Kurs Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 23 Juni 2026
Kurs Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah. (Foto: ANTARA)

JAKARTA – Mata uang garuda diproyeksikan bergerak dinamis dan berakhir melemah pada kisaran Rp17.840 sampai Rp17.890 per dolar AS hari ini, Selasa (22/6/2026). 

Merujuk data TradingView, kurs rupiah ditutup terdepresiasi 0,22% atau terpangkas 39 poin ke level Rp17.843 per dolar AS pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026). 

Di waktu yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) merangkak naik 0,14% menuju posisi 100,98.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah di pasar finansial salah satunya ialah dinamika ketegangan militer di Timur Tengah antara AS-Iran. 

Paling baru, atmosfer pasar sempat goyah usai Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Iran perihal potensi agresi militer susulan, kecuali pihak Iran bersedia mengambil tindakan untuk meredam faksi Hizbullah di Lebanon.

"Namun, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global dan menekan harga minyak mentah," kata Ibrahim, Senin (22/6/2026).

Di samping itu, para utusan tinggi dari AS dan Iran telah merampungkan sesi perdana dari rangkaian dialog mereka di Swiss. 

Pembahasan tersebut melahirkan sebuah nota kesepahaman demi memperpanjang masa gencatan senjata yang telah berjalan dari bulan April untuk durasi 60 hari ke depan.

Selain faktor ketegangan tersebut, sentimen luar negeri juga bersumber dari dinamika situasi finansial di AS. Ibrahim menyebutkan, atensi pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data perekonomian AS untuk kuartal pertama 2026 serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE). 

Para pelaku pasar pun tengah menantikan arah regulasi moneter dari Bank Sentral yang kini dinakhodai oleh pemimpin barunya.

Sementara dari aspek domestik, fluktuasi rupiah bakal dipengaruhi oleh serangkaian data ekonomi makro seperti tingkat inflasi. 

Dalam hal ini, Bank Indonesia (BI) memprediksi kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terkhusus riak kenaikan pada varian Pertamax serta Pertamax Turbo, bakal menyumbang andil pada naiknya inflasi domestik.

Pada sudut lain, hambatan utama bersumber dari efek tular harga minyak serta komoditas internasional ke pasar dalam negeri, yang akrab dikenal dengan istilah imported inflation

Faktor transmisi global ini berimbas langsung pada kelompok harga yang dikontrol pemerintah (administered prices), sebagaimana yang terefleksi dari regulasi koreksi harga BBM nonsubsidi belum lama ini.

Faktor ancaman kedua yang sedang dipantau ialah risiko gangguan cuaca. Ibrahim menguraikan, gejala alam El Nino diprediksi bakal menerpa wilayah Indonesia pada masa akhir Juni hingga kisaran Oktober atau November nanti. 

Kondisi iklim ekstrem tersebut berpeluang memberikan tekanan bagi kelompok harga pangan yang bergejolak (volatile food).

Melihat beragam sentimen yang membayangi laju rupiah tersebut, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah pada perdagangan esok hari bakal kembali ditutup di zona merah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua