Rupiah Dibuka Melemah Hari Ini Sentimen Domestik Dinilai Mampu Menopang Penguatan
- Kamis, 29 Januari 2026
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan hari ini mencerminkan dinamika pasar yang masih diliputi ketidakpastian global.
Meski dibuka di zona merah, sejumlah pelaku pasar menilai pelemahan rupiah bersifat sementara dan berpotensi berbalik arah. Faktor domestik dinilai masih memberikan dukungan yang cukup kuat di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini membuat rupiah tetap berada dalam radar investor sepanjang perdagangan hari ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat AS pada Kamis 29 Januari 2026 dibuka melemah ke posisi Rp16.775 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi di tengah kontraksi yang juga dialami oleh dolar AS di pasar global. Situasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan regional.
Baca JugaStrategi Konservatif ADPI untuk Investasi Dana Pensiun Tumbuh
Rupiah Melemah Pada Awal Perdagangan
Mengutip data Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat melemah sebesar 53 poin atau setara 0,32 persen menuju level Rp16.775 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi sejak awal perdagangan seiring sikap pelaku pasar yang masih berhati hati. Investor cenderung menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global serta perkembangan geopolitik yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru mengalami depresiasi sebesar 0,18 persen ke posisi 96,27. Kondisi ini menandakan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya dipicu oleh penguatan dolar AS. Faktor regional dan domestik turut memengaruhi pergerakan mata uang Garuda pada awal sesi perdagangan.
Pergerakan rupiah yang cenderung melemah ini masih berada dalam rentang yang dinilai wajar oleh sebagian analis. Fluktuasi harian dianggap sebagai respons alami pasar terhadap berbagai sentimen yang berkembang. Dengan volatilitas global yang masih tinggi, pergerakan rupiah diperkirakan tetap dinamis sepanjang hari.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga mayoritas mata uang Asia lainnya. Rupee India tercatat melemah sebesar 0,07 persen, sementara yuan China terkoreksi tipis 0,02 persen. Pergerakan ini mencerminkan kehati hatian investor terhadap aset mata uang kawasan Asia di tengah ketidakpastian global.
Selanjutnya, peso Filipina dan ringgit Malaysia masing masing mengalami kontraksi sebesar 0,18 persen dan 0,29 persen. Pelemahan serentak ini menunjukkan bahwa tekanan regional cukup merata. Investor cenderung mengurangi eksposur pada mata uang negara berkembang sambil menunggu kepastian arah ekonomi global.
Meski demikian, pelemahan mata uang Asia masih tergolong terkendali. Tidak terlihat adanya tekanan ekstrem yang mengindikasikan arus keluar modal besar besaran. Hal ini memberikan ruang bagi mata uang regional, termasuk rupiah, untuk berpotensi menguat kembali apabila sentimen positif muncul.
Proyeksi Rupiah Berpeluang Menguat
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa rupiah berpeluang ditutup menguat pada perdagangan hari ini. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp16.670 hingga Rp16.730 per dolar AS. Menurutnya, sentimen domestik masih menjadi faktor utama yang menopang prospek penguatan rupiah.
Pasar dinilai merespons positif keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang melanjutkan empat program stimulus strategis pada 2026. Kebijakan tersebut dianggap mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasional. Dukungan fiskal yang konsisten dinilai meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Ibrahim menilai langkah pemerintah ini memberikan sinyal kuat bahwa kebijakan pro pertumbuhan tetap menjadi prioritas. Dengan demikian, rupiah berpeluang mendapatkan sentimen positif dari pelaku pasar yang melihat fundamental domestik masih solid.
Stimulus Fiskal Jadi Penopang Domestik
Adapun empat program stimulus strategis yang dilanjutkan mencakup PPh Final 0,5 persen bagi UMKM hingga 2029. Selain itu, pemerintah juga mempertahankan kebijakan PPh 21 Ditanggung Pemerintah untuk sektor pariwisata dan industri padat karya. Stimulus ini bertujuan menjaga momentum pemulihan ekonomi dan memperkuat sektor yang menyerap banyak tenaga kerja.
Pemerintah juga memberikan diskon iuran JKK dan JKM bagi peserta Bukan Penerima Upah. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meringankan beban pelaku usaha sekaligus meningkatkan perlindungan sosial. Hingga akhir 2025, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN dinilai berhasil menjalankan peran sebagai shock absorber di tengah gejolak global.
Meskipun defisit anggaran tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto, belanja negara sebesar Rp3.451,4 triliun difokuskan pada program yang berdampak langsung ke masyarakat. Program seperti Makanan Bergizi Gratis dan pembinaan Koperasi Unit Desa menjadi contoh kebijakan yang dinilai efektif menopang perekonomian.
Kepercayaan Investor Dan Tekanan Global
Ibrahim menambahkan bahwa kepercayaan investor terhadap tata kelola fiskal tercermin dari penurunan yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun. Yield tercatat turun ke level 6,41 persen, jauh lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2024 yang sempat melampaui 7 persen. Penurunan ini menandakan meningkatnya minat investor terhadap instrumen keuangan domestik.
Dari sisi eksternal, indeks dolar AS masih dibayangi retorika perdagangan agresif Presiden AS Donald Trump. Ancaman pengenaan tarif 25 persen terhadap barang dari Korea Selatan memicu kekhawatiran akan eskalasi perang dagang. Situasi ini menambah tekanan pada pasar keuangan global.
“Di saat yang sama, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS lainnya semakin meningkat, dengan para anggota parlemen menghadapi tenggat waktu pendanaan pada 30 Januari. Dengan latar belakang ini, logam mulia terus menarik aliran safe haven,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis.
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Selain itu, investor global juga tengah menantikan pengumuman suku bunga Federal Reserve. Keputusan The Fed dijadwalkan diumumkan pada Kamis dini hari WIB. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Keputusan tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar keuangan global dalam jangka pendek. Apabila sesuai ekspektasi, volatilitas di pasar mata uang diharapkan mereda. Dalam kondisi tersebut, rupiah berpeluang memanfaatkan sentimen positif domestik untuk bergerak menguat hingga penutupan perdagangan hari ini.
Mazroh Atul Jannah
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
OJK Minta Industri Asuransi Jiwa Perkuat Manajemen Risiko Klaim Kesehatan
- Kamis, 29 Januari 2026
Berita Lainnya
OJK Minta Industri Asuransi Jiwa Perkuat Manajemen Risiko Klaim Kesehatan
- Kamis, 29 Januari 2026
Terpopuler
1.
Update Terbaru Harga Emas Perhiasan Kamis 29 Januari 2026
- 29 Januari 2026
2.
Harga Emas Antam Naik Tajam Perdagangan Kamis 29 Januari 2026
- 29 Januari 2026
3.
Pergerakan Harga Perak Antam Meningkat Kamis 29 Januari 2026
- 29 Januari 2026









