WASHINGTON - Harga minyak melonjak setelah Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan peringatan bahwa konflik dengan Iran belum berakhir.
Kondisi tersebut dikhawatirkan bakal meningkatkan ketegangan di Timur Tengah serta semakin mengancam stabilitas pasokan energi.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak tawaran balasan dari pihak Iran untuk mengakhiri peperangan dengan AS dan Israel.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya. Sama sekali tidak dapat diterima!” ujar dia sebagaimana dilansir dari berita sumber, Selasa (12/5/2026).
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni terpantau naik lebih dari 2 persen menjadi 97,88 dollar AS per barrel.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan internasional untuk pengiriman Juli juga naik lebih dari 2 persen menjadi 103,93 dollar AS per barrel.
Sebagai catatan, harga minyak WTI dan Brent tercatat kurang lebih naik 40 persen sejak pecahnya perang perdana AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026.
Netanyahu mengatakan bahwa masih terdapat material nuklir serta uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari wilayah Iran.
"Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, masih ada rudal balistik yang ingin mereka produksi, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ucap dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Para analis dari Citi menuliskan dalam laporan minyak terbaru bahwa harga berpotensi naik lebih jauh apabila Iran dan AS tidak mencapai kesepakatan.
Saat ini, pasar minyak mentah memang terlindungi oleh persediaan yang tinggi, pelepasan cadangan minyak strategis, permintaan yang melemah di negara-negara berkembang, serta tanda-tanda sesekali mengenai kemungkinan deeskalasi di Timur Tengah.
Namun, Citi berpendapat bahwa risiko terhadap harga minyak tetap condong ke arah atas karena Iran memegang kendali signifikan atas waktu dan ketentuan dari setiap potensi kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur energi sangat penting.
“Kami berasumsi bahwa rezim tersebut akan membuat kesepakatan yang membuka kembali Selat sekitar akhir Mei, tetapi kami terus melihat risiko yang cenderung mengarah pada penundaan jangka waktu ini dan atau pembukaan kembali sebagian, yang berarti gangguan akan berlangsung lebih lama,” ungkap analisis tersebut sebagaimana dilansir dari berita sumber.
CEO sekaligus salah satu pendiri Sparta Commodities, Felipe Elink Schuurman menyatakan bahwa pandemi virus corona merupakan analogi yang tepat untuk perkembangan pasar minyak saat ini.
“Pada tahun 2020, rata-rata, kami kehilangan 9 juta barrel per hari permintaan dibandingkan 2019, yang hampir setara dengan apa yang kami hilangkan sekarang dalam hal pasokan. Jadi, pasar harus menyesuaikan diri, dan kami harus mencapai tingkat penurunan permintaan tersebut,” kata Schuurman sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Saat ini, pasar belum dapat mengetahui secara pasti dari mana penurunan tersebut dapat terjadi. Hal ini akan menjadi nyata ketika negara-negara yang lebih kaya menanggung bebannya.
"Mungkin Anda tidak akan melihat harga minyak mentah mencapai 200 dollar AS per barrel, tetapi Anda akan melihat harga tersebut secara teratur pada produk-produk yang dikonsumsi masyarakat,” lanjut dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Pada akhirnya, Anda akan berada dalam skenario di mana negara-negara miskin akan mengalami krisis kemanusiaan, Eropa akan mengalami krisis ekonomi, dan AS akan mengalami krisis politik,” tutup dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.