Harga Emas Berpotensi Lanjut Menguat, Sentimen Suku Bunga AS Reda

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 06 Juli 2026
Harga Emas Berpotensi Lanjut Menguat, Sentimen Suku Bunga AS Reda
Ilustrasi Emas Menguat. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Nilai jual emas dunia diproyeksikan masih memiliki ruang untuk meneruskan tren penguatannya pada pekan ini setelah berhasil membukukan kenaikan mingguan perdana dalam kurun lima pekan terakhir. 

Melemahnya rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) memicu para pelaku pasar kian optimistis bahwa celah pengetatan suku bunga acuan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kini menjadi semakin terbatas.

Pada sesi perdagangan Jumat (3/7/2026) pekan kemarin, harga emas di pasar spot ditutup menguat sebesar 1,26 persen ke level USD4.175,70 per troy ons. 

Secara akumulasi mingguan, komoditas logam mulia tersebut terangkat lebih dari 2 persen setelah pada periode sebelumnya terus-menerus tertekan selama empat pekan secara beruntun.

Apresiasi harga emas ini dimotori oleh performa data tenaga kerja AS yang berada di bawah proyeksi. Berdasarkan data, sektor nonfarm payrolls (NFP) tercatat hanya tumbuh 57.000 lapangan kerja sepanjang Juni, berada jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang memprediksikan pertumbuhan sebesar 110.000.

Kepala Analis Pasar Bybit Han Tan memaparkan bahwa penurunan signifikan dalam penyerapan tenaga kerja di AS menjadi stimulus utama yang memacu reli harga emas. 

Menurut pandangannya, pasar saat ini mulai mereduksi proyeksi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada bulan September nanti.

"Reli emas dipicu oleh perlambatan tajam perekrutan tenaga kerja AS bulan lalu. Reaksi harga saat ini cukup beralasan karena pasar mulai memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September," ujar Tan, dikutip Reuters.

Merujuk pada indikator CME FedWatch Tool, probabilitas pengetatan suku bunga pada September melorot ke kisaran 54 persen dari yang sebelumnya berada di angka 66 persen sebelum data ketenagakerjaan dipublikasikan. 

Proyeksi suku bunga yang lebih rendah ini ikut menekan posisi dolar AS, yang mengakhiri pekan dengan koreksi mingguan terdalam sejak bulan April. 

Situasi tersebut menjadikan emas berharga lebih terjangkau bagi para kolektor yang bertransaksi menggunakan mata uang di luar dolar, sehingga ikut mendongkrak aspek permintaan.

Di lain sisi, permintaan dalam jangka panjang juga masih disokong oleh aksi akumulasi dari bank sentral. 

Berdasarkan rilis data World Gold Council, jajaran bank sentral global membukukan penambahan cadangan emas bersih hingga 41 ton sepanjang Mei, kendati ada beberapa negara yang sempat melepas sebagian kepemilikannya demi mengintervensi nilai tukar mata uang domestik masing-masing.

Pandangan positif terhadap masa depan emas pun tecermin lewat survei mingguan yang dirilis Kitco News. Dari total 16 analis Wall Street yang ikut serta, sebanyak 11 orang atau berkisar 69 persen memproyeksikan harga emas masih akan menanjak pekan ini. 

Tercatat hanya dua analis yang memperkirakan adanya penurunan, sedangkan tiga nama lainnya memprediksi harga cenderung bergerak mendatar.

Sinyal searah juga ditunjukkan oleh kalangan investor ritel. Dari total 183 partisipan yang mengisi jajak pendapat daring besutan Kitco, sebanyak 54 persen menilai emas bakal kembali melaju dalam sepekan ke depan, sementara 25 persen memperkirakan harganya melorot dan sisanya melihat emas tengah berada di fase konsolidasi.

Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski berpendapat bahwa tekanan koreksi emas yang berlangsung selama tiga bulan terakhir kini mulai berkurang.

"Saya optimistis terhadap emas untuk pekan ini. Setelah melemah selama tiga bulan terakhir, harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda stabil," katanya.

Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day pun memproyeksikan emas masih memiliki daya untuk mendaki. 

Menurut argumennya, kontraksi pada sejumlah indikator ekonomi AS, melorotnya harga minyak, serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh telah memangkas ekspektasi pengetatan suku bunga, di kala aksi borong emas oleh bank sentral masih terus bergulir.

Sementara itu, Presiden dan COO Asset Strategies International Rich Checkan memaparkan bahwa batas USD4.000 per troy ons sekarang bertransformasi menjadi level psikologis yang memikat bagi para pemodal untuk kembali masuk ke pasar.

Memasuki pekan ini, fokus perhatian para pemodal akan tertuju pada deretan kalender ekonomi AS. Rilis data ISM Services PMI untuk bulan Juni dijadwalkan meluncur pada Senin waktu setempat, diikuti oleh keputusan kebijakan moneter Reserve Bank of New Zealand pada hari Selasa.

Sentral perhatian utama pasar diproyeksikan tertuju pada risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis pada hari Rabu. 

Dokumen tersebut dinantikan karena dapat memberikan proyeksi yang lebih terang mengenai arah pandangan para pejabat The Fed terkait haluan kebijakan moneter pasca-munculnya indikator perlambatan ekonomi AS. 

Rangkaian rilis data ekonomi untuk pekan ini bakal dipungkasi oleh publikasi data klaim pengangguran mingguan AS pada hari Kamis, yang sekaligus akan menjadi parameter baru untuk membaca situasi pasar tenaga kerja dan prospek suku bunga The Fed.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua