE CPO sebesar 12,5% dari HR CPO periode Juni 2026, yakni senilai US$ 128,6892 per MT untuk Juni 2026.
"HR CPO periode ini turun dibandingkan periode Mei 2026 akibat penurunan permintaan dari negara importir utama seperti India," kata Tommy dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (3/6/2026).
Sementara itu, penentuan HR CPO didapatkan dari rata-rata harga sepanjang periode 20 April–19 Mei 2026 di Bursa CPO Indonesia senilai US$ 920,80 per MT, Bursa CPO Malaysia senilai US$ 1.138,22 per MT, serta Harga Port CPO Rotterdam senilai US$ 1.429,40 per MT.
Menilik pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 35 Tahun 2025, apabila selisih harga rata-rata dari tiga sumber harga melampaui US$ 40, maka HR CPO dikalkulasikan memakai rata-rata dari dua sumber harga yang memuat median dan posisi paling dekat dari median.
Oleh karena itu, HR CPO diambil bersumber dari Bursa CPO Malaysia dan Bursa CPO Indonesia. Melalui skema perhitungan tersebut, HR CPO kemudian diputuskan sebesar US$ 1.029,51 per MT.
Sebagai informasi, penentuan HR CPO ini termuat dalam “Kepmendag Nomor 1414 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar dan tarif layanan Badan Layanan Umum”.