JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggandeng PT Hutama Karya (HK) untuk mempercepat pemulihan sungai dan irigasi di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Langkah ini fokus pada penanganan dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025.
Kerja sama diarahkan pada normalisasi sungai agar fungsi aliran air dan akses warga kembali pulih. Upaya ini menjadi bagian dari fase pemulihan pascabencana yang dijalankan secara bertahap di wilayah terdampak.
Di Desa Bener Berpapah, empat alat berat dikerahkan untuk membersihkan sisa material banjir bandang dan longsor. Pekerjaan ini diinisiasi Satuan Tugas Penanganan Bencana Balai Wilayah Sungai Sumatra I agar proses di lapangan lebih cepat.
Pengawas lapangan Hutama Karya, Jainudin, menjelaskan alat berat digunakan untuk memperbaiki sistem aliran air yang tertutup material. Normalisasi telah berlangsung hampir dua minggu dengan fokus membuka kembali jalur pengairan dan akses jalan.
Pembersihan Material dan Perkuatan Fondasi Sungai
Material berupa batu dan kayu yang menumpuk di sungai diangkat agar aliran kembali lancar. Fondasi juga diperkuat untuk membatasi jalan dan bibir sungai yang sebelumnya amblas akibat terjangan air.
Sebelum normalisasi dilakukan, aliran sungai terganggu dan akses pejalan kaki sempat terputus. Setelah pembersihan berjalan, kondisi mulai membaik dan fungsi sungai perlahan kembali normal.
Jainudin memastikan pemulihan akan terus dilanjutkan hingga kebutuhan akses warga sepenuhnya terpenuhi. Hingga kini, pekerjaan telah dilakukan di dua titik terdampak di Kecamatan Ketambe.
Sebelumnya, normalisasi telah diselesaikan di Desa Lawe Mengkudu yang berjarak sekitar dua kilometer dari Bener Berpapah. Setelah itu, pekerjaan direncanakan berlanjut ke desa lain yang masih terdampak banjir dan longsor.
Dukungan Masyarakat dan Pemerintah Desa dalam Pemulihan
Dalam pelaksanaannya, proses normalisasi berjalan relatif lancar tanpa kendala berarti. Dukungan pemerintah desa dan masyarakat setempat turut membantu kelancaran pekerjaan di lapangan.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperlancar aliran sungai dan menekan risiko banjir saat curah hujan tinggi. Pemulihan sungai juga dinilai penting untuk menjaga keamanan lingkungan dan aktivitas warga sehari-hari.
Kementerian PU menegaskan dukungan berkelanjutan dalam penanganan dampak bencana di Aceh. Komitmen ini sejalan dengan penetapan status transisi dari tanggap darurat ke fase pemulihan oleh Pemerintah Aceh.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menyatakan komitmen penuh mendukung pemerintah daerah dalam seluruh tahapan penanganan pascabencana. “Saat ini fokus kami adalah memastikan infrastruktur konektivitas, air bersih, sanitasi, hunian sementara, dan fasilitas publik segera pulih agar masyarakat dapat kembali beraktivitas,” terang dia.
Percepatan Pemulihan Irigasi untuk Mendukung Pertanian
Selain infrastruktur umum, Kementerian PU juga menaruh perhatian pada keberlanjutan layanan irigasi. Pemulihan irigasi perlu dipercepat agar aktivitas pertanian dan penghidupan petani tidak terganggu.
“Irigasi adalah tulang punggung pertanian. Begitu terjadi gangguan, harus segera cepat ditangani agar saluran kembali berfungsi,” pungkas Dody.
Normalisasi sungai dan irigasi tidak hanya penting untuk pemenuhan kebutuhan air harian, tetapi juga menjaga produktivitas pertanian setempat. Layanan irigasi yang pulih mencegah kerugian ekonomi bagi petani dan mendukung ketahanan pangan regional.
Hutama Karya menekankan penggunaan alat berat secara efektif untuk mempercepat pemulihan. Fokus utama adalah memastikan aliran sungai lancar dan akses jalan aman bagi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, proses pemulihan pascabencana berjalan lebih cepat. Sinergi ini diharapkan menjadi model pemulihan bencana yang efektif di wilayah lain di Indonesia.
Pekerjaan normalisasi sungai yang sedang berjalan juga menyiapkan desa terdampak menghadapi musim hujan berikutnya. Hal ini menjadi langkah preventif untuk mengurangi risiko banjir dan kerusakan infrastruktur lebih lanjut.
Keberhasilan program ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat. Bersama-sama, mereka memastikan kehidupan warga terdampak kembali normal dengan cepat dan aman.
Pemulihan sungai dan irigasi menjadi prioritas karena berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan warga. Air yang lancar dan akses yang aman akan mendukung kegiatan sehari-hari, pendidikan, serta ekonomi lokal di Aceh Tenggara.
Dengan strategi pemulihan bertahap, Kementerian PU dan Hutama Karya memastikan setiap desa terdampak mendapatkan perhatian yang memadai. Hal ini menciptakan sistem tanggap bencana yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Proyek ini juga menjadi contoh pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi di Indonesia. Infrastruktur yang pulih dan tanggap bencana yang cepat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Pemulihan sungai di Ketambe diharapkan selesai sesuai jadwal dengan hasil yang optimal. Aliran air kembali lancar, irigasi berfungsi, dan warga dapat menjalani aktivitas mereka dengan normal.