Dolar AS Menguat, Harga Emas Melemah dari Puncak Dua Pekan

Ilustrasi investasi emas batangan logam mulia kadar 24 karat dengan grafik harga emas global. (Foto: Shutterstock)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 07 Juli 2026 | 14:17:57 WIB

NEW YORK — Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (6/7/2026) setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. 

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mendorong aksi ambil untung (profit taking), meski pelemahan emas tertahan oleh meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. 

Harga emas spot ditutup turun 0,25% menjadi US$ 4.165,13 per ons troi setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 22 Juni. 

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus justru ditutup melonjak 1,22% ke US$ 4.176,05 per ons troi.

Analis Pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan, penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas pada awal pekan. 

"Indeks dolar AS bergerak lebih tinggi hari ini dan itu menjadi sentimen negatif bagi emas dalam jangka pendek," ujar Wyckoff dikutip dari Reuters.

Dolar AS menguat sekitar 0,1%, sehingga harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar, yang pada akhirnya menekan permintaan.

Di sisi lain, pelemahan harga emas masih terbatas setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni melambat signifikan. 

Selain itu, revisi ke bawah terhadap data payroll dua bulan sebelumnya semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena tidak memberikan imbal hasil (yield).

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada risalah rapat kebijakan terakhir The Fed yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (8/7/2026) waktu AS. 

Dokumen tersebut diyakini akan memberikan petunjuk baru mengenai arah suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

"Pelaku pasar akan mencermati risalah rapat The Fed untuk mencari sinyal mengenai arah kebijakan moneter. Jika ada kejutan dalam risalah tersebut, pasar kemungkinan akan bergerak cukup signifikan," kata Wyckoff.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 57% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September mendatang.

Sementara itu, JPMorgan menilai permintaan emas dari sejumlah sektor utama kemungkinan tidak akan sekuat perkiraan sebelumnya. 

Hal tersebut diperkirakan membatasi kenaikan harga emas sepanjang tahun ini. Bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas rata-rata mencapai sekitar US$ 4.300 per ons troi pada kuartal III-2026 dan meningkat ke US$ 4.500 per ons troi pada kuartal IV-2026.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,59% menjadi US$ 62,05 per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 23 Juni. 

Harga platinum melemah 0,49% menjadi US$ 1.634,36 per ons, sedangkan paladium terkoreksi 0,3% menjadi US$ 1.272,75 per ons.

Reporter: Ibtihal