BRI Danareksa Sebut Tiga Risiko Jangka Pendek Mereda, IHSG Siap Naik

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 03 Juni 2026
BRI Danareksa Sebut Tiga Risiko Jangka Pendek Mereda, IHSG Siap Naik
Ilustrasi BRI Danareksa Sekuritas (Gambar: Dok/BRI Danareksa Sekuritas)

JAKARTA – Tekanan terhadap pasar keuangan domestik dipandang berpotensi menyusut dalam beberapa minggu ke depan. 

BRI Danareksa Sekuritas mengamati bahwa risiko yang dipicu oleh aliran keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah, serta lonjakan harga minyak dunia mulai memperlihatkan indikasi mereda, walaupun terdapat dua risiko struktural yang masih menghantui.

Melalui laporan riset yang dipublikasikan pada Selasa (2/6/2026), analis BRI Danareksa memaparkan bahwa rentetan tekanan tersebut bersumber dari keluarnya dana asing pasca-rebalancing MSCI, pelemahan mata uang rupiah, lonjakan harga minyak dunia akibat dinamika geopolitik, risiko rating utang negara, hingga ketidakpastian regulasi.

Merujuk pandangan BRI Danareksa, tekanan dari aksi penyesuaian indeks MSCI pada dasarnya telah memasuki tahapan akhir usai diterapkannya perubahan komposisi indeks pada 29 Mei. 

Pihak broker menggarisbawahi bahwa aksi jual pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar telah melampaui estimasi agresif mereka, sehingga mayoritas tekanan teknikal diprediksi telah diserap oleh pasar.

Risiko berikutnya dipicu oleh pelemahan rupiah yang saat ini masih tertahan di rentang Rp17.700 - Rp17.800-an per dolar AS, walaupun Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). 

Kendati demikian, BRI Danareksa menilai koreksi nilai tukar tersebut lebih banyak didorong oleh faktor musiman, khususnya tingginya permintaan valas untuk keperluan distribusi dividen serta musim ibadah haji pada triwulan II.

Secara historis, tekanan musiman tersebut cenderung mulai melandai saat memasuki triwulan III, sehingga membuka ruang perbaikan dalam kurun waktu empat hingga enam minggu mendatang. 

Di lain sisi, premi risiko yang dipicu oleh lonjakan harga minyak global serta friksi geopolitik juga dinilai mulai memperlihatkan sinyal-sinyal mereda.

BRI Danareksa mendata bahwa harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sempat menyentuh level USD117 per barel pada bulan April, berada jauh di atas posisi rata-rata sepanjang tahun berjalan yakni USD88 per barel. 

Namun, seandainya proses diplomasi damai terus bergulir, kecemasan pelaku pasar atas dampak konflik berpeluang perlahan memudar.

Di sudut lain, dua faktor risiko berikutnya masih menjadi tugas besar yang perlu diselesaikan. BRI Danareksa menguraikan bahwa lembaga S&P tetap mempertahankan peringkat BBB dengan prospek stabil pada April lalu, akan tetapi Moody's dan Fitch masih memposisikan Indonesia dalam prospek negatif. 

Oleh sebab itu, agenda evaluasi oleh S&P pada Juli 2026 menjadi salah satu momentum krusial yang bakal dipantau ketat oleh investor.

Risiko penutup berkaitan dengan ketidakpastian kebijakan yang dikategorikan bersifat struktural. Hambatan ini turut memicu perhatian lembaga pemeringkat internasional dan tidak mempunyai jalan keluar instan. 

Menurut evaluasi BRI Danareksa, pemulihan sentimen pasar memerlukan tindakan tata kelola yang lebih nyata dengan jangka waktu pembenahan yang dapat memakan waktu 12 hingga 18 bulan.

Berpatokan pada meredanya tiga risiko jangka pendek serta dua risiko struktural yang masih memerlukan waktu pengerjaan, BRI Danareksa memproyeksikan profil risiko pasar Indonesia mulai menampilkan asimetri yang memikat, di mana peluang penguatan dipandang lebih dominan ketimbang risiko koreksi dalam jangka pendek.

“Asimetrinya menarik, potensi naik lebih besar dari potensi turun,” kata BRI Danareksa sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua