JAKARTA - Di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia menyoroti masih besarnya dana kredit perbankan yang belum dimanfaatkan oleh dunia usaha.
Meski kapasitas pembiayaan perbankan dinilai cukup kuat, penyerapan kredit oleh pelaku usaha belum sepenuhnya optimal. Kondisi ini menjadi perhatian otoritas moneter karena kredit memiliki peran penting sebagai penggerak ekspansi bisnis dan aktivitas ekonomi.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa kredit nganggur atau undisbursed loan perbankan masih berada pada level yang cukup besar hingga akhir 2025.
Meski mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut menunjukkan masih terbatasnya permintaan pembiayaan dari sektor usaha. Oleh karena itu, Bank Indonesia terus mendorong pelaku usaha agar lebih aktif memanfaatkan fasilitas kredit yang tersedia.
Kredit Belum Terserap Masih Menjadi Tantangan
Bank Indonesia mencatat nilai kredit nganggur yang belum disalurkan perbankan mencapai Rp 2.439,2 triliun pada Desember 2025. Angka ini memang menurun dibandingkan bulan sebelumnya, namun secara nominal masih tergolong besar dan mencerminkan adanya ruang pembiayaan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Perry Warjiyo menegaskan bahwa dari sisi permintaan, pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi dengan memanfaatkan fasilitas kredit yang tersedia. Menurutnya, kredit yang belum digunakan tersebut seharusnya dapat menjadi sumber pembiayaan untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dan investasi.
“Dari sisi permintaan, pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yaitu mencapai Rp 2.439,2 triliun,” kata Perry.
Besarnya kredit nganggur ini menunjukkan bahwa kehati-hatian pelaku usaha masih cukup tinggi dalam mengambil keputusan pembiayaan, terutama di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Permintaan Kredit Usaha Belum Optimal
Perry menjelaskan bahwa nilai undisbursed loan tersebut setara dengan 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Porsi ini mengindikasikan bahwa permintaan kredit dari dunia usaha belum sepenuhnya pulih atau belum sejalan dengan kapasitas pembiayaan perbankan yang ada.
Belum tingginya permintaan kredit dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kehati-hatian pelaku usaha dalam melakukan ekspansi, kondisi pasar yang masih berfluktuasi, hingga pertimbangan risiko usaha ke depan. Meski demikian, Bank Indonesia melihat adanya potensi besar jika kredit tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Dengan meningkatnya penyaluran kredit, diharapkan aktivitas investasi dan produksi dapat terdorong, sehingga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh sebab itu, Bank Indonesia terus mengajak dunia usaha untuk memanfaatkan peluang pembiayaan yang tersedia guna memperkuat kinerja bisnis.
Likuiditas Perbankan Dinilai Masih Kuat
Dari sisi penawaran, Perry menegaskan bahwa kapasitas pembiayaan perbankan masih berada pada kondisi yang sangat memadai. Hal ini ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang mencapai 28,57 persen pada Desember 2025. Selain itu, Dana Pihak Ketiga juga tercatat tumbuh tinggi sebesar 13,83 persen secara tahunan.
Kondisi likuiditas yang kuat ini menunjukkan bahwa perbankan memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan kredit ke berbagai sektor ekonomi. Dengan dukungan dana yang memadai, bank dinilai siap memenuhi kebutuhan pembiayaan apabila permintaan kredit dari dunia usaha meningkat.
Meski demikian, Perry mengakui bahwa penyaluran kredit masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada segmen tertentu. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi peningkatan permintaan kredit, baik melalui perbaikan struktur suku bunga maupun penguatan kepercayaan pelaku usaha.
Prospek Kredit Perbankan Tetap Positif
Meski kredit nganggur masih cukup besar, Bank Indonesia mencatat adanya perbaikan dalam minat penyaluran kredit perbankan. Hal ini tercermin dari persyaratan pemberian kredit atau lending requirement yang semakin longgar. Namun, pelonggaran tersebut belum sepenuhnya merata, terutama pada segmen kredit konsumsi dan UMKM yang masih menghadapi risiko kredit relatif tinggi.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 akan berada di kisaran 8 hingga 12 persen. Sementara itu, pada 2025 kredit perbankan tercatat tumbuh sebesar 9,69 persen secara tahunan. Proyeksi ini mencerminkan optimisme bahwa penyaluran kredit akan terus meningkat seiring membaiknya kondisi ekonomi.
“Ke depan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan tersebut,” imbuh Perry.
Dengan koordinasi kebijakan yang erat serta dukungan likuiditas yang kuat, Bank Indonesia berharap kredit perbankan dapat lebih optimal dalam mendukung ekspansi usaha dan memperkuat pemulihan ekonomi nasional.