Jumlah Pelanggan Turun, Analis Tetap Rekomendasi Beli Saham ISAT
JAKARTA - Prospek pergerakan saham PT Indosat Tbk (ISAT) dianggap tetap prospektif hingga penghujung tahun 2026 walaupun volume pelanggan prabayar didapati mengalami penurunan.
Peningkatan pemakaian data serta ekspansi pada lini bisnis kecerdasan buatan (AI) diprediksi tetap bertindak selaku pendorong utama bagi performa finansial emiten di sektor telekomunikasi tersebut.
Sebagai informasi, Indosat membukukan penyusutan jumlah pelanggan prabayar ke posisi 92 juta pada kuartal I-2026 dari angka 94 juta pada periode serupa di tahun sebelumnya.
Di sisi lain, volume konsumen pascabayar tampak jalan di tempat pada posisi 2 juta pengguna.
Meski begitu, pihak manajemen mengonfirmasi bahwa basis pelanggan korporasi sebetulnya masih berada dalam kondisi yang kokoh, terlihat dari pola pengguna aktif harian, pengguna aktif bulanan, hingga tingkat kunjungan aplikasi bulanan yang terus berada di zona sehat.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, mengemukakan bahwa penyusutan pada pos pelanggan prabayar tersebut sejatinya memperlihatkan iklim kompetisi di sektor industri telekomunikasi yang tetap ketat, khususnya pada kelompok pengguna yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.
“Namun, penurunan tersebut belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental apabila pelanggan yang tersisa memiliki kualitas yang lebih baik dan menghasilkan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) yang lebih tinggi,” ujar Arinda, Kamis (2/7/2026).
Walau demikian, Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan memberikan estimasi bahwa basis pelanggan Indosat bakal sanggup bertahan stabil pada kisaran 93,7 juta, dibarengi pertumbuhan trafik data di level 8,3% YoY menuju posisi 19.120 petabyte (PB).
Memasuki kuartal I 2026, realisasi trafik data dilaporkan telah menyentuh kisaran 25,7% dari target tahunan.
Tidak hanya itu, Steven turut memproyeksikan komponen data yield bertahan stabil pada angka Rp 2,44 per MB, sedangkan variabel ARPU merangkak naik secara terukur menjadi Rp 44.900 per pelanggan.
“Potensi kenaikan kinerja juga berasal dari bisnis home broadband (HBB). Tingkat penetrasi yang masih rendah diperkirakan mendorong pertumbuhan pelanggan HBB sebesar 6,6% YoY,” ujar Steven dalam riset 5 Mei 2026.
Bukan hanya itu, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Christopher Rusli lewat publikasi risetnya tanggal 8 Mei 2026 mencatat bahwa ISAT kian giat memantapkan posisinya sebagai AI Native Telco lewat jalinan sinergi bersama NVIDIA serta Google Gemini.
Pola kemitraan tersebut mencakup penyediaan bundel layanan data berbasis AI yang saling terintegrasi, hingga beraneka produk AI komersial seperti Sahabat-AI dan SATSPAM.
Dari sudut pandang lain, lini usaha AI Neocloud dipandang terus mempunyai skala ekonomi yang kian menjanjikan. Nilai pendapatan dari kontrak yang sudah diamankan diestimasikan menyentuh angka berkisar US$ 170 juta untuk kurun waktu tiga tahun mendatang.
Pihak manajemen pun mengklaim bahwa lini bisnis tersebut telah menyumbang dampak positif bagi laba per saham (EPS) serta arus kas bebas (Free Cash Flow/FCF) terhitung sejak periode awal pengoperasiannya.
Selain itu, agenda monetisasi FiberCo diperkirakan masih berjalan seturut target dan diproyeksikan tuntas pada kuartal III 2026. Strategi ini dipandang berpeluang besar melahirkan nilai tambah sekaligus memperkuat fleksibilitas pada neraca keuangan emiten.
Arinda mengestimasikan bahwa prospek untuk ISAT hingga momentum penutupan 2026 terpantau masih cukup cerah, ditopang oleh pertumbuhan konsumsi data, optimalisasi pendapatan dari layanan digital, serta efisiensi anggaran operasional pascamerger yang hingga kini masih terus berlanjut.
Sepanjang perusahaan sanggup mempertahankan tren kenaikan omzet data dan memelihara tingkat profitabilitas lewat skema kontrol biaya, performa finansial ISAT diprediksi tetap bertumbuh kendati ekspansi pada aspek kuantitas pelanggan tidak dijalankan secara agresif.
Raihan finansial ISAT pada paruh pertama 2026 dilaporkan sukses tumbuh dua digit. ISAT berhasil meraup total pendapatan menyentuh Rp 15,22 triliun.
Capaian ini melesat sebesar 12,10% secara tahunan atau YoY dari posisi semula senilai Rp 13,57 triliun.
Tren ini diikuti oleh perolehan keuntungan periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ISAT yang menembus Rp 1,49 triliun selama kurun waktu Januari-Maret 2026.
Angka tersebut melompat kisaran 13,75% secara tahunan dari performa sebelumnya yang sebesar Rp 1,31 triliun.
Bicara dari aspek katalis, Arinda mencermati bahwa lonjakan kebutuhan akan layanan data tetap bertindak selaku motor penggerak utama bagi ekspansi bisnis Indosat.
Di samping itu, tingkat penetrasi jaringan 4G dan 5G, pembuatan layanan inovatif berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta digital, hingga peluang penghematan belanja modal (capital expenditure/capex) pasca proses integrasi infrastruktur jaringan kian matang, juga berpeluang besar memperkokoh kinerja finansial korporasi.
Di sudut lain, dirinya memberikan peringatan bahwa masih terdapat rentetan sentimen berisiko yang patut diawasi.
Perang tarif di sektor industri telekomunikasi diprediksi tetap sengit, sementara fluktuasi penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyimpan risiko memicu pembengkakan pengeluaran operasional akibat sebagian pengadaan alat jaringan masih bertumpu pada aktivitas impor.
Bukan hanya itu, penurunan daya beli masyarakat juga berisiko menghambat laju pertumbuhan konsumsi atas layanan telekomunikasi.
Ditinjau dari faktor makro, arah kebijakan suku bunga internasional serta iklim ekonomi dalam negeri ikut bertindak selaku instrumen yang dapat memengaruhi tingkat belanja pengguna maupun keputusan investasi dari internal perusahaan.
Berdasarkan kalkulasi proyeksi dari Christopher, performa keuangan ISAT diperkirakan masih akan mencatatkan tren pertumbuhan pada tahun 2026.
Omzet ISAT di tahun 2026 dipatok sanggup menyentuh level Rp 59,04 triliun, atau merangkak naik kisaran 4,5% YoY bila dikomparasikan dengan perolehan sepanjang tahun 2025 yang bertengger di angka Rp 56,52 triliun.
Selaras dengan performa itu, laba bersih diprediksi ikut terangkat ke posisi Rp 5,98 triliun pada tahun 2026, alias mencatatkan pertumbuhan sekitar 8,6% YoY dari capaian laba bersih tahun 2025 yang senilai Rp 5,51 triliun.
Dengan mempertimbangkan bermacam indikator katalis serta faktor risiko tersebut, Christopher bersama Steven kompak menyematkan rekomendasi beli untuk saham ISAT dengan patokan target harga berada di level Rp 2.500 per saham.
Sementara itu, Arinda turut menyarankan para investor untuk melakukan aksi buy saham ISAT dengan acuan target harga berada di posisi Rp 2.800 per saham.