Kamis, 29 Januari 2026

Strategi BEI Menghadapi Potensi Penurunan Status Indonesia di MSCI 2026

Strategi BEI Menghadapi Potensi Penurunan Status Indonesia di MSCI 2026
Strategi BEI Menghadapi Potensi Penurunan Status Indonesia di MSCI 2026

JAKARTA - Pasar saham Indonesia tengah berada di bawah tekanan menyusul keputusan MSCI membekukan evaluasi indeks hingga Mei 2026. Keputusan ini memicu kekhawatiran bahwa Indonesia bisa turun dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

MSCI menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) juga ditunda sementara.

Dampak Keputusan MSCI terhadap Pasar Saham Domestik

Baca Juga

Strategi Konservatif ADPI untuk Investasi Dana Pensiun Tumbuh

Kebijakan MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Tujuannya adalah memitigasi risiko turnover indeks dan menjaga investabilitas pasar Indonesia.

Menurut pengumuman MSCI, langkah ini sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi free float yang lebih bermakna. Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, Indonesia berpotensi sejajar dengan Vietnam dan Filipina di kategori Frontier Market.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyatakan bahwa pihaknya masih berdiskusi intensif dengan MSCI. Tujuannya adalah memahami lebih detail kebutuhan dan ekspektasi lembaga pemeringkat global tersebut.

Sejak Desember 2025, BEI telah melakukan komunikasi langsung dengan MSCI di New York, Amerika Serikat. Pertemuan tersebut membahas perubahan metodologi penghitungan free float saham yang menjadi perhatian utama.

Upaya BEI Menjaga Transparansi Free Float Saham

BEI menegaskan pihaknya telah berupaya memenuhi kebutuhan transparansi free float emiten. Namun, keputusan MSCI menunjukkan masih ada perbedaan persepsi terkait kecukupan data yang disediakan self regulatory organization (SRO) di Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan keterbukaan informasi free float telah lama diterapkan. Data ini rutin diinput ke dalam sistem Bursa dan wajib dilaporkan setiap bulan serta saat ada perubahan struktur kepemilikan saham.

Selain itu, data free float dipublikasikan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Data ini menjadi salah satu rujukan penting MSCI dalam menentukan status pasar saham Indonesia.

Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, menambahkan bahwa seluruh data free float dapat diakses di laman resmi BEI. Data tersebut juga dilaporkan secara rutin kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Saat ini, data mencakup sembilan jenis investor, mulai dari individu, reksa dana, hingga investor korporasi. Informasi ini termasuk investor lokal maupun asing dengan kepemilikan di bawah dan di atas 5%.

Yang diperhatikan MSCI adalah jumlah lembar saham, bukan jumlah pemegang saham. Hal ini memastikan fokus penilaian pada likuiditas dan distribusi saham yang sebenarnya.

Ke depan, BEI bersama KSEI berencana memperinci data investor lebih detail. Di sisi lain, fungsi pengawasan tetap dijalankan, termasuk pemberian sanksi jika terdapat ketidaksesuaian data yang dipublikasikan emiten.

Irvan menegaskan bahwa data yang disajikan BEI benar dan akurat. Tantangan saat ini adalah menyesuaikan kebutuhan MSCI dengan data yang tersedia, dan hal ini sedang diperbaiki secara bertahap.

Langkah-langkah yang dilakukan BEI diharapkan mampu menstabilkan pasar saham domestik. Fokus utama adalah menjaga kepercayaan investor dan menghindari dampak negatif terhadap aliran modal asing.

Selain itu, transparansi free float yang lebih baik juga akan meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia. Hal ini menjadi syarat penting agar MSCI mempertahankan status Emerging Market.

Jika strategi BEI berhasil, Indonesia bisa mempertahankan posisinya di MSCI Emerging Market. Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan kesiapan pasar modal domestik menghadapi standar internasional.

Penyesuaian data free float dan komunikasi intensif dengan MSCI menjadi kunci. BEI menegaskan komitmennya agar seluruh emiten dan investor mematuhi tata kelola pasar yang transparan dan akuntabel.

Dengan begitu, potensi penurunan status menjadi Frontier Market dapat dihindari. Pasar saham domestik pun tetap menarik bagi investor global.

Selain itu, transparansi yang meningkat memberikan efek positif jangka panjang bagi likuiditas pasar. Investor asing dan lokal akan lebih percaya pada integritas pasar modal Indonesia.

BEI juga memantau perkembangan secara rutin untuk memastikan langkah yang diambil sesuai kebutuhan global. Perbaikan data free float akan terus dioptimalkan hingga evaluasi MSCI pada Mei 2026.

Peningkatan kualitas pasar saham ini diharapkan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Stabilitas dan kepercayaan investor menjadi indikator penting keberhasilan strategi BEI.

Dengan komitmen dan strategi yang tepat, Indonesia berpeluang mempertahankan status Emerging Market. Hal ini penting bagi penguatan pasar modal domestik dan menarik aliran investasi asing di masa depan.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

BCA dan Singapore Airlines Gelar Travel Fair dengan Promo Menarik

BCA dan Singapore Airlines Gelar Travel Fair dengan Promo Menarik

BCA Siapkan Dana Rp 5 Triliun untuk Buyback Saham

BCA Siapkan Dana Rp 5 Triliun untuk Buyback Saham

OJK Minta Industri Asuransi Jiwa Perkuat Manajemen Risiko Klaim Kesehatan

OJK Minta Industri Asuransi Jiwa Perkuat Manajemen Risiko Klaim Kesehatan

Update Terbaru Harga Emas Perhiasan Kamis 29 Januari 2026

Update Terbaru Harga Emas Perhiasan Kamis 29 Januari 2026

Harga Emas Antam Naik Tajam Perdagangan Kamis 29 Januari 2026

Harga Emas Antam Naik Tajam Perdagangan Kamis 29 Januari 2026