Sejarah Wingko Babat Kue Tradisional Legendaris yang Kini Jadi Ikon Oleh-Oleh Semarang
- Jumat, 06 Februari 2026
JAKARTA - Bagi banyak orang, membeli wingko babat saat berkunjung ke Semarang terasa seperti tradisi yang tidak tertulis. Kue sederhana berbahan kelapa dan tepung ketan ini selalu berhasil membangkitkan nostalgia sekaligus rasa hangat khas jajanan tradisional.
Wingko babat dikenal luas sebagai salah satu oleh-oleh khas Kota Semarang. Kue berbahan dasar tepung ketan dan parutan kelapa ini memiliki cita rasa manis-gurih dengan tekstur legit dan aroma khas kelapa bakar.
Di balik rasanya yang sederhana, wingko babat ternyata menyimpan kisah panjang tentang perjalanan keluarga perantau dan perubahan sosial di masa lalu. Cerita ini menjadikan wingko babat bukan sekadar makanan, melainkan juga bagian dari sejarah budaya kuliner Nusantara.
Baca Juga5 Restoran Chinese Food Paling Populer di Surabaya, Dari Halal hingga Legendaris
Namun di balik popularitasnya, wingko babat menyimpan sejarah panjang yang berawal dari perjalanan perantauan dan dinamika sosial pada masa kolonial hingga pascakemerdekaan. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana makanan sederhana bisa berkembang menjadi ikon daerah yang dikenal luas.
Meski lekat dengan identitas Semarang, sejarah mencatat bahwa wingko babat sejatinya berasal dari Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Jajanan ini telah dibuat sejak 1898 oleh pasangan perantau Tionghoa, Loe Soe Siang dan istrinya, Djoa Kiet Nio, yang menetap di Babat.
Dari tangan merekalah, wingko babat pertama kali dikenal masyarakat setempat sebagai kudapan sederhana berbahan ketan dan kelapa. Resep awal tersebut kemudian diwariskan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Awal Mula Wingko Babat dari Babat hingga Merantau
Pada masa awal pembuatannya, wingko babat belum dikenal luas di luar wilayah Babat, Lamongan. Kue ini hanya menjadi jajanan rumahan yang dijual di lingkungan sekitar tempat tinggal pembuatnya.
Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh generasi kedua, yakni dua anak mereka, Loe Lan Ing dan Loe Lan Hwa. Loe Lan Ing melanjutkan produksi wingko babat di Babat, Lamongan, sementara itu perjalanan berbeda ditempuh oleh Loe Lan Hwa.
Bersama suaminya, The Ek Tjong yang kemudian dikenal sebagai D. Mulyono, serta dua anak mereka, Loe Lan Hwa mengungsi ke Semarang pada 1944 akibat huru-hara yang terjadi setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Perpindahan ini menjadi titik awal perubahan besar dalam perjalanan wingko babat.
Di kota baru tersebut, Loe Lan Hwa mulai membangun kembali usaha keluarganya dengan memproduksi wingko babat. Awalnya, produksi dilakukan secara sederhana dengan peralatan seadanya di rumah.
Menurut jurnal karya Suwarti Dwi Sarwopeni dan Ufi Saraswati dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang yang dimuat dalam Journal of Indonesian History Vol. 10 No. 1 Tahun 2021, pada 1946 Loe Lan Hwa mulai memproduksi wingko babat di Semarang. Awalnya, wingko tersebut dijajakan secara sederhana dari pintu ke pintu dan dititipkan di sebuah kios kecil penjual makanan di Stasiun Tawang.
Cara penjualan yang praktis ini membuat wingko babat mudah dijangkau oleh masyarakat luas. Lokasi Stasiun Tawang yang ramai menjadi jalur penting penyebaran popularitas jajanan tersebut.
Seiring waktu, wingko babat buatan Loe Lan Hwa mulai digemari masyarakat. Lokasi penjualan yang strategis di kawasan stasiun turut mempercepat penyebaran popularitasnya.
Dari situlah wingko babat perlahan dikenal sebagai jajanan khas Semarang. Identitas baru ini melekat kuat hingga generasi berikutnya, meskipun asal-usulnya tetap berasal dari Babat, Lamongan.
Perkembangan Merek dan Identitas Wingko Babat
Pada mulanya, wingko babat produksi Loe Lan Hwa hanya dibungkus kertas polos tanpa merek. Namun karena banyak pembeli menanyakan identitas produknya, muncullah merek “Cap Spoor”.
Nama dan logo tersebut terinspirasi dari gambar sampul buku saran di gerbong restorasi atau kereta makan. Inspirasi ini berkaitan dengan pekerjaan D. Mulyono yang bekerja di bagian restorasi kereta api.
Seiring perkembangan bahasa, merek Cap Spoor kemudian diubah menjadi “Cap Kereta Api”. Namun karena banyak produsen lain menggunakan simbol serupa, Loe Lan Hwa menambahkan nama D. Mulyono d/h Loe Lan Siang pada kemasan.
Penambahan nama ini bertujuan membedakan produknya dari wingko babat lainnya yang mulai bermunculan. Pada 1958, merek wingko babat tersebut resmi didaftarkan sebagai merek dagang.
Sejak saat itu, produksi wingko babat di Semarang semakin menjamur dan dijual secara lebih luas. Kue ini tidak lagi hanya dijajakan dari pintu ke pintu, tetapi mulai masuk ke toko-toko dan kios oleh-oleh.
Keberadaan merek yang jelas membantu memperkuat posisi wingko babat di tengah persaingan jajanan tradisional. Produk ini pun semakin dikenal oleh masyarakat luar daerah yang berkunjung ke Semarang.
Perkembangan kota Semarang pada 1960-an turut mendorong popularitas wingko babat. Ketika pusat perdagangan bergeser ke kawasan Simpang Lima dan Jalan Pandanaran mulai dipenuhi toko oleh-oleh, wingko babat semakin mengukuhkan posisinya sebagai buah tangan khas kota ini.
Kehadiran wingko babat di jalur wisata utama membuat jajanan ini mudah dijumpai oleh wisatawan. Dari sinilah citra wingko babat sebagai ikon kuliner Semarang semakin menguat.
Hingga kini, meskipun berasal dari Babat, Lamongan, wingko babat justru lebih dikenal sebagai ikon kuliner Semarang. Popularitas ini menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas kota tersebut.
Resep Wingko Babat yang Bisa Dibuat di Rumah
Selain dikenal sebagai oleh-oleh, wingko babat juga bisa dibuat sendiri di rumah dengan bahan sederhana. Proses pembuatannya relatif mudah dan tidak memerlukan peralatan khusus.
Bahan-bahan yang diperlukan meliputi 125 gram tepung ketan dan 1 buah kelapa setengah tua yang diparut memanjang. Tambahkan pula ½ sendok teh garam dan ½ sendok teh vanili bubuk untuk memperkaya rasa.
Siapkan 100 ml air hangat dan 100 gram gula pasir sebagai bahan pemanis. Kombinasi ini akan membantu membentuk tekstur adonan yang padat namun tetap lembut saat dipanggang.
Cara membuatnya dimulai dengan mencampurkan tepung ketan, kelapa parut, garam, dan vanili bubuk. Aduk hingga semua bahan tercampur rata dan tidak menggumpal.
Campur air hangat dengan gula pasir, lalu aduk hingga gula larut sepenuhnya. Larutan ini akan menjadi pemanis sekaligus pengikat adonan.
Tuangkan larutan gula ke dalam adonan kering, lalu uleni hingga adonan padat dan bisa dibentuk. Pastikan adonan tidak terlalu lembek agar mudah dipipihkan.
Bagi adonan menjadi 20 bagian, lalu bentuk bulat pipih. Bentuk ini memudahkan proses pemanggangan dan menghasilkan wingko dengan ukuran yang seragam.
Tata adonan di atas loyang yang dialasi daun pisang. Penggunaan daun pisang membantu memberikan aroma khas yang menjadi ciri wingko babat.
Panggang hingga matang dan berwarna kecokelatan, lalu angkat. Wingko babat siap disajikan dalam kondisi hangat maupun setelah dingin.
Tekstur wingko babat yang matang biasanya bagian luar sedikit kering sementara bagian dalam tetap legit. Aroma kelapa bakar yang muncul saat dipanggang menjadi daya tarik tersendiri.
Rasa manis-gurih yang dihasilkan membuat wingko babat cocok disantap sebagai camilan maupun suguhan untuk tamu. Kue ini juga bisa disimpan dalam waktu singkat sebagai bekal perjalanan.
Keunggulan wingko babat terletak pada kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya. Hal ini membuatnya mudah diterima oleh berbagai kalangan sejak dahulu hingga sekarang.
Dari jajanan rumahan di Babat hingga menjadi ikon kuliner Semarang, wingko babat membuktikan bahwa makanan sederhana bisa memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Setiap gigitan wingko seakan membawa cerita masa lalu yang masih terasa hingga hari ini.
Wingko babat bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang identitas, perpindahan, dan adaptasi budaya. Kisahnya mencerminkan bagaimana kuliner mampu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Keberadaan wingko babat di berbagai toko oleh-oleh menunjukkan betapa kuatnya posisi jajanan ini di hati masyarakat. Ia tidak hanya menjadi simbol kota, tetapi juga warisan kuliner yang terus lestari.
Meski zaman terus berubah, wingko babat tetap mempertahankan bentuk dan cita rasanya yang khas. Hal ini membuktikan bahwa tradisi kuliner mampu bertahan di tengah arus modernisasi.
Dengan mengenal sejarahnya, menikmati wingko babat terasa lebih bermakna. Setiap potong kue seakan membawa cerita panjang tentang perjalanan keluarga, kota, dan budaya.
Wingko babat pun menjadi bukti bahwa makanan sederhana bisa menjadi identitas kolektif sebuah daerah. Dari Babat hingga Semarang, kue ini terus hidup dalam ingatan dan selera masyarakat.
Hingga kini, wingko babat tetap menjadi pilihan favorit bagi siapa saja yang ingin membawa pulang rasa khas Semarang. Popularitasnya tidak hanya bertahan, tetapi juga terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan resep yang mudah dan bahan yang sederhana, wingko babat bisa dinikmati siapa saja di rumah. Kue ini menjadi pengingat bahwa kekayaan kuliner Nusantara sering kali lahir dari kesederhanaan.
Zahra
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
5 Roti Bakar Legendaris di Bandung yang Tetap Eksis Puluhan Tahun dan Selalu Diburu
- Jumat, 06 Februari 2026
Daftar Nasi Goreng Enak di Jakarta Favorit Warga Lokal dan Kuliner Malam
- Jumat, 06 Februari 2026
Rekomendasi 11 Takjil Kekinian untuk Buka Puasa yang Lagi Viral dan Menggugah Selera
- Jumat, 06 Februari 2026
Resep Tandoori Chicken Autentik Khas India dengan Aroma Rempah Kuat dan Tekstur Lembut
- Jumat, 06 Februari 2026
Resep Nasi Telur Mentai Ala Jepang yang Praktis Gurih Creamy dan Bikin Ketagihan
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Daftar Nasi Goreng Enak di Jakarta Favorit Warga Lokal dan Kuliner Malam
- Jumat, 06 Februari 2026
Rekomendasi 11 Takjil Kekinian untuk Buka Puasa yang Lagi Viral dan Menggugah Selera
- Jumat, 06 Februari 2026
Resep Tandoori Chicken Autentik Khas India dengan Aroma Rempah Kuat dan Tekstur Lembut
- Jumat, 06 Februari 2026
Resep Nasi Telur Mentai Ala Jepang yang Praktis Gurih Creamy dan Bikin Ketagihan
- Jumat, 06 Februari 2026








