JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) mendapatkan lampu hijau untuk melanjutkan operasional tambangnya di Papua setelah tahun 2041.
Keputusan ini terwujud melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Freeport-McMoRan (FCX), perusahaan induk Freeport, dan Pemerintah Indonesia.
Dalam MoU tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang sebelumnya memiliki batas waktu hingga 2041.
Kesepakatan ini memberi Freeport kesempatan untuk terus beroperasi dalam jangka panjang dengan penyesuaian pada kepemilikan saham dan kontribusi mereka terhadap pembangunan di Papua.
Dengan perpanjangan izin ini, FCX akan mengalihkan 12% kepemilikan saham mereka di PTFI kepada Pemerintah Indonesia pada tahun 2041 tanpa biaya. Ini merupakan langkah strategis untuk mengukuhkan peran Indonesia dalam pengelolaan sumber daya alam di Papua, yang dikenal dengan salah satu cadangan tembaga dan emas terbesar di dunia.
Kepemilikan Saham Indonesia Akan Meningkat Secara Bertahap
Sebagai bagian dari kesepakatan, FCX akan mempertahankan 48,76% kepemilikan sahamnya di Freeport Indonesia hingga 2041. Setelah itu, mulai 2042, saham yang dimiliki FCX akan berkurang menjadi sekitar 37%, sedangkan 12% saham akan dialihkan kepada pemerintah tanpa biaya.
Dengan adanya perubahan ini, pemerintah Indonesia akan memiliki bagian yang lebih besar dalam perusahaan yang mengelola tambang Grasberg, yang diharapkan membawa keuntungan jangka panjang bagi negara.
"FCX akan mengalihkan 12% sahamnya di PTFI kepada pihak pemerintah pada tahun 2041 tanpa biaya, dengan syarat pihak yang mengakuisisi akan mengganti biaya pro-rata yang dikeluarkan FCX menggunakan nilai buku untuk investasi yang menguntungkan periode setelah tahun 2041," tulis keterangan tertulis yang dikeluarkan oleh Freeport.
Ini menunjukkan komitmen Freeport untuk melibatkan Indonesia lebih dalam dalam pengelolaan dan operasi tambang di Papua, terutama di sektor yang strategis seperti tembaga dan emas.
Dukungan Pembangunan Papua Sebagai Prioritas Freeport
Selain ketentuan perpanjangan IUPK dan kepemilikan saham, MoU ini juga mencakup peningkatan dukungan terhadap masyarakat Papua. Salah satu poin penting adalah dukungan pendanaan untuk pembangunan rumah sakit baru dan fasilitas pendidikan medis. Freeport berkomitmen untuk meningkatkan investasi dalam pengembangan sosial di Papua sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.
Selain itu, PTFI juga akan meningkatkan belanja eksplorasi dan studi lanjutan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan sumber daya tambang jangka panjang.
Sebagai bagian dari upaya hilirisasi domestik, PTFI berencana untuk meningkatkan penjualan lokal tembaga olahan dan produk sampingan lainnya seperti asam sulfat.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan pasokan tembaga dalam negeri serta membuka peluang untuk pemasaran tembaga olahan ke Amerika Serikat sesuai dengan regulasi yang berlaku di negara tersebut. Dengan langkah-langkah ini, Freeport berharap dapat memperkuat kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Komitmen Freeport Terhadap Kemitraan Jangka Panjang di Indonesia
Richard C. Adkerson, Chairman of the Board dari Freeport-McMoRan, dan Kathleen Quirk, Presiden dan CEO perusahaan tersebut, menyampaikan apresiasi atas kemitraan jangka panjang dengan pemerintah Indonesia.
Adkerson menilai bahwa kesepakatan ini akan memperkuat operasi Grasberg yang telah memberikan manfaat berkelanjutan selama lebih dari enam dekade.
Ia juga menekankan bahwa perpanjangan hak operasi ini akan menciptakan nilai yang lebih besar bagi semua pihak terkait, baik pemerintah Indonesia, masyarakat, maupun Freeport itu sendiri.
"Kemitraan yang telah terbangun selama bertahun-tahun memungkinkan operasi Grasberg memberikan manfaat berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan sepanjang lebih dari enam dekade sejarahnya, dan perpanjangan ini akan memberi peluang untuk terus menciptakan nilai substansial bagi semua pihak," ujar Richard.
Rencana Pengembangan Tambang dan Proyeksi Penerimaan Negara
Tony Wenas, Direktur PT Freeport Indonesia, menambahkan bahwa kesepakatan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan operasi tambang Grasberg dan mendukung investasi jangka panjang.
Dengan penguatan cadangan melalui eksplorasi lebih lanjut, PTFI bertujuan untuk menjaga kesinambungan produksi tembaga dan emas yang menjadi tulang punggung operasi mereka.
"Keberlanjutan kontribusi kepada negara, khususnya masyarakat Papua, akan terus terjaga melalui penerimaan negara yang diperkirakan sekitar US$ 6 miliar atau Rp 90 triliun per tahun (dengan asumsi harga komoditas saat ini)," ujar Tony.
Selain itu, Freeport juga akan menyumbang sekitar Rp 14 triliun untuk pemerintah daerah dan melanjutkan program pengembangan masyarakat sekitar yang diperkirakan mencapai Rp 2 triliun per tahun.
Sementara itu, tenaga kerja yang terlibat dalam operasional tambang diperkirakan akan tetap mencapai sekitar 30 ribu orang, yang akan terus mendapatkan dukungan dari program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, Freeport berkomitmen untuk tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga memastikan dampak positif bagi masyarakat Papua dan Indonesia secara keseluruhan.