JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kesiapannya untuk memberikan berbagai insentif yang diperlukan oleh Inpex Masela Ltd. dalam mengkomersialisasikan gas dari proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, namun dengan catatan harga jual harus kompetitif.
Langkah ini dinilai penting agar gas domestik dapat dijual dengan harga lebih terjangkau, sekaligus menjaga keseimbangan antara keuntungan perusahaan dan kepentingan konsumen.
Pentingnya Harga Gas Domestik yang Kompetitif
Baca JugaMenaker Pastikan Pemberian THR Pekerja Tetap Sesuai Regulasi H-7
Purbaya menekankan agar gas yang dijual ke pasar domestik memiliki harga lebih murah. Selama ini, industri pengguna merasakan harga yang tinggi, padahal harga di tingkat hulu tergolong kompetitif. Ia menekankan peran perusahaan penyalur, seperti PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGN), agar tidak mengambil margin terlalu tinggi.
“Hitung saja yang betul, kalau bisa murah. Kalau mahal gara-gara perantara intermediate itu enggak bener juga, naikin harga kasih US$4 masak ke PGN. Ya kan enggak bener. Lu ambil untung di sini, di sana rugi. Padahal harga di sininya [di tingkat hulu] enggak setinggi itu,” ujar Purbaya.
Kemudahan dan Insentif dari SKK Migas
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, memaparkan sejumlah insentif yang dibutuhkan Inpex untuk mengembangkan Blok Masela. Fokus utama adalah aspek komersialisasi gas, termasuk bantuan pemasaran LNG dan perjanjian jual beli gas (PJBG).
Djoko menjelaskan, berdasarkan kondisi permintaan saat ini, harga LNG dari Blok Masela berpotensi berada di bawah keekonomian. Jika hal ini terjadi, insentif menjadi syarat mutlak agar proyek tetap berjalan. Namun, ia enggan merinci detail insentif yang dimaksud.
“Kan tadi [harga LNG dalam] PoD 13,5% [dari harga ICP] ekonomi sekarang apalagi Bapak mintanya murah, ini bisa di bawah 13,5%. Otomatis mereka minta insentif,” kata Djoko.
Selain itu, Inpex meminta agar proyek tidak terdampak perubahan aturan yang berpotensi memengaruhi pembiayaan, termasuk devisa hasil ekspor (DHE), dengan tetap menghormati sanctity of production sharing contract (PSC).
Persyaratan Pembiayaan dan Relaksasi Lokal
Dalam hal pendanaan, Inpex meminta persetujuan Kemenkeu untuk menggunakan sumber pembiayaan tambahan di luar pinjaman bank, serta perubahan skema pendanaan carbon capture storage (CCS) menjadi trustee borrowing scheme (TBS).
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pemenuhan ketersediaan barang dan jasa untuk kegiatan engineering, procurement, construction, and implementation (EPCI). SKK Migas mencatat Inpex membutuhkan relaksasi aturan local content atau tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Mereka juga mengajukan relaksasi penggunaan galangan luar negeri karena galangan lokal terbatas, penyederhanaan proses impor, relaksasi asas cabotage, serta pengurangan barang wajib.
Harga gas pipa dalam plan of development (POD) Blok Masela tercatat US$6,8 per MMBtu, sementara harga LNG yang disetujui sebesar 13,5% dikali harga Indonesian Crude Price (ICP). Inpex telah menandatangani head of agreement (HoA) dengan PT Pupuk Indonesia (Persero), PGN, dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.
Target Produksi dan Investasi Tambahan
Proyek Abadi Masela diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, setara lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang. Selain itu, gas pipa 150 MMSCFD dan 35.000 barel kondensat per hari (BCPD) juga diestimasi tersedia dari proyek ini.
Saat ini, hak partisipasi di Blok Masela dikuasai oleh Inpex Masela Ltd. sebesar 65%. Sebelumnya, 35% sisanya dipegang oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd., namun per Juli 2023, porsi tersebut dialihkan ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela dan Petronas Masela Berhad dengan porsi masing-masing 20% dan 15%.
SKK Migas menargetkan groundbreaking proyek Gas Masela dilakukan akhir Maret 2026 atau sebelum Idulfitri 1447 H. Terdapat tambahan biaya investasi sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp16,34 triliun untuk implementasi fasilitas CCS. Sehingga total biaya proyek meningkat dari US$20,94 miliar menjadi US$21,94 miliar.
Dengan berbagai insentif, relaksasi aturan, dan dukungan finansial, proyek Blok Masela berpotensi menjadi proyek strategis yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berkontribusi signifikan pada pasar LNG internasional.
Celo
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kemenag Siapkan Ditjen Pesantren Tangani Puluhan Ribu Pesantren Nasional
- Rabu, 25 Februari 2026
Kolaborasi Kemendukbangga UNFPA Dorong Penurunan Risiko Kematian Ibu
- Rabu, 25 Februari 2026
Berita Lainnya
AHY Tegaskan Pentingnya Air Bersih untuk Ekspansi Data Center Indonesia 2026
- Rabu, 25 Februari 2026
Dody Hanggodo Pastikan Air Bersih Kembali Mengalir di SPAM Langkahan Aceh Utara
- Rabu, 25 Februari 2026
Sinergi Perumda Paljaya dan PT KAI Hadirkan Pengelolaan Air Limbah Terpadu di Stasiun
- Rabu, 25 Februari 2026
Terpopuler
1.
Baznas RI Tegaskan Zakat Tak Untuk Program MBG
- 25 Februari 2026
2.
Menteri PPPA Dorong Koperasi Jadi Ruang Konsultasi Korban Kekerasan
- 25 Februari 2026
3.
Harga Sembako Jatim Hari Ini 25 Februari 2026 Bawang Merah Naik
- 25 Februari 2026
4.
Pemkab Sidoarjo Siapkan 28 Bus Mudik Gratis Lebaran
- 25 Februari 2026
5.
SMK Go Global Siapkan Lulusan Terampil Bekerja Ke Luar Negeri
- 25 Februari 2026











