Fundamental PGEO Tetap Kuat di Tengah Sikap Wait and See Investor
- Selasa, 12 Mei 2026
JAKARTA – Proyeksi kinerja PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai tetap solid sepanjang tahun 2026.
Keberhasilan perseroan disokong oleh peningkatan produksi listrik, penerapan efisiensi operasional, serta peluang ekspansi di sektor energi hijau dan perdagangan karbon.
PGEO menargetkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi dari 727 megawatt (MW) saat ini menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028, dan diproyeksikan mencapai 1,8 GW pada 2033.
Baca JugaRekomendasi Beli Saham PANI, PNLF dan RAJA Saat IHSG Turun 0,92 Persen
Upaya ekspansi ini sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang menargetkan tambahan kapasitas listrik nasional sebesar 69,5 GW.
Untuk jangka pendek hingga 2028, fokus pengembangan diarahkan pada proyek berisiko rendah dengan visibilitas tinggi, seperti Hulu Lais Unit 1 dan 2, Ulubelu Binary, Lahendong Low Pressure Binary, serta Lumut Balai Binary.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa fundamental PGEO sejauh ini masih sangat kuat.
Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan PGEO tumbuh 14,83% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 116,56 juta pada kuartal I-2026, naik dari US$ 101,51 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Pada saat yang sama, laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 43,91 juta di akhir kuartal I-2026.
Perolehan ini mencerminkan lonjakan 40,01% yoy dibandingkan realisasi kuartal I-2025 sebesar US$ 31,37 juta.
Nafan berpendapat bahwa pertumbuhan laba bersih dua digit tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan dari hasil produksi listrik yang lebih tinggi.
“Peningkatan pendapatan itu ditopang oleh kenaikan produksi listrik. Di sisi lain, PGEO juga berhasil menjaga efisiensi operasional,” ujar Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan bahwa target kapasitas 1 GW pada 2028 merupakan sentimen positif, meski pengembangan panas bumi menuntut belanja modal (capex) yang besar.
Namun, langkah ini dinilai vital untuk mengoptimalkan produksi dan memperkuat posisi PGEO di sektor energi baru terbarukan (EBT).
Selain ekspansi, Nafan melihat PGEO berpotensi meraih keuntungan dari perdagangan karbon di Indonesia. Implementasi bursa karbon domestik dapat menjadi tambahan pendapatan dan memperlebar margin laba bersih.
“PGEO juga merupakan pemain kunci dalam perdagangan karbon di Indonesia,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sisi makroekonomi, komitmen pemerintah terhadap target net-zero emissions menjadi pendorong bagi PGEO. Dukungan regulasi tarif panas bumi juga diprediksi memberikan nilai tambah bagi perseroan.
Terlebih lagi, sebagian besar kontrak pendapatan PGEO menggunakan denominasi dolar AS, sehingga memberikan perlindungan alami (natural hedging) saat rupiah melemah.
“Mayoritas kontrak PGEO menggunakan mata uang dolar AS sehingga bisa memberikan natural hedging ketika rupiah terdepresiasi,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski fundamental dinilai positif, Nafan merekomendasikan sikap wait and see untuk saham PGEO saat ini berdasarkan analisis teknikal.
Ibtihal
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026











