Rabu, 13 Mei 2026

Saham BUMI Kembali ke Titik Awal Usai Melemah pada Pekan Ini

 Saham BUMI Kembali ke Titik Awal Usai Melemah pada Pekan Ini
Ilustrasi Tambang batu bara BUMI, (Sumber Gaambar: net).

JAKARTA – Saham emiten pertambangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sempat terus berada di zona hijau pada pekan terakhir bulan lalu, tepatnya periode 27-30 April 2026. 

Dari harga Rp 216 pada 24 April (pekan sebelumnya), saham BUMI melompat 11,11% ke level Rp 240 pada penutupan 30 April.

Namun, situasi tersebut berbalik arah pada pekan ini. Saham BUMI tercatat dua kali mengalami pelemahan dan tiga kali stagnan. 

Baca Juga

Harga Emas Dunia Melemah 1,2 Persen Akibat Lonjakan Harga Minyak

Penurunan BUMI pada 4 Mei mencapai -4,17% dan pada 8 Mei kemarin jatuh sebesar -6,09%. Hal ini membuat saham BUMI kembali ke ‘titik awal’ di harga Rp 216, sama dengan posisi penutupan 24 April lalu, sebelum sempat melesat pada 27-30 April.

Salah satu faktor yang memicu pelemahan saham BUMI adalah adanya aksi jual oleh investor asing. Pada 4 Mei, net sell asing tercatat sebesar Rp 114,62 miliar dan pada 8 Mei berjumlah Rp 82,88 miliar. 

Dalam kurun waktu satu pekan terakhir, saham emiten milik Grup Bakrie dan Salim ini membukukan net sell asing total Rp 195,7 miliar.

Kiwoom Sekuritas dalam hasil hitung-hitungannya kemarin menyebutkan bahwa support pertama saham BUMI berada pada level 229 dan support kedua pada 226. Sementara itu, titik stoploss ditetapkan pada level 222.

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyebutkan adanya sentimen negatif di sektor pertambangan. 

Menurut broker efek tersebut, pemerintah kini tengah mengkaji kenaikan royalti minerba melalui revisi PP 19/2025, sekaligus membuka opsi untuk penerapan skema bagi hasil layaknya migas untuk sektor tambang.

Potensi dampak bagi emiten pertambangan, menurut BRIDS, di antaranya adalah margin laba yang berpotensi tertekan akibat meningkatnya beban royalti. 

Selain itu, ketidakpastian regulasi dapat menahan laju ekspansi dan investasi, sehingga sentimen pasar terhadap sektor tambang cenderung negatif dalam jangka pendek.

"Namun di sisi lain, kebijakan ini dapat meningkatkan penerimaan negara di tengah tingginya harga komoditas global," sebut BRIDS dalam ulasannya pada Jumat (8/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ibtihal

Ibtihal

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

IHSG Turun 3 Hari Beruntun, Asing Tetap Borong Saham-Saham Ini

IHSG Turun 3 Hari Beruntun, Asing Tetap Borong Saham-Saham Ini

Wall Street Melemah S&P 500, Nasdaq Terseret Inflasi dan Konflik Iran

Wall Street Melemah S&P 500, Nasdaq Terseret Inflasi dan Konflik Iran

Arah IHSG 13 Mei 2026 & Rekomendasi Saham Usai Perubahan Indeks MSCI

Arah IHSG 13 Mei 2026 & Rekomendasi Saham Usai Perubahan Indeks MSCI

10 Saham Incaran Asing Saat IHSG Melemah ke Level 6.858,9

10 Saham Incaran Asing Saat IHSG Melemah ke Level 6.858,9

BNI Sekuritas Jagokan MEDC hingga HRTA di Tengah Efek MSCI Review

BNI Sekuritas Jagokan MEDC hingga HRTA di Tengah Efek MSCI Review