Emas Dunia Berpeluang Menguat Pekan Ini Usai Naik ke USD4.175
JAKARTA – Harga emas di pasar global diestimasikan masih mempunyai peluang besar untuk mempertahankan tren penguatannya pada pekan ini setelah mencatatkan reli mingguan pertama dalam periode lima pekan terakhir.
Kontraksi pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) memicu para pelaku pasar semakin percaya diri bahwa ruang bagi peningkatan suku bunga acuan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) saat ini kian menyusut.
Pada sesi perdagangan Jumat (3/7/2026) pekan lalu, nilai jual emas spot ditutup menguat 1,26 persen menjadi USD4.175,70 per troy ons.
Dalam perhitungan mingguan, komoditas logam mulia tersebut melonjak lebih dari 2 persen setelah pada pekan-pekan sebelumnya berturut-turut tertekan selama empat minggu lamanya.
Peningkatan harga emas ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja AS yang posisinya berada di bawah estimasi.
Informasi terbaru menunjukkan, sektor nonfarm payrolls (NFP) tercatat hanya bertambah 57.000 pekerjaan sepanjang Juni, merosot jauh dari proyeksi para ekonom yang memperkirakan adanya penambahan sebesar 110.000.
Kepala Analis Pasar Bybit Han Tan menyampaikan bahwa perlambatan yang cukup signifikan pada sektor perekrutan tenaga kerja di AS menjadi determinan utama yang menggerakkan reli harga emas.
Menurut analisisnya, para pelaku pasar kini mulai memangkas ekspektasi terkait kenaikan suku bunga acuan The Fed pada bulan September mendatang.
"Reli emas dipicu oleh perlambatan tajam perekrutan tenaga kerja AS bulan lalu. Reaksi harga saat ini cukup beralasan karena pasar mulai memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September," ujar Tan, dikutip Reuters.
Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada September melandai ke kisaran 54 persen dari posisi sebelumnya yang mencapai 66 persen sebelum data ketenagakerjaan dipublikasikan.
Ekspektasi tingkat suku bunga yang lebih rendah ini turut menekan performa dolar AS, yang mencatatkan pelemahan mingguan terdalamnya sejak bulan April lalu.
Kondisi ini membuat emas menjadi lebih ekonomis bagi para pembeli yang bertransaksi dengan mata uang asing di luar dolar, sehingga ikut mendongkrak volume permintaan pasar.
Di sisi lain, permintaan emas untuk jangka panjang juga terus mendapatkan sokongan dari aksi penambahan cadangan oleh bank sentral. Berdasarkan rilis data World Gold Council, jajaran bank sentral dunia mengumumkan penambahan cadangan emas bersih mencapai 41 ton selama bulan Mei, meskipun ada beberapa negara yang terpaksa melepas sebagian kepemilikannya guna mengintervensi nilai tukar mata uang domestik mereka.
Prospek cerah terhadap masa depan pergerakan emas juga tercermin melalui hasil survei mingguan Kitco News. Dari 16 analis Wall Street yang berpartisipasi, sebanyak 11 orang atau setara 69 persen memproyeksikan harga emas masih akan mendaki pada pekan ini.
Tercatat hanya dua analis yang memperkirakan adanya koreksi penurunan, sementara tiga analis lainnya memprediksi harga emas akan bergerak mendatar.
Sentimen yang searah turut ditunjukkan oleh kelompok investor ritel. Dari total 183 responden yang ikut serta dalam jajak pendapat daring besutan Kitco, sebanyak 54 persen memperkirakan emas bakal kembali melaju dalam sepekan ke depan, sedangkan 25 persen memproyeksikan harganya bakal turun, dan sisanya menilai emas tengah berada di fase konsolidasi.
Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski berpendapat bahwa tekanan penurunan harga emas yang terjadi sepanjang tiga bulan terakhir kini mulai memperlihatkan tanda-tanda mereda.
"Saya optimistis terhadap emas untuk pekan ini. Setelah melemah selama tiga bulan terakhir, harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda stabil," katanya.
Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day juga memproyeksikan emas masih memiliki momentum untuk naik.
Menurut pandangannya, kemerosotan pada beberapa indikator ekonomi AS, melorotnya harga minyak, serta pernyataan dari Ketua The Fed Kevin Warsh telah memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga acuan, di saat aksi borong emas oleh bank sentral global masih terus berjalan.
Sementara itu, Presiden dan COO Asset Strategies International Rich Checkan memaparkan bahwa level USD4.000 per troy ons saat ini telah bertransformasi menjadi area psikologis yang cukup memikat bagi para pemodal untuk kembali masuk ke pasar perdagangan.
Memasuki periode pekan ini, fokus perhatian para pemodal akan tertuju penuh pada rangkaian kalender ekonomi AS. Publikasi data ISM Services PMI untuk bulan Juni dijadwalkan rilis pada Senin waktu setempat, yang kemudian diikuti oleh pengumuman kebijakan suku bunga dari Reserve Bank of New Zealand pada hari Selasa.
Sentral perhatian utama pasar diproyeksikan tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis pada hari Rabu.
Dokumen tersebut sangat dinantikan guna menyajikan proyeksi yang lebih jelas mengenai sudut pandang para pejabat The Fed terkait arah kebijakan moneter setelah munculnya sinyal-sinyal perlambatan ekonomi di AS.
Rangkaian rilis data ekonomi untuk pekan ini akan ditutup dengan publikasi data klaim pengangguran mingguan AS pada hari Kamis, yang juga akan menjadi petunjuk baru untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.