Penjualan BLES Capai Rp1,50 Triliun Sepanjang Kinerja Tahun 2025

Selasa, 31 Maret 2026 | 14:11:04 WIB
Penjualan BLES Capai Rp1,50 Triliun Sepanjang Kinerja Tahun 2025

JAKARTA - Kinerja perusahaan manufaktur material bangunan sering kali mencerminkan dinamika sektor konstruksi nasional.

Ketika permintaan terhadap bahan bangunan meningkat, biasanya penjualan perusahaan di sektor ini ikut terdorong. Namun, peningkatan penjualan tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan laba perusahaan.

Hal tersebut juga terlihat pada kinerja keuangan salah satu produsen bata ringan di Indonesia sepanjang tahun 2025. 

Perusahaan mencatat peningkatan pendapatan penjualan, tetapi pada saat yang sama laba yang diperoleh justru mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Perbedaan antara pertumbuhan penjualan dan penurunan laba ini menunjukkan adanya tekanan pada struktur biaya perusahaan, terutama dari sisi beban pokok penjualan dan biaya operasional lainnya. 

Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pelaku industri maupun investor yang memantau kinerja sektor bahan bangunan.

PT Superior Prima Sukses Tbk mencatat penjualan yang meningkat sepanjang 2025. Namun, peningkatan tersebut tidak sejalan dengan perolehan laba perusahaan yang justru mengalami penurunan tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Penjualan PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) bergerak menanjak pada tahun 2025. Tapi, laju penjualan BLES tak sejalan dengan perolehan laba yang mengalami penurunan. 

Laba bersih BLES ambles 47,63% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 160,30 miliar menjadi Rp 83,94 miliar pada 2025.

Pada saat yang sama, penjualan bersih produsen bata ringan merek Blesscon dan Superiore Block ini justru meningkat 2,73% (yoy) dari Rp 1,46 triliun menjadi Rp 1,50 triliun.

Penjualan meningkat namun laba perusahaan menurun

Pertumbuhan penjualan perusahaan menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap produk bata ringan masih cukup kuat sepanjang tahun 2025. Namun, kenaikan pendapatan tersebut tidak mampu mendorong peningkatan laba bersih perusahaan.

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah peningkatan beban produksi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan margin keuntungan perusahaan.

Hanya saja, beban pokok penjualan BLES naik lebih tinggi, yakni sebanyak 12,14% (yoy) menjadi Rp 1,11 triliun dari sebelumnya Rp 993,75 miliar.

Kenaikan beban pokok penjualan tersebut membuat margin keuntungan perusahaan tertekan. Akibatnya, meskipun penjualan meningkat, keuntungan yang diperoleh perusahaan justru mengalami penurunan.

Hasil tersebut membuat laba bruto BLES menyusut 17,09% (yoy) dari Rp 469,16 miliar menjadi Rp 388,94 miliar pada 2025. Di periode yang sama, jumlah beban usaha BLES naik 1,79% (yoy) menjadi Rp 254,55 miliar.

Tekanan biaya operasional memengaruhi kinerja laba

Selain peningkatan beban produksi, kinerja laba perusahaan juga dipengaruhi oleh perubahan pada komponen biaya operasional lainnya. Beberapa pos biaya mengalami peningkatan yang turut menekan profitabilitas perusahaan sepanjang tahun 2025.

Laba usaha BLES pun terpangkas 38,66% (yoy) menjadi Rp 134,38 miliar, dari posisi sebelumnya sebesar Rp 219,08 miliar pada 2024. Di sisi lain, beban lain-lain neto BLES melonjak sebanyak 71,64% (yoy) menjadi Rp 27,12 miliar.

Meskipun terdapat penurunan beban pajak penghasilan, hal tersebut belum cukup untuk menahan penurunan laba bersih perusahaan secara keseluruhan.

Meski jumlah beban pajak penghasilan menurun 45,38% (yoy) menjadi Rp 23,15 miliar, tapi laba tahun berjalan BLES ambles sebesar 47,72% (yoy) dari Rp 160,89 miliar menjadi Rp 84,10 miliar pada 2025.

Secara keseluruhan, hasil ini membuat laba per saham yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan BLES menurun dari Rp 19,69 pada 2024 menjadi Rp 9,44 per 31 Desember 2025.

Ekspansi pabrik dan peningkatan volume penjualan

Di tengah tekanan pada kinerja laba, perusahaan tetap mencatat sejumlah pencapaian penting sepanjang tahun 2025. Salah satunya adalah ekspansi kapasitas produksi melalui pembukaan fasilitas pabrik baru.

Merujuk keterbukaan informasi yang rilis di Bursa Efek Indonesia pada Senin (30/3/2026), manajemen BLES menyoroti pembukaan pabrik kelima di Banjarnegara sebagai salah satu pencapaian penting perusahaan pada tahun 2025.

Dengan pembukaan pabrik tersebut, saat ini BLES mengoperasikan lima pabrik di lima lokasi, dengan enam line produksi.

Pabrik tersebut berlokasi di Jawa Timur (Mojokerto, Lamongan dan Sidoarjo) serta di Jawa Tengah (Sragen dan Banjarnegara). Berdasarkan keterbukaan informasi tersebut, volume penjualan BLES pada tahun lalu tercatat sebesar 3,67 juta m³.

Volume penjualan tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Volume penjualan BLES melonjak signifikan dibandingkan tahun 2024, yang kala itu tercatat sebesar 3,01 juta m³. BLES pun berhasil menjaga tren pertumbuhan volume penjualan sejak tahun 2013, yang saat itu hanya sebesar 12.000 m³.

Prospek industri material bangunan dan strategi perusahaan

Manajemen perusahaan menilai bahwa sektor konstruksi nasional masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif. Hal ini didorong oleh berbagai proyek pembangunan yang terus berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.

Berdasarkan analisis industri yang dilakukan oleh Manajemen BLES, sektor konstruksi nasional menunjukkan pertumbuhan yang didorong oleh Program Strategis Nasional (PSN), peningkatan pembangunan perumahan, apartemen, dan kawasan industri.

Pertumbuhan tersebut turut mendorong permintaan terhadap material bangunan yang lebih efisien dan ramah lingkungan, termasuk produk bata ringan.

Manajemen BLES menyoroti peralihan dari bata konvensional ke bata ringan. "Bata ringan menggantikan bata konvensional karena mempercepat pembangunan, lebih ringan dan presisi tinggi, efisiensi biaya pemasangan dan finishing, serta ramah lingkungan," tulis Keterbukaan Informasi tersebut.

Untuk memperkuat posisi bisnisnya, perusahaan juga telah menyiapkan sejumlah rencana strategis.

Manajemen BLES pun telah menyusun tiga rencana strategis, yang mencakup diversifikasi produk (panel ACC merek Superiore), unit bisnis bahan baku (aluminium paste), serta unit bisnis armada transportasi (BLES memiliki 667 unit, penambahan 50 unit).

Tiga rencana usaha tersebut akan ditopang oleh sejumlah strategi. Mulai dari adopsi teknologi terkini, riset dan pengembangan secara kontinyu, mendekati pasar, pemerataan distribusi hingga ke pelosok, distribusi hingga pengguna akhir, penetrasi dan edukasi pasar potensial, serta skala ekonomi.

Melalui berbagai strategi tersebut, perusahaan berharap dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing di industri material bangunan yang terus berkembang.

Terkini