BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan Dan Langkah Stabilisasi

Kamis, 22 Januari 2026 | 10:46:58 WIB
BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan Dan Langkah Stabilisasi

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan mata uang Garuda yang mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat. 

Bank Indonesia pun membuka suara terkait faktor-faktor yang menyebabkan pelemahan tersebut, sekaligus memaparkan langkah strategis yang telah dan akan ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Kombinasi tekanan global dan domestik dinilai berperan besar terhadap pergerakan nilai tukar, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan dunia.

Tekanan Global Dorong Aliran Modal Keluar

Perry menjelaskan bahwa faktor utama pelemahan rupiah berasal dari kondisi global yang kurang kondusif. Ketidakpastian pasar keuangan internasional mendorong investor asing menarik dananya dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia mengungkapkan bahwa hingga 19 Januari 2026, tercatat aliran modal asing keluar atau capital outflow mencapai US$ 1,6 miliar. Arus keluar dana tersebut memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah di pasar valuta asing.

Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat secara global turut memperberat posisi mata uang negara berkembang. Kondisi ini diperparah oleh dinamika geopolitik dan kebijakan moneter negara maju yang membuat investor cenderung mencari aset aman.

Dalam situasi tersebut, rupiah ikut tertekan meskipun fundamental ekonomi domestik dinilai masih cukup solid. Bank Indonesia menilai tekanan eksternal ini bersifat sementara, namun tetap perlu diantisipasi dengan langkah kebijakan yang terukur.

Kebutuhan Valas Domestik Ikut Membebani Rupiah

Selain faktor global, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan valuta asing dari dalam negeri. Perry menyebut kebutuhan valas dari sektor perbankan dan korporasi domestik meningkat seiring dengan aktivitas ekonomi.

"Aliran modal asing keluar, juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun Danantara. Itu turut mempengaruhi kinerja rupiah," kata Perry.

Kebutuhan valuta asing tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari pembayaran impor hingga kewajiban luar negeri. Peningkatan permintaan ini, ketika terjadi bersamaan dengan capital outflow, memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Bank Indonesia memastikan bahwa kebutuhan valas domestik tersebut masih berada dalam koridor yang dapat dikelola, terutama dengan dukungan cadangan devisa yang memadai.

Sentimen Pasar Terhadap Faktor Domestik

Perry juga mengakui adanya sentimen domestik yang turut memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia pengganti Juda Agung.

Dari tiga nama yang diusulkan, terdapat Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto. Isu ini memunculkan kekhawatiran sebagian pelaku pasar terhadap independensi kebijakan moneter.

"(Faktor domestik pelemahan rupiah) karena persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur," kata Perry.

Meski demikian, Perry menegaskan bahwa proses pencalonan tersebut telah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Ia memastikan bahwa hal tersebut tidak memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia.

"Proses pengambilan kebijakan di BI tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat. Tentu saja bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk bersama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tutur Perry.

Strategi BI Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 berada di level Rp 16.945 per dolar AS, melemah 1,53 persen dibandingkan akhir Desember 2025. Untuk meredam volatilitas tersebut, BI terus meningkatkan intensitas langkah stabilisasi di pasar keuangan.

Perry menjelaskan bahwa BI melakukan intervensi melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar non deliverable forward (NDF) baik di offshore maupun onshore, domestic non deliverable forward (DNDF), hingga pasar spot.

"Melalui intervensi di pasar non deliverable forward baik di off shore maupun on shore, domestic non deliverable forward dan di pasar spot. Respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5 plus minus 1% pada 2026," ujar Perry.

Selain intervensi pasar, BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang bersifat pro market. Langkah ini dilakukan untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga tanpa mengganggu iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Perry meyakini bahwa ke depan nilai tukar rupiah akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Optimisme ini didukung oleh imbal hasil aset domestik yang menarik, tingkat inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih baik.

"Ke depan, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi NDF, DNDF dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro market," imbuhnya.

Dengan kombinasi kebijakan yang konsisten dan koordinasi yang kuat dengan pemerintah, Bank Indonesia berharap tekanan terhadap rupiah dapat dikelola dengan baik dan kepercayaan pasar tetap terjaga.

Terkini