Indonesia Cetak Surplus Neraca Dagang Februari 2026, 70 Bulan Berturut-turut

Rabu, 01 April 2026 | 15:51:23 WIB
Indonesia Cetak Surplus Neraca Dagang Februari 2026, 70 Bulan Berturut-turut

JAKARTA - Indonesia kembali mencatat neraca perdagangan surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026. 

Angka ini menandai rekor surplus 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global dan fluktuasi harga komoditas internasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, realisasi surplus ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$0,95 miliar. Kinerja positif ini mendorong optimisme terhadap sektor ekspor dan posisi perdagangan Indonesia di kancah global.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar, naik 1,01% secara tahunan dibanding Februari 2025. Sementara ekspor migas tercatat turun 4,25% menjadi US$1,08 miliar, ekspor nonmigas naik 1,30% dengan nilai US$21,09 miliar.

Komoditas Penyumbang Surplus

Peningkatan ekspor nonmigas menjadi faktor utama surplus neraca dagang. Beberapa komoditas yang berkontribusi signifikan antara lain:

Lemak/minyak nabati (HS 15)

Nikel dan produk turunannya (HS 75)

Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85)

Menurut Ateng, kontribusi sektor nonmigas terhadap surplus mencapai US$2,19 miliar. Komoditas unggulan lain yang mendukung surplus antara lain bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Surplus ini menunjukkan bahwa diversifikasi ekspor Indonesia semakin kuat dan tidak sepenuhnya bergantung pada migas.

Di sisi lain, nilai impor Februari 2026 tercatat sebesar US$20,89 miliar, naik 10,85% YoY. Penurunan impor migas sebesar 30,36% menjadi US$2 miliar tidak mampu menahan kenaikan impor nonmigas yang mencapai US$18,90 miliar, naik 18,24% YoY.

Analisis Tren Surplus

Meskipun surplus neraca perdagangan berlanjut, sejumlah analis memperkirakan tren nilai surplus akan menyempit. Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk., Hosianna Evalita Situmorang, menyebut pertumbuhan ekspor diperkirakan mencapai 5% YoY pada Februari 2026.

“Hal ini didukung oleh stabilisasi dan perbaikan harga komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara, CPO [crude palm oil/minyak sawit mentah], nikel, dan beberapa mineral olahan,” ujar Hosianna.

Sementara itu, pertumbuhan impor diperkirakan tetap kuat sekitar 17,79% YoY, sedikit menurun dibanding Januari 2026 yang sebesar 18,21% YoY. Kenaikan impor terutama dipicu kebutuhan bahan baku dan barang modal, serta faktor musiman seperti pasca-libur dan persiapan aktivitas domestik.

Hosianna menambahkan bahwa gejolak geopolitik Timur Tengah imbas serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran belum berdampak signifikan terhadap ekspor dan impor Indonesia per Februari 2026, karena eskalasi konflik baru dimulai pada awal Maret.

Perspektif Data dan Proyeksi Ahli

Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., David Sumual, memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia akan mencapai US$1,49 miliar pada Februari 2026, naik dibanding bulan sebelumnya.

Menurut David, kenaikan surplus lebih dipengaruhi oleh penurunan impor yang lebih tajam dibanding ekspor. Secara bulanan, ekspor diperkirakan terkontraksi 0,5% (MtM), sedangkan impor turun lebih dalam sebesar 3,1% (MtM). Penurunan ini sebagian dipengaruhi jumlah hari kerja di Februari yang lebih sedikit dibanding Januari.

Secara tahunan, ekspor diproyeksikan naik 0,46% YoY, sementara impor naik 8,93% YoY. Dari sisi harga, komoditas impor, khususnya minyak, mengalami kenaikan lebih tinggi dibanding komoditas ekspor, sehingga mendorong surplus meski tren impor naik.

David menilai, indikator surplus dari big data maupun data negara lain relatif kecil, lebih rendah dibanding bulan-bulan sebelumnya, namun tetap mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal.

Faktor Penguatan Surplus

Surplus neraca dagang Indonesia tidak terjadi secara kebetulan. Beberapa faktor utama yang mendorong kinerja ini antara lain:

Diversifikasi ekspor: Komoditas nonmigas menyumbang lebih dari 70% surplus, menandakan Indonesia tidak terlalu tergantung pada migas.

Harga komoditas stabil: Batu bara, nikel, CPO, dan mineral olahan memberikan kontribusi stabil bagi nilai ekspor.

Kebijakan perdagangan dan fiskal: Insentif ekspor, perlindungan industri dalam negeri, dan pengaturan impor mendukung keseimbangan neraca perdagangan.

Pengendalian impor migas: Penurunan impor migas turut menekan defisit pada sektor energi.

Ketahanan domestik: Produksi nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus mengekspor surplus.

Kinerja positif neraca dagang ini memberi sinyal kuat bahwa Indonesia mampu menghadapi fluktuasi pasar global, sekaligus memperkuat posisi dalam negosiasi perdagangan internasional.

Prospek ke Depan

Meski surplus bertahan 70 bulan berturut-turut, Indonesia tetap menghadapi tantangan. Peningkatan impor nonmigas yang signifikan dan fluktuasi harga komoditas global menjadi faktor yang perlu terus diwaspadai.

Analis menekankan perlunya strategi penguatan industri domestik dan peningkatan nilai tambah ekspor, agar surplus neraca perdagangan tidak hanya bergantung pada komoditas mentah.

Selain itu, penguatan rantai pasok, efisiensi produksi, dan pengembangan teknologi menjadi kunci untuk menjaga tren surplus ke depan. Masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah diharapkan tetap adaptif terhadap perubahan global agar ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.

Terkini