Sabtu, 04 April 2026

Harta Karun Hijau: Indonesia Kuasai 40% Cadangan Panas Bumi Dunia, Namun Pemanfaatannya Masih Terganjal

Harta Karun Hijau: Indonesia Kuasai 40% Cadangan Panas Bumi Dunia, Namun Pemanfaatannya Masih Terganjal
Harta Karun Hijau: Indonesia Kuasai 40% Cadangan Panas Bumi Dunia, Namun Pemanfaatannya Masih Terganjal

JAKARTA - Indonesia secara resmi diakui sebagai raksasa energi hijau global dengan memiliki sekitar 40% dari total cadangan panas bumi (geothermal) dunia.

Di tengah desakan transisi energi tahun 2026, potensi luar biasa ini seharusnya menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan "harta karun" ini masih sangat minim, terhambat oleh tembok besar bernama keterbatasan teknologi dan tingginya risiko investasi.

Potensi Raksasa yang Masih "Tidur"

Baca Juga

Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Terbaru 3 April 2026 di Seluruh Indonesia Resmi Tidak Naik

Sebagai negara yang berada di jalur Ring of Fire, Indonesia memiliki ribuan megawatt energi yang tersimpan di bawah permukaan bumi.

Cadangan Melimpah: Total potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 24 Gigawatt (GW), menjadikannya salah satu yang terbesar di planet ini.

Energi Bebas Emisi: Berbeda dengan batu bara, panas bumi adalah sumber energi beban dasar (baseload) yang stabil, tidak tergantung cuaca, dan ramah lingkungan.

Hambatan Utama: Teknologi dan Biaya

Meskipun potensinya jelas, jalan menuju pemanfaatan penuh masih sangat terjal karena beberapa faktor krusial:

Risiko Eksplorasi Tinggi: Kegiatan pengeboran untuk menemukan sumber uap panas memiliki tingkat kegagalan yang tinggi. Jika lubang bor tidak menghasilkan uap sesuai ekspektasi, investor bisa kehilangan jutaan dolar dalam sekejap.

Ketergantungan Teknologi Asing: Hingga tahun 2026, sebagian besar perangkat teknologi tinggi untuk pembangkitan panas bumi masih harus diimpor, yang meningkatkan biaya pembangunan proyek secara signifikan.

Investasi Padat Modal: Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) membutuhkan modal awal yang jauh lebih besar dibandingkan pembangkit fosil, dengan masa pengembalian modal (payback period) yang lebih lama.

Strategi Percepatan di Tahun 2026

Untuk memecahkan kebuntuan ini, diperlukan langkah-langkah luar biasa dari pemerintah dan sektor swasta:

Skema Derisking Pemerintah: Pemerintah perlu memperbanyak program penjaminan atau pendanaan eksplorasi untuk mengurangi beban risiko yang ditanggung investor di tahap awal.

Hilirisasi Teknologi: Mendorong manufaktur komponen PLTP di dalam negeri (TKDN) guna menekan biaya investasi dan menciptakan lapangan kerja baru.

Insentif Harga Jual: Penyesuaian tarif listrik dari panas bumi yang lebih menarik agar sepadan dengan besarnya biaya investasi dan risiko yang diambil oleh pengembang.

Regan

Regan

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

5 Rumah Subsidi Rp150 Jutaan di Karangmalang Sragen, Lokasi Strategis Cocok Hunian Pertama

5 Rumah Subsidi Rp150 Jutaan di Karangmalang Sragen, Lokasi Strategis Cocok Hunian Pertama

5 Rumah Murah di Demak 2026 Paling Dicari, Harga Terjangkau dan Lokasi Dekat Semarang

5 Rumah Murah di Demak 2026 Paling Dicari, Harga Terjangkau dan Lokasi Dekat Semarang

Update Harga Pangan Nasional Terbaru April 2026 Cabai Rawit Tembus Rp119 Ribu dan Daging Ayam Ikut Melonjak Tajam

Update Harga Pangan Nasional Terbaru April 2026 Cabai Rawit Tembus Rp119 Ribu dan Daging Ayam Ikut Melonjak Tajam

Khofifah Pastikan Harga dan Stok Sembako Jawa Timur Stabil

Khofifah Pastikan Harga dan Stok Sembako Jawa Timur Stabil

Harga Pangan Terbaru Cabai Daging Turun Bawang Minyak Beras Naik Hari Ini

Harga Pangan Terbaru Cabai Daging Turun Bawang Minyak Beras Naik Hari Ini