Manfaat Penting Melirik Saham Dividen Saat IHSG Sedang Fluktuatif
JAKARTA – Dinamika pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak fluktuatif belakangan ini kembali memperlihatkan bahwa industri pasar modal mempunyai siklus yang sukar diprediksi.
Di tengah kondisi pasar yang dinamis seperti saat ini, Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, menilai bahwa saham pembagi dividen dapat menjadi alternatif investasi yang lebih ramah bagi para pemodal pemula.
“Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi investor tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga mendapatkan penghasilan tunai secara berkala,” ujar Teddy sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Teddy juga memaparkan bahwa kelompok saham ini mampu menyajikan dividen yield pada rentang 3–6 persen setiap tahunnya, dengan begitu para pemodal tetap memperoleh imbal hasil walau tren harga saham sedang bergerak stagnan.
Melalui skema tersebut, saham pembagi dividen dinilai lebih simpel untuk dipelajari lantaran tidak cuma bertumpu pada pergeseran harga saham semata.
Hal tersebut pada akhirnya turut meringankan tekanan psikologis bagi para pemodal kala berhadapan dengan situasi pasar yang kurang menentu.
Kendati begitu, Teddy memberikan catatan bahwa sifat dan karakteristik dari masing-masing saham pembagi dividen tidaklah identik.
“Ada emiten yang memiliki pembagian dividen relatif stabil karena rekam jejak bisnis yang solid serta arus kas yang sehat. Contohnya seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI di sektor perbankan, serta Indofood CBP Sukses Makmur di sektor konsumsi,” jelas Teddy sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Bertolak belakang dengan hal itu, emiten di bidang komoditas layaknya Bukit Asam (PTBA) serta Indo Tambangraya Megah (ITMG) umumnya mempunyai tren pembagian dividen yang lebih fluktuatif lantaran mengekor siklus harga komoditas dunia.
Di lain sisi, Telkom Indonesia (TLKM) menempati area yang terbilang proporsional dengan rekam jejak dividen yang ajek sekaligus prospek ekspansi usaha untuk jangka panjang.
Teddy pun mengimbau para pemodal pemula agar mempelajari alur serta mekanisme dalam pembagian dividen, mulai dari istilah cum date, ex-date, recording date, hingga payment date.
Cum date sendiri ialah batas hari pamungkas bagi pemodal untuk mengoleksi saham agar tetap memperoleh hak atas dividen yang bakal disalurkan, sementara ketika sudah melewati fase ex-date, para pemodal yang baru masuk dipastikan tidak lagi memiliki hak atas dividen tersebut.
Untuk recording date merupakan waktu pendataan bagi para pemegang saham yang sah dan berhak, lalu payment date merupakan ketetapan waktu penyaluran dana dividen kepada para pemodal.
Momen rilis dividen di tanah air pada umumnya berlangsung pasca diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang mayoritas digelar sepanjang bulan Maret sampai Juni.
Oleh karena itu, rentang waktu April sampai Juli lazimnya menjadi momentum di mana banyak emiten merilis sekaligus menyalurkan dividen mereka.
Teddy memaparkan bahwa para pemodal pada umumnya menerapkan dua metode simpel, yakni buy and hold pada emiten berkualifikasi fundamental bagus serta melakukan investasi kembali (reinvestasi) dana dividen guna menambah porsi kepemilikan saham secara berkala.
“Pendekatan ini membuat investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan jangka pendek IHSG, sehingga lebih fokus pada kepemilikan jangka panjang,” tutur Teddy sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Berdasarkan penuturannya, investasi pada saham dividen bukan berarti melenyapkan segala risiko yang ada, namun dapat mempermudah pemodal dalam menyusun portofolio yang proporsional lewat perpaduan antara potensi keuntungan selisih harga (capital gain) dan pasokan arus kas dari dividen.