Pasar Wait and See Dialog AS-Iran, Harga Minyak Bergerak Liar
NEW YORK - Nilai minyak dunia bergerak tidak menentu pada Selasa (30/6/2026), seiring perhatian para pelaku pasar tertuju pada potensi dimulainya kembali dialog antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, Qatar.
Kendati sempat menguat tipis, harga minyak diproyeksikan tetap menutup periode Juni dengan kemerosotan yang cukup dalam.
Dilansir dari CNBC, Rabu (1/7/2026), pasar energi masih terus memantau dinamika diplomasi antara Washington dan Teheran yang dinilai bakal memengaruhi proyeksi ketersediaan pasokan minyak global.
Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus menyusut 0,2 persen ke angka 72,99 dollar AS per barrel. Dalam perhitungan bulanan, kontrak tersebut merosot berkisar 19 dollar AS atau 20 persen jika disandingkan dengan posisi penutupan pada 29 Mei.
Sementara itu, kontrak minyak Brent untuk pengiriman September melemah 0,7 persen menjadi 73,36 dollar AS per barrel.
Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus mengalami koreksi 1,3 persen ke posisi 69,80 dollar AS per barel. Kontrak ini diperkirakan turun berkisar 16 dollar AS atau 19 persen dibandingkan posisi akhir bulan lalu.
Dinamika pergerakan harga minyak dunia disetir oleh ketidakjelasan terkait agenda pertemuan antara AS dan Iran di Doha. Presiden AS, Donald Trump pada Senin (29/6/2026) mengumumkan lewat media sosial bahwa dialog kedua negara bakal digelar di ibu kota Qatar pada Selasa (30/6/2026).
Trump mengklaim pihak Teheran telah "meminta pertemuan" usai kedua negara sempat saling melepaskan gempuran pada akhir pekan lalu.
Akan tetapi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyanggah adanya jadwal diskusi dalam beberapa waktu ke depan. Pihak Iran pun menggarisbawahi bahwa lawatan delegasi teknis negara mereka ke Qatar pada pekan ini sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan ketibaan pejabat AS.
Di lain pihak, utusan khusus AS Jared Kushner dan Steve Witkoff dilaporkan telah mendarat di Doha pada Selasa. Juru bicara pemerintah Qatar mengonfirmasi keduanya dijadwalkan untuk menjumpai para mediator, bukan guna melangsungkan negosiasi secara langsung dengan perwakilan Iran.
Simpang siur pernyataan dari kedua belah pihak ini mengindikasikan bahwa komitmen damai temporer yang disepakati awal bulan ini masih sangat rentan bergeser.
AS dan Iran sebelumnya telah menyepakati memorandum saling pengertian yang memuat 14 poin pada 17 Juni 2026 guna menyetop sementara pertikaian yang sempat menghambat jalur distribusi minyak melewati Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan rute pelayaran krusial yang membentang di antara Oman dan Iran. Sekitar 20 persen aktivitas niaga minyak dunia melewati kawasan perairan sempit tersebut, sehingga setiap hambatan di zona ini dipastikan memicu dampak masif terhadap suplai energi global.
Walau begitu, sejumlah pengamat menganggap pasar terlampau terburu-buru menilai gencatan senjata temporer tersebut sebagai jalan keluar jangka panjang.
"Pergerakan harga dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan pasar yang memperlakukan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran seolah-olah merupakan kesepakatan permanen. Jelas bukan demikian, dan seperti yang telah kami lihat dalam empat bulan terakhir, situasinya dapat berubah sangat cepat," kata para analis ING dalam laporan risetnya.
Mereka mengimbuhkan bahwa proses untuk menembus kesepakatan gencatan senjata sementara saja menyedot waktu yang tidak sebentar.
Oleh sebab itu, ekspektasi untuk membuahkan kesepakatan permanen yang sekaligus membereskan perkara program nuklir Iran dalam kurun waktu 60 hari dipandang terlampau optimistis.
"Selalu ada kemungkinan gencatan senjata diperpanjang. Namun, itu hanya akan menunda penyelesaian masalah ke waktu berikutnya," tulis analis ING.