Hadapi Tantangan Global, Harita Nickel Fokus Integrasi Hulu-Hilir

Ilustrasi PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). (Foto:dok. Harita Nickel)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 02 Juni 2026 | 11:47:41 WIB

JAKARTA - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel sedang merumuskan berbagai langkah strategis demi merespons fluktuasi dalam industri nikel global pada tahun 2026. 

Upaya yang dijalankan perusahaan ini berupa kelanjutan manajemen operasional yang cermat di seluruh lini rantai nilai terintegrasi, mulai dari aktivitas penambangan hingga proses pengolahan.

Head of Investor Relations Harita Nickel, Lukito Gozali mengungkapkan bahwa NCKL berkomitmen penuh untuk mempertahankan efisiensi kerja serta menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab di kala kondisi industri nikel semakin dinamis.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Saat ini industri nikel global sangat dinamis dan penuh tantangan, fokus kami adalah tetap menjaga operasional tetap berjalan secara efisien, terukur, dan bertanggung jawab," kata Lukito melalui keterangan tertulis pada akhir pekan lalu.

Proses penyatuan dari sektor hulu hingga hilir ini mempermudah NCKL dalam mengendalikan produktivitas serta efektivitas kerja secara lebih maksimal. Lukito memastikan bahwa rencana ini dijalankan dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik serta keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Dari sisi kinerja keuangan, NCKL sukses meraup pendapatan senilai Rp 29,63 triliun sepanjang tahun 2025 dan mengamankan Rp 6,81 triliun pada triwulan I-2026. Lukito menegaskan bahwa manajemen akan tetap menjalankan roda bisnis secara berhati-hati di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.

Pada sektor operasional, seluruh unit produksi diklaim berjalan lancar sesuai target yang ditentukan. Aspek ini meliputi bidang penambangan bijih nikel, pengolahan pirometalurgi bersistem Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), hingga pengolahan hidrometalurgi lewat sistem High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Perseroan menjaga pendekatan operasional yang terukur di seluruh rantai nilai sebagai respons terhadap dinamika pasar yang sangat dinamis belakangan ini," imbuh Lukito.

NCKL juga konsisten menerapkan beragam program pemanfaatan energi terbarukan secara bertahap. Proyek tersebut mencakup pembuatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan daya 40 Megawatt Peak (MWp) sekaligus pembangkit listrik yang memanfaatkan energi panas buang dari unit HPAL berkapasitas 50 MWp.

Bukan hanya itu, NCKL merancang Energy Management System yang berkiblat pada standar ISO:50001 guna memastikan penghematan energi yang lebih terukur serta berkesinambungan.

Kini, NCKL telah melaju ke babak corrective action dalam proses peninjauan kinerja yang bersandar pada ketentuan The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).

Perusahaan pun bersiap menyambut audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) Supply Chain Due Diligence Plus (SCDDP) Module guna memperkuat standar ESG beserta praktik rantai pasok yang kredibel.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Harita Nickel juga terus memperkuat komitmen pengurangan emisi karbon menuju target net zero emission pada 2060," ujar Lukito.

Sepanjang kuartal I-2026, NCKL menorehkan keberhasilan dalam menekan emisi sebesar 977.278 ton CO2e, atau meningkat 37% bila dikomparasikan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Keberhasilan ini dipicu oleh pemakaian kembali panas buang (waste heat recovery), pemanfaatan biosolar, serta penerapan teknologi gasifikasi batubara.

Lukito menambahkan bahwa penyatuan dari sektor penambangan hingga pengolahan memudahkan NCKL dalam merawat produktivitas, mengerek efektivitas kerja, sekaligus memperkuat daya tahan bisnis demi menyongsong masa depan industri.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Di tengah dinamika industri yang terus berkembang dan semakin menantang, perusahaan akan tetap berfokus pada efisiensi, optimalisasi operasional, dan penguatan daya saing jangka panjang," tutup Lukito.

Reporter: Ibtihal