OJK Ungkap Preferensi Gen Z Terhadap Kripto Sebagai Instrumen Investasi Berisiko Tinggi

Kamis, 22 Januari 2026 | 09:05:58 WIB
OJK Ungkap Preferensi Gen Z Terhadap Kripto Sebagai Instrumen Investasi Berisiko Tinggi

JAKARTA - Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda memandang pengelolaan keuangan. 

Di tengah kemudahan akses informasi dan platform investasi, generasi Z menunjukkan kecenderungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. 

Pilihan mereka terhadap instrumen investasi kerap dinilai lebih berani dan agresif, terutama pada aset berisiko tinggi seperti kripto. Fenomena ini menjadi perhatian regulator karena mencerminkan pergeseran pola pikir dan kebutuhan literasi keuangan yang tidak lagi konvensional.

Otoritas Jasa Keuangan melihat bahwa perubahan preferensi ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari dinamika struktural generasi digital. Cara Gen Z memprioritaskan investasi, bahkan ketika kondisi ekonomi pribadi belum sepenuhnya stabil, menandakan adanya perubahan mendasar dalam risk appetite dan strategi keuangan jangka panjang.

Perbedaan Selera Risiko Antar Generasi

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan bahwa selera risiko Gen Z jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Menurutnya, generasi muda saat ini lebih tertarik pada instrumen dengan potensi imbal hasil besar meski disertai volatilitas tinggi, seperti aset kripto. Hal tersebut diungkapkan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

"Risk appetite-nya memang jauh lebih tinggi, dan mungkin prioritasnya sudah berubah," ujar Mahendra. Ia menilai perbedaan ini menarik untuk dicermati karena berkaitan dengan cara generasi muda memahami dan memaknai investasi. Bagi Gen Z, risiko tidak selalu dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari peluang.

Mahendra menambahkan bahwa preferensi ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam pengelolaan keuangan pribadi. Generasi muda tidak lagi sepenuhnya mengikuti pola lama yang mengedepankan keamanan di tahap awal, lalu beralih ke instrumen berisiko setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

Pemahaman Risiko Bukan Sekadar Minim Literasi

OJK menilai bahwa ketertarikan Gen Z terhadap kripto bukan semata-mata akibat rendahnya literasi keuangan. Mahendra menegaskan bahwa sebagian besar Gen Z sudah memahami risiko yang melekat pada investasi berisiko tinggi. Dengan kata lain, keputusan mereka lebih didorong oleh perbedaan sudut pandang terhadap prioritas investasi.

"Mungkin prioritasnya sudah berubah. Ini pemahaman yang memang menarik. Sehingga kalau isunya adalah semata-mata literasi edukasi yang konvensional, mungkin mereka mengatakan kami sudah ngerti, tapi apa yang ngerti itu sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya merupakan basis dari cara pandang yang lebih rasional, ya belum tentu," jelasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukasi keuangan yang selama ini digunakan mungkin tidak sepenuhnya relevan bagi generasi muda. Mereka merasa sudah memahami risiko, namun memilih jalur yang berbeda berdasarkan persepsi kebutuhan dan tujuan finansial masing-masing.

Pola Investasi Generasi Sebelumnya

Mahendra menjabarkan bahwa generasi sebelum Gen Z memiliki tahapan yang lebih konservatif dalam berinvestasi. Pada umumnya, pemenuhan kebutuhan pokok menjadi prioritas utama. Setelah itu, dana dialokasikan ke tabungan dan instrumen berpendapatan tetap untuk jangka panjang.

Jika masih terdapat sisa dana, barulah investasi berisiko rendah dipertimbangkan. "Baru kalau mau investasi masuk ke saham ataupun pasar modal. Itu pun mulai yang paling konservatif, yang fixed rate. Baru kemudian reksadana, baru sahamnya. Baru setelah masih ada uang lebih dan seterusnya baru masuk ke kripto," imbuhnya.

Pola ini mencerminkan pendekatan bertahap dan berhati-hati yang telah lama menjadi acuan dalam literasi keuangan konvensional. Namun, pendekatan tersebut kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem digital.

Cara Pandang Gen Z Yang Melompat Tahapan

Menurut Mahendra, Gen Z cenderung melompati tahapan investasi yang dianggap lazim oleh generasi sebelumnya. Berdasarkan hasil survei, banyak Gen Z yang belum memiliki pekerjaan stabil, namun sudah menyatakan diri memahami dan terlibat dalam investasi kripto.

"Kok bisa mereka yang relatif istilahnya mencari atau memiliki pekerjaannya sudah susah, tapi mendeklarasikan diri sudah ngerti masalah kripto dan bukan hanya ngerti, tapi masuk. Berarti melompat dari apa yang menjadi pemahaman konvensional kita Gen Z ini," sebutnya.

Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi regulator dan pelaku industri keuangan. OJK menilai bahwa pendekatan edukasi perlu disesuaikan dengan karakter dan pola pikir generasi muda yang berbeda secara fundamental.

Tantangan Literasi Dengan Pendekatan Baru

Mahendra menambahkan bahwa perbedaan cara pandang ini menuntut strategi literasi keuangan yang lebih adaptif. Edukasi tidak lagi bisa disampaikan dengan pendekatan satu arah atau berbasis asumsi generasi sebelumnya.

"Karena cara pandangnya betul-betul berbeda dengan apa yang biasa kita kenal," tutupnya. OJK melihat perlunya format literasi yang lebih relevan, kontekstual, dan sesuai dengan realitas digital yang dihadapi Gen Z sehari-hari.

Pendekatan baru ini diharapkan tidak hanya menekankan risiko, tetapi juga membangun kesadaran pengelolaan keuangan yang seimbang antara peluang dan perlindungan konsumen.

Potensi Besar Inovasi Keuangan Digital

Di sisi lain, OJK juga menyoroti besarnya potensi sektor inovasi teknologi dan digital di bidang keuangan. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Hasan Fauzi menyatakan bahwa sektor ini akan terus tumbuh secara global.

Ia mengungkapkan bahwa proyeksi nilai pasar industri inovasi teknologi keuangan dunia pada 2033 diperkirakan mencapai US$ 8.567,4 miliar dengan pertumbuhan tahunan sekitar 26,3%. Angka ini menunjukkan besarnya peluang sekaligus tantangan pengawasan ke depan.

Keunggulan Demografi Indonesia Dukung Fintech

Hasan menuturkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan demografi yang mendukung perkembangan fintech. Tingginya adopsi internet dan smartphone menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan industri keuangan digital nasional.

"Kita tercatat mungkin menjadi salah satu negara yang pengguna internetnya sangat besar, ada 74,6% porsi penduduk kita yang sudah menikmati layanan internet atau sekitar 212 juta jiwa dengan penetrasi dan adopsi smartphone yang luar biasa tinggi," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu.

Selain fintech konvensional, Hasan juga menekankan tingginya minat terhadap fintech syariah. "Kita juga berasal survei menjadi negara ketiga di dunia yang dinilai memiliki lingkungan paling kondusif untuk pengembangan fintech syariahnya," tuturnya. Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem keuangan digital global.

Terkini